HOME ECONOMY & BUSINESS FOREX COMMODITY INDEX & OPTIONS IDX STOCK  INVESTMENT PORTFOLIO BONDS & MUTUAL PROPERTY
 BANKING & INSURANCE COLUMN

Krisis BBM dan Peranan Perbankan Mendobraknya
Jumat, 20 April 2012 21:15 WIB

Alfred Pakasi
CEO Vibiz Consulting

 

Alokasi Dana Bank: Pertimbangan 'Risk and Return'
Rabu, 07 Maret 2012 13.10 WIB
 

Investment Grade, Peluang dan Risikonya Bagi Perbankan
Jumat, 13 Januari 2012 08.00 WIB
 

Krisis Global, Risiko Kredit dan Antisipasi Perbankan (2)
Kamis, 01 Desember 2011 16.00 WIB
 

Krisis Global, Risiko Kredit dan Antisipasi Perbankan (Bagian 1)
Rabu, 23 November 2011 00.10 WIB
 

Industri Perbankan 2011, antara Panen Laba dan Menjaga Risiko
Senin, 01 Agustus 2011 15:50 WIB
 

Fokus Pada Kepentingan Nasabah
Rabu, 11 Mei 2011 16.30 WIB

Darmin Nasution
Gubernur Bank Indonesia

 

SE BI No. 12/35/DPNP Tanggal 23 Desember 2010 : Dampaknya Pada Bank dan Produk Bancassurance
Jumat, 18 Februari 2011 18.50 WIB

Dina Boenanto
Managing Partner Credit, Treasury,Operation, And Risk Management Division

 

Biaya Bulanan, Sisi Bank dan Sisi Konsumen
Jumat, 15 Oktober 2010 10:33 WIB

Muh Dwi Sumanto


 

Peluang Perbankan Indonesia Menyambut Asia Pasific Community
Kamis, 16 September 2010 19:00 WIB
 

<< PREVPAGE 1NEXT >>
 
Indeks Berita


Alfred Pakasi
CEO Vibiz Consulting
Krisis BBM dan Peranan Perbankan Mendobraknya
Jumat, 20 April 2012 21:15 WIB

(Vibiznews – Banking) - BBM kembali menjadi isyu yang hangat dipergunjingkan. Berbagai demonstrasi yang melelahkan, perdebatan antar partai politik yang menguras energi itu sendiri, adu konsep pemikiran dan asas legal, belum lagi segala caci maki telah terjadi karena isyu BBM. Komponen subsidi untuk BBM dalam APBN disebutkan mencapai angka di atas Rp. 100 triliun untuk tahun 2012 ini, dengan target sekitar Rp. 129.7 triliun. Angka ini kelihatannya berkemungkinan membengkak, sehubungan dengan makin banyak kendaraan pribadi yang malah beralih menggunakan BBM subsidi karena disparitas harga yang besar, yaitu sekitar 2x lipat.

Bila harga minyak dunia melonjak lagi, diperkirakan subsidi BBM ini bisa mencaplok porsi APBN sampai Rp. 165 triliun sendiri, dengan komponen penggunaan oleh mobil pribadi sekitar Rp. 77.9 triliun. Angka-angka raksasa yang mengerikan tertera di depan karena borosnya subsidi BBM. Sementara itu jelas bahwa cadangan energi fosil indonesia terus menyusut. Saat ini Indonesia mengalami defisit energi sebesar 150 juta barel per tahun yang menempatkan Indonesia sebagai negara importir minyak sejak beberapa tahun belakangan.

Agen Energi Internasional (IEA) bahkan mencatat bahwa Indonesia merupakan negara terbesar kesembilan yang mengeluarkan subsidi bahan bakar fosil. Indonesia duduk sederet dengan negara-negara kaya penghasil minyak bumi terbesar dunia. Dalam data yang dikutip dari IEA, pada 2010, Indonesia menghabiskan subsidi bahan bakar minyak hingga US$15.9 miliar, sedikit di bawah Venezuela dan Uni Emirat Arab yang masing-masing memberi subsidi US$20 miliar dan US$18.2 miliar.

Panggilan Mendesak: Energi Alternatif

Isyu BBM ini agaknya akan terus memanas seperti ini sampai kapan pun bila tidak ada penerobosan yang dilakukan, oleh pemerintah maupun masyarakat umum. Hari ini mungkin gejolak mereda. Tetapi kedepannya siapa yang jamin bahwa gejolak ekonomi dan politik negeri ini tidak akan memanas lagi karena yang satu itu: BBM. Fakta ini harus diterima bahwa Indonesia tidak kaya akan bahan bakar fosil, tetapi kaya justru dengan bahan bakar alternatif yang sayangnya kurang diprioritaskan selama ini.

Oleh karenanya merupakan kondisi yang sangat mendesak dan genting untuk diupayakannya pengembangan energi alternatif. Brazil adalah salah satu contoh klasik Negara yang berhasil mengembangkan BBM alternatif ethanol dan melepaskan dirinya dari ketergantungan bahan bakar fosil. Secara perekonomian, Negara ini nyaris bangkrut karena membengkaknya pembiayaan import minyak bumi pada tahun 1970’an. Sejak itu Brazil secara bertahap tetapi serius berusaha mengembangkan industry ethanol dengan bahan baku yang berlimpah dari Negara tersebut: tebu. Pada tahun 2010 yang lalu akhirnya Brazil sudah menghentikan sama sekali impor minyak dari luar negeri karena kebutuhan BBM dapat dipenuhi dari kombinasi produksi minyak dalam negeri dan produksi ethanol.

Indonesia jelas sangat berlimpah dengan sejumlah sumber daya alam: matahari, angin, gas alam, panas bumi, laut, serta sejumlah komoditas nabati. Begitu berlimpah. Kalau Brazil bisa berhasil, harusnya juga sudah waktunya untuk pemerintah lebih serius menggarap program energi alternatif dari bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel. Pada tahun 2005, pemerintah memang pernah menawarkan tiga gagasan diversifikasi energi, yaitu briket batu bara, substitusi minyak tanah dengan gas untuk rumah tangga, hingga gagasan mengembangkan biofuel (biodiesel dan bioetanol).

Untuk mewujudkan kemandirian energi, pengembangan bahan bakar nabati (BBN), terutama biodiesel dan bioetanol sebagai alternatif energi, diharapkan dapat membuat Indonesia terlepas dari posisinya sebagai net importer BBM. Dengan memproduksi biodiesel dan bioetanol sebagai alternatif energi bagi konsumsi dalam negeri bahkan dapat membuat Indonesia mengalami surplus minyak bumi. Apalagi bila ditambah dengan pengembangan industry pada pendayagunaan air, gas dan panas bumi yang sudah mulai bergulir dewasa ini.

Indonesia disebut-sebut memiliki memiliki sumber energi panas bumi terbesar di dunia yaitu 29 Gigawatt. Demikian pula, Indonesia tercatat sebagai penghasil gas terbesar di dunia yang mampu memasok sekitar 20% dari kebutuhan gas dunia. Belum lagi dihitung akan sumber energi terbarukan lainnya seperti bio massa, gelombang laut, dan lain-lain.

Kelihatannya untuk waktu mendekat ini yang segera dilakukan pemerintah adalah program diversifikasi energi di sektor kelistrikan, dengan semakin mengurangi penggunaan energi fosil, terutama BBM, sebagai sumber pembangkit. Saat ini sedang dibangun sejumlah pembangkit listrik yang menggunakan gas dan geothermal. Sedangkan di sektor transportasi, mulai tahun 2012 ini pemerintah akan menggiatkan pengalihan atau konversi BBM ke gas.

Perbankan Terpanggil

Pengembangan industri energi alternatif tentunya tidak lepas dari kebutuhan pembiayaannya, di mana untuk ini perbankan harusnya dapat berperan secara significant. Umumnya ini akan melibatkan sejumlah pendanaan yang besar mengingat untuk industri ini unsur skala ekonomis dominan. Semakin besar proyek, maka semakin ekonomis dan layak dibiayai proyek ini. Potensi profit-nya harusnya cukup menarik dikarenakan demand produknya tidak akan pernah surut oleh populasi Indonesia yang besar serta pertumbuhan ekonomi yang konsisten tinggi.

Masalahnya sejumlah proyek industri ini dapat dikategorikan berisiko tinggi karena membutuhkan biaya besar, proses pembangunan yang panjang dan kemungkinan pay-back period yang relatif lama. Kondisi ini membuat sejumlah bank komersial agak enggan untuk terlibat di dalamnya. Belum lagi untuk industri demikian memerlukan keahlian analisis kredit yang lebih spesialis sehingga tidak banyak bank yang dapat menyediakan sumber daya manusia seperti itu secara efisien.

Namun sejumlah bank terpantau juga mulai melibatkan untuk membiayai, di antaranya, PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro). Ini merupakan pembiayaan yang relative tidak terlalu besar, tentunya dengan syarat harus ekonomis juga. Ada pula sampai bank asing terpantau tertarik terjun dalam pembiayaan pembangunan proyek stasiun kompresi gas dan pengisiannya. Ini tentunya merupakan keterlibatan langsung terhadap industri BBG.

Pionir Perbankan

Sejumlah proyek energi ini jelas membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Mengenai aspek risiko tinggi sebenarnya dapat disebar dengan melakukan model pembiayaan sindikasi atau club deal sehingga risiko pembiayaan lebih terdiversifikasi. Dalam hal ini, peranan bank-bank BUMN diharapkan dapat memimpin di muka untuk tampil sebagai salah satu agen pembaruan dalam pembangunan ekonomi. Ini bukan hanya sosial, tapi unsur komersialnya juga menjanjikan, dengan sedikit lebih jangka panjang. Untuk beberapa proyek bahkan payback-nya bisa relatif cepat juga, setara dengan pembiayaan komersial lainnya.

Untuk masa mendatang, proyek sejenis ini justru akan lebih menjanjikan. Sekali masyarakat sudah konversi penggunaan BBM ke BBG, atau semakin sadar akan pemakaian ethanol dan bio-diesel, maka itu suatu kekuatan permintaan yang semakin bergulir dengan tingkat permintaan makin besar. Lihat saja contohnya pada manisnya proyek-proyek infrastruktur di jalan tol sekarang ini. Bank-bank yang sudah lebih dulu terjun kepada pembiayaan proyek-proyek energi aternatif nantinya akan menjadi yang paling memperoleh keuntungan secara financial. Sementara itu, secara reputasi akan dikenal sebagai “bank pionir” yang telah sukses melakukan penerobosan dan menyelamatkan perekonomian dari kondisi krisis BBM, dulunya.

Siapa yang mau memulainya?

(AP/AP/VBN)


Bookmark and Share

Tidak Ada Column Terkait







ADVERTISING
Vibiznews menyajikan berita terkini tentang investasi dan ekonomi 24 jam sehari untuk Forex, Commodity, Index, Options, saham-saham Bursa Efek Indonesia dan investasi lainnya properti, asuransi, perbankan, reksadana, produk keuangan lainnya); dilengkapi dengan "Breaking News", rekomendasi investasi harian (pagi dan siang), serta folder Wealth Plan.
ADVERTISING | OUR LINK | GLOSSARY | DISCLAIMER | PRIVACY POLICY | ABOUT US
Copyright © 2006-2012 Vibiz Media, Powered by: Jafam-ICT.com
Partners: lepmida.com - vibizlearning.com - vibizconsulting.com - vibizmedia.com - beritadaerah.com - management.co.id - visijobs.com - infobelanja.co.id - infotekno.co.id
 
1