Salah satu media massa menjelaskan bahwa pasar mulai tenang setelah imbal hasil yield obligasi Italia berjangka waktu 10 tahun turun di bawah 7%, pasca pembelian massif obligasi Italia oleh Bank Sentral Eropa. Langkah lainnya yang dianggap berhasil menenangkan pasar adalah disetujuinya paket penghematan anggaran oleh Senat Italia. Ini dipercaya menjadi jalan pembuka bagi persetujuan akhir paket UU anggaran baru dan pembaentukan pemerintahan darurat untuk menggantikan PM Silvio Berlusconi. Ahli ekonomi Italia Mario Monti disebut-sebut menjadi kandidat terkuat menggantikan Berlusconi. Langkah senat Italia juga memberi sinyal bahwa Negara komit melakukan penghematan dan reformasi yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian, mengendalikan hutang Negara yang sangat besar, serta mengikuti tuntutan Negara mitra Eropa agar secepatnya memulihkan kepercayaan pasar keuangan.
Selain Italia, Yunani juga memperlihatkan gejala yang positip dimana dilaporkan bahwa PM Yunani yang baru Lucas Papademos membentuk kabinet baru yang dinamai kabinet krisis. Kabinet ini secepatnya menggelar langkah-langkah penghematan dan menenangkan gejolak politik agar negeri para Dewa ini tidak masuk ke dalam jurang kebangkrutan yang bisa mengakibatkan yunani keluar dari zona euro. Papademos berjuang keras agar dana bailout untuk Yunani sebesar 130 milar euro dapat dicairkan melalui pemenuhan persyaratan yang di tentukan oleh IMF, Bank Sentral Eropa dan Uni Eropa.
Kondisi ini menyebabkan tekanan bagi dolar AS dan sebaliknya memberikan dorongan naik yang kuat bagi Euro. Sumber media di Melbourne mengatakan bahwa emas harganya terangkat sejalan dengan pelemahan dolar AS setelah penggantian pemimpin di Yunani dan Italia. Namun apakah memang demikian adanya ? apakah memang inilah saatnya Euro mengalami kenaikan lagi terhadap dolar AS ? Apalagi dengan keadaan perekonomian AS yang sedang mengalami perlambatan dan diragukan recoverynya, sampai timbul pergerakan “ Occupy Wall Street “ yang mengungkapkan kenapa rakyat AS harus bergerak, antara lain bahwa sistem keuangan mereka sudah hancur, lebih dari 25 juta warga AS kini menganggur, lebih dari 50 juta jiwa tanpa jaminan kesehatan, dan mungkin 100 jutaan dalam kemiskinan. Apakah semua ini menunjukkan kita harus beralih dari memasang posisi long terhadap USD menjadi posisi long terhadap EUR?
Kenyataannya malah sebaliknya, inilah saatnya tetap memegang posisi long terhadap USD dibandingkan dengan EUR. Kenapa?.
Karena zona euro yang dibentuk berdasarkan lintas ideology terbukti gagal. Krisis Italia masuk kategori too big to fail. Italia adalah kekuatan ekonomi ke tiga di zona euro, sesudah Jerman dan Perancis. Selain itu Italia merupakan penerbit obligasi terbesar ketiga di dunia. Saat ini imbal hasil ( yield ) obligasi Italia adalah 7,5%, termasuk sangat tinggi untuk ukuran negara maju. Namau masih jauh lebih rendah dari dari pada Yunani yang diatas 22%. Paul Krugman dosen Princeton University dan pemenang hadiah nobel ekonomi 2008, secara provokatif menulis dalam kolom akhir pekannya di The New York Times bahwa era Euro sudah berakhir. Krugman meramalkan sesudah Italia menderita gagal bayar, maka prospek Euro sudah tidak cerah lagi. Era euro sudah berakhir.
Salah satu problem utamanya adalah ketika suatu Negara euro mengalami krisis mereka tidak memiliki kebebasan untuk mencetak uang. Soal ini tidak terjadi dalam kasus krisis Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat bisa mencetak uang untuk merelaksasi likuiditas yang berimbas pada pelemahan kurs dolar AS. Hal ini diperlukan agar produk-produk AS lebih kompetitif. Keleluasaan seperti ini tidak dimiliki oleh Negara-negara Euro. Sebagai contoh, Yunani sebenarnya juga memerlukan mata uang sendiri yang terdepresiasi agar lebih kompetitif. Tapi Yunani tidak bisa seenaknya mencetak uang sendiri, masalahnya mereka sudah menggunakan euro. Sepanjang Yunani dan Italia masih menggunakan mata uang euro, mereka akan sulit menyelesaikan krisis ekonominya.
Mereka praktis menggantungkan diri pada dana talangan ( bail –out ) oleh Negara-negara Zona euro. Tapi masalahnya seberapa besar mereka mampu memberi talangan?. Soalnya, krisis tidak hanya terjadi di dua Negara tersebut, tetapi juga Portugal dan Spanyol. Biaya talangan akan menjadi sangat besar kalau semua Negara bermasalah ini dibantu habis-habisan. Apakah Negara-negara zona euro mampu melakukannya ? sangat disangsikan mereka sanggup melakukannya.
Lain halnya dengan Amerika Serikat sewaktu krisis tahun 2008 dan 2009. Tindakan Federal Reserve pada waktu itu melakukan misinya dengan baik melalui program Quantitative Easing dengan terus mencetak uang untuk membantu berjalannya roda perekonomian menuju pemulihan. Hal ini memulihkan kepercayaan dalam system keuangan global.
Sebagai akibatnya saat ini data-data ekonomi Amerika Serikat juga mulai menunjukkan perbaikan. Ini adalah indicator bahwa kondisi ekonomi negeri Paman Sam ini mulai pulih dari krisis pada tahun 2008. Perusahaan – perusahaan Amerika Serikat saat ini sedang membeli kembali saham-saham dengan kecepatan yang tidak ada pada empat tahun yang lalu. Banyaknya perputaran uang yang beredar, tingkat suku bunga yang sangat rendah, dan penilaian-penilaian keuangan yang hampir – hampir terlalu baik untuk bisa terjadi merupakan godaan yang sangat besar yang tidak tertahankan untuk membeli kembali saham – saham tersebut.
Jadi sebaliknya dari Euro akan Berjaya terhadap USD, akan terjadi sebaliknya, paling tidak untuk jangka pendek ini. Tapi apakah keadaan euro sebegitu buruk tanpa harapan seperti yang di ramalkan oleh Paul Krugman ? Tidak ada seorangpun yang tahu tentang masa depan, kemungkinan negera-negara yang tergabung dalam Uni Eropa keluar dari kesulitan yang dialami saat ini dan bangkit kembali bisa saja terjadi. Semua tergantung kepada pemerintahan masing-masing, dan kepada kerjasama yang flexible diantara sesama Negara anggota.
Column Terkait :
|