(Vibiznews - Bonds & Mutual)- Obligasi kian diminati sebagai instrumen investasi?
Obligasi terbukti kian diminati sebagai instrumen yang dipergunakan untuk merestrukturisasi pembiayaan di tengah pasang surut perekonomian global. Hal ini sejalan dengan proyeksi yang dilakukan oleh J.P. Morgan Indonesia yang menyebutkan obligasi akan menjadi produk investasi favorit di Indonesia bagi pemodal sepanjang 2012.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Bapepam-LK sampai 24 Februari 2012 dapat terlihat dari berbagai sektor usaha di Indonesia yang telah memberikan Pernyataan efektif penawaran obligasi rupiah (Rp triliun) sbb:
Sektor Nilai
Pertanian (perkebunan) 5.31 Pertambangan 6 Industri dasar & kimia 10.36 Aneka industri 3.26 Industri barang konsumsi 13.74 Properti & realestat 9.23 Infrastruktur, utilitas & transportasi 51.12 Keuangan 154.31 Perdagangan, jasa & investasi 14.28
Total 267.61
Sumber : Bapepam-LK
Dari tabel di atas maka sektor keuangan merupakan porsi terbesar 154.31 ( 57%) dari total pernyataan efektif penawaran obligasi dari berbagai sektor industri.
Beberapa BUMN merencanakan penerbitan obligasi
Sejalan dengan hal tersebut di atas beberapa BUMN juga merencanakan penerbitan obligasi untuk membiayai kebutuhan dana sepanjang tahun 2012 misalnya PT Pertamina siap menerbitkan kembali surat utang (obligasi) berdenominasi dollar AS guna membiayai kebutuhan dana sepanjang tahun ini. Sejumlah kalangan memprediksi BUMN sektor energi ini kana menerbitkan obligasi global senilai US$ 1 miliar hingga US$ 2 miliar yang akan dibantu oleh sejumlah sekuritas internasional seperti Barclays Capital atau Citibank.
Selain obligasi berdenominasi dollar AS, surat utang berbasis rupiah juga menjadi incaran, di antaranya adalah PT Jasa Marga Tbk, yang berencana menerbitkan surat utang sekitar Rp 1,5 triliun – Rp 1.75 triliun untuk melunasi utang jatuh tempo pada tahun depan. Direktur Keuangan Jasa Marga Reynaldi Hermansjah memperkirakan penerbitan obligasi itu akan dilakukan sekaligus untuk melunasi utang yang jatuh tempo pada Oktober 2013. Selain itu , sejumlah BUMN juga berencana menerbitkan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) seperti PLN, Pegadaian, Perum Perumnas, PT Sarana Multigriya Financial, dan sejumlah BUMN perkebunan.
Penempatan perbankan pada SBN meningkat
Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber, posisi Februari 2012 penempatan perbankan pada SBN mencapai Rp 283,33 triliun naik dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 220,92 triliun. Kenaikan tersebut terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Apabila dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu Rp265,03 triliun, jumlahnya naik Rp 18 triliun. Hal ini membuktikan bahwa obligasi makin diminati sebagai instrumen investasi bagi pemodal.
Perusahaan multi-finance juga menerbitkan obligasi
Beberapa perusahaan multi-finance juga merencanakan penerbitan obligasi seperti BCA Finance, perusahaan multifinance anak perusahaan PT Bank Central Asia Tbk, akan menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap pertama sebesar Rp 1 triliun dari total Rp 3.5 triliun dalam rentang waktu 2 tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK)M,Noor Rachman. Beliau mengatakan ada 4 perusahaan multifinance yang mengajukan pendaftaran penawaran umum berkelanjutan (PUB), salah satunya adalah BCA Finance.
Dari informasi tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa obligasi saat ini merupakan instrumen investasi yang diperhitungkan baik untuk merestrukturisasi pembiayaan maupun sebagai alat investasi oleh berbagai kalangan dalam era perekonomian global
Mengapa obligasi menjadi instrumen investasi yang diminati saat ini?
Obligasi adalah surat pengakuan utang atas pinjaman yang diterima emiten (penerbit obligasi) dari pemodal (investor/yang membeli obligasi). Jangka waktu obligasi telah ditentukan (umumnya lima sampai dengan sepuluh tahun) dan disertai dengan pemberian imbalan bunga yang jumlah dan saat pembayarannya juga telah ditetapkan dalam perjanjian.
Pertama, Pemegang obligasi tidak memiliki hak suara dalam perusahaan emiten, namun memiliki hak atas pembayaran bunga secara penuh sebelum para pemegang saham menerima pembagian dividen. Oleh karena itu, obligasi termasuk fixed income securities karena memberikan pendapatan yang relatif stabil dan aman bagi pemegangnya. Penerbit obligasi akan membayar bunga atau juga disebut kupon kepada investor pada waktu yang sudah ditentukan, misalnya setiap tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun.
Kedua, harga pasar obligasi ditentukan oleh suku bunga yang berlaku umum, yaitu suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) . Jika suku bunga SBI menunjukkan kecenderungan untuk naik, maka harga pasar obligasi akan mengalami penurunan, namun jika suku bunga SBI menunjukkan kecenderungan menurun, harga pasar obligasi akan mengalami kenaikan. Nah saat ini, suku bunga SBI cenderung menurun, saat ini suku bunga BI menjadi 5.75% sehingga bagi penerbit obligasi, inilah saatnya menerbitkan obligasi karena harga obligasi akan cenderung meningkat.
Ketiga, pada saat harga obligasi cenderung meningkat maka kupon atau imbal hasil cenderung lebih rendah, hal ini menguntungkan bagi perusahaan penerbit obligasi karena dengan menerbitkan obligasi maka perusahaan korporasi dapat menerima dananya saat ini dari masyarakat yang membeli obligasi tersebut dan dengan memberikan kupon yang relatif lebih rendah dan umumnya nilai kupon tetap sama sampai jatuh tempo, perusahaan penerbit obligasi dapat menikmati dana yang diperolehnya untuk mendanai pengembangan perusahaan saat ini dan baru mengembalikan dana tersebut lima sampai 10 tahun mendatang tergantung dari tenor/lamanya jatuh tempo obligasi tersebut. Dibandingkan jika perusahaan tersebut meminjam dari bank, dimana cenderung bunga pinjaman dari bank lebih tinggi dan berfluktuatif dibandingkan dengan bunga/kupon obligasi.
Nah, tunggu apalagi jika anda memiliki perusahaan korporasi dan saat ini membutuhkan dana untuk pengembangan perusahaan maupun untuk merestrukturisasi pendanaan yang ada, maka penerbitan obligasi merupakan salah satu alternatif yang patut diperhitungkan saat ini.
(Bernhard Sumbayak/BS/vbn)
Column Terkait :
|