| |
| PROPERTY COLUMN |
Manajemen Aset Berbasis Pengetahuan (Bagian 2) |
| Kamis, 17 Mei 2012 20:40 WIB |  Ir. Doli D. Siregar, MSc. FRICS, SCV
| | |
Kebijakan Baru Sebagai Awal Kebijakan Kepemilikan Warga Asing di Indonesia |
| Selasa, 08 Mei 2012 11:00 WIB |  Juanita Batubara Director Property Business Academy
| | |
Benarkah Kita Menuju BUBBLE PROPERTY? |
| Minggu, 22 April 2012 02.00 WIB | | |
Manajemen Aset Berbasis Pengetahuan (Bagian 1) |
| Jumat, 13 April 2012 23:54 WIB |  Ir. Doli D. Siregar, MSc. FRICS, SCV
| | |
Larisnya Apartemen dan Kondominium Menengah Keatas |
| Senin, 09 April 2012 21:45 WIB |  Juanita Batubara Director Property Business Academy
| | |
Asset Management dan Asset Optimalisation, Cara Menyehatkan BUMN (I) |
| Senin, 06 Februari 2012 14:25 WIB | | |
Daya Tarik Property di Indonesia dan Ancamannya |
| Selasa, 03 Januari 2012 08:00 WIB | | |
Master Plan? Seberapa Pentingkah ? |
| Jumat, 02 Desember 2011 20:30 WIB | | |
Mengantisipasi Risiko Bisnis Konstruksi di Indonesia |
| Sabtu, 19 November 2011 20.00 WIB | | |
Cakupan Study Kelayakan Sebagai Tools Dalam Investasi |
| Senin, 19 September 2011 22:00 WIB | | |
| | |
|
Indeks Berita
|
|

Juanita Batubara Director Property Business Academy |
Mengantisipasi Risiko Bisnis Konstruksi di Indonesia |
Sabtu, 19 November 2011 20.00 WIB
|
(Vibiznews-Property) Pergerakkan Pembangunan di Indonesia
Jika kita perhatikan perkembangan pembangunan di Indonesia, nyata terlihat percepatan pembangunan khususnya selama dekade belakangan ini. Pemerintah saat ini sedang berusaha mempercepat momentum pertumbuhan dengan mengadakan MP3EI, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Ini diharapkan dapat meningkatkan gairah ekonomi sektor industri, dengan fokus pada infrastruktur daerah untuk pembangunan ekonomi, antara lain :
• Pembangunan jalan jalan tol
• Pembangunan pelabuhan baik udara maupun laut
• Transportasi antar kota
• Jaringan listrik dan telekomunikasi dan lain-lain
Gairah dan semangat membangun tidak saja ada pada rencana pemerintah, namun juga datang dari pihak swasta dan para investor yang melihat terbuka peluang peluang investasi diseluruh wilayah Indonesia baik dari industri :
• Perbankan
• Keuangan
• Pertambangan
• Properti
• Jasa transportasi
• Telekomunikasi
• Sektor industri lainnya
Daya Tarik Pembangunan di Indonesia
Program pembangunan yang telah berjalan selama ini ditambah dengan MP3I juga menarik para investor dunia yang memasukkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi disamping China, India dan Vietnam. Hal ini tampak dari sejumlah pertemuan bilateral dalam KTT ASEAN ke 19 di Bali, 17 November 2011, dan perhatian Presiden Obama akan Indonesia sebagai target eksportnya.
Ditunjang dengan stabilitas ekonomi Indonesia yang dinilai aman untuk berinvestasi dan dengan upah tenaga kerja yang relatif masih murah serta suku bunga BI rate 6%, inflasi 4% Indonesia telah diperhitungkan masih menguntungkan dan menarik sebagai negara tujuan untuk berinvestasi.
Dampak Percepatan Pembangunan di Indonesia
Dengan lajunya pembangunan dan tingginya minat investor untuk menanamkan dananya di Indonesia membuat banyak aliran dana masuk, sehingga timbul pemikiran akan dampak yang dapat terjadi. Pemikiran seperti ini baik dicermati karena dalam setiap langkah investasi akan ada risiko mengikutinya, baik risiko tersebut termasuk dalam kelompok “high risk”, ”medium risk” atau “low risk”.
Hal ini pantas menjadi perhatian, mengingat dewasa ini krisis global sedang melanda khususnya kawasan Eropa, sementara Amerika juga sulit diharapkan jadi motor pertumbuhan ekonomi dunia oleh karena lambatnya pemulihan ekonomi negeri Paman Sam ini.
Sementara ini dampak positif dari laju pertumbuhan ekonomi lanjutan adalah terciptanya lapangan pekerjaan baru di berbagai sektor sehingga meningkatkan kesejahteraan bangsa. Hal ini tidak lepas dari kemajuan fasilitas dan infrastruktur yang akan menunjang sektor riil seperti :
• Transportasi antar daerah/kota
• Air minum
• Sanitasi dan persampahan,
• Listrik dan gas dan lain-lain
Dengan meningkatnya kecepatan pembangunan infrastruktur yang berdampak pada peningkatan produktivitas sektor riil, diperkirakan oleh banyak para ahli, akan dapat menghindari Indonesia dari ancaman krisis global yang melanda negara negara adidaya, Amerika serta Eropa dan yang juga telah melanda sejumlah negara di Asia seperti Jepang dan China. Dan hal seperti ini harus menjadi perhatian besar pemerintah.
Adapun besaran porsi investasi infrastruktur terhadap Pendapatan Bruto Daerah (PDB) di Indonesia pada kwartal III 2011 sekitar 6,15 %, yang mana sebelum krisis moneter tahun 1997 sempat mencapai 7%. Sementara di China dan India rasio investasi infrastruktur terhadapa PDB nya sudah mencapai 7-8 %, bahkan berpotensi mencpai 8-9 %, dan cenderung bisa mempertahankan kelanjutannya.
Dasar pertimbangan bahwa dalam 2-3 tahun mendatang investasi infrastruktur akan meningkat didukung oleh program pemerintah yang akan melibatkan BUMN dan swasta dalam melaksanakan program MP3EI.
Antisipasi Risiko Aliran Dana Investasi.
Krisis ekonomi yang melanda Amerika dan Eropa mengakibatkan dana investasi banyak mengalir ke negara negara Asia yang tingkat pertumbuhan ekonominya masih bertahan dan memiliki tingkat konsumsi tinggi .
Dalam hal ini pilihan investasi diantara negara kawasan Asia ada persaingan, yaitu negara mana yang menjadi pilihan investor global, antara India, Vietnam, Indonesia, Filipin, Thailand, Korea, Malaysia, Singapur dan China. Rating antar negara Asia ini sering berubah-ubah, di mana Indonesia sempat mengalami penurun rating dibandingkan negara Asia lain. Namun dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dalam 2 tahun terakhir yang menunjukkan stabilitas dengan tingkat suku bunga yang mampu bertahan pada tingkat 6% menjadikan Indonesia kembali mempunyai rating menarik untuk tujuan investasi. Dimana disamping stabilitas ekonomi terdapat lahan industri yang masih banyak bisa digarap antara lain pertambangan dan perkebunan.
Dampak positif dari arus masuk aliran dana investasi jika ditindaklanjuti dengan percepatan pembangunan fisik infrastruktur dan sektor riil lainnya diharapkan akan dapat memperkecil risiko krisis ekonomi yang dikhawatirkan. Demikian dikatakan para pengamat dan ahli ekonomi.
Hal lain yang dibutuhkan untuk antisipasi risiko bisnis konstruksi adalah kesiapan dari sumber daya manusia. Pembangunan infrastruktur yang condong pada pembanguan konstruksi akan membutuhkan tenaga kerja ahli dan terdidik. Masuknya infrastruktur asing akan membuat diperlukannya banyak tenaga kerja konstruksi dan membuka banyak peluang lapangan kerja baru. Hal ini membuat tingkat konsumsi meningkat dan berefek domino pada meluasnya lapangan pekerjaan.
Dalam menghadapi gejolak krisis finansial global dewasa ini, pembangunan dan pengembangan sektor konstruksi nampaknya semakin dibutuhkan untuk penguatan ekonomi domestik yang merupakan pertahanan kuat terhadap dampak gejolak, disamping akan mendorong lagi pertumbuhan ekonomi. Ini merupakan harapan kita semua.
(Juanita Batubara/NS/VBN-PBA)
Tidak Ada Column Terkait |
|
|
|
Vibiznews menyajikan berita terkini tentang investasi dan ekonomi 24 jam sehari untuk Forex, Commodity, Index, Options, saham-saham Bursa Efek Indonesia dan investasi lainnya properti, asuransi, perbankan, reksadana, produk keuangan lainnya); dilengkapi dengan "Breaking News", rekomendasi investasi harian (pagi dan siang), serta folder Wealth Plan.
|
| | | | |
Copyright © 2006-2012 Vibiz Media, Powered by: Partners: - - - - - - - -
|
|
|