HOME FOREX COMMODITY INDEX & OPTIONS IDX STOCK  INVESTMENT PORTFOLIO BONDS & MUTUAL BANKING & INSURANCE PROPERTY
 BUSINESS NEWS

Ford Tingkatkan Kualitas di 2012, Cetak Laba Operasi US$8.8 Miliar di 2011
Sabtu, 04 Februari 2012 05:30 WIB
 

Wajah Bisnis Sendai Pasca Tsunami
Jumat, 03 Februari 2012 20:00 WIB
 

Indonesia Masih Jaya Hadapi Krisis Global, 2012 Akan Makin Berat
Kamis, 02 Februari 2012 16:50 WIB
 

Facebook Gandeng Morgan Stanley Sebagai Penjamin Modal Saat Peluncuran IPO
Rabu, 01 Februari 2012 18:41 WIB
 

Indonesia Tunjukkan Strategi Ekonomi, Perdagangan dan Kemitraan yang Berorientasi Karya Nyata di WEF
Selasa, 31 Januari 2012 10:46 WIB
 

"Perang Pendapat" dan Lobi-lobi Bisnis Penuhi Pertemuan Davos Tahun Ini
Senin, 30 Januari 2012 17:22 WIB
 

Pertarungan Apple dan Samsung di Pasar Smartphone Makin Panas
Minggu, 29 Januari 2012 06:00 WIB
 

Facebook Serahkan Berkas IPO Siap Meraup US$ 10 Miliar
Sabtu, 28 Januari 2012 13:30 WIB
 

World Economic Forum 2012: Remarkable Indonesia
Sabtu, 28 Januari 2012 13:00 WIB
 

The 15 Richest Companies According S&P 500
Jumat, 27 Januari 2012 22:00 WIB
 

<< PREVPAGE 1NEXT >>
 
Indeks Berita
Pemulihan Ekonomi AS Diprediksi Berlangsung Satu Dekade
Senin, 30 Agustus 2010 16:00 WIB

(Vibiznews – Business) – Salah seorang ekonom AS menyatakan bahwa pemulihan ekonomi AS akan memakan waktu satu dekade, untuk dapat kembali seperti sediakala sebelum terhanam badai krisis (30/08). Ekonomi AS akan mengalami pertumbuhan yang sangat lamabt dan ancaman tingkat pengangguran tinggi untuk satu dekade mendatang.

Dalam paper terbarunya, Carmen M. Reinhart, ekonom dari Universitas Maryland, menyatakan hal tersebut. Akan tetapi pernyataan ini mengundang perdebatan di kalangan para ekonom yang menghadiri symposium tahunan kebijakan di Jackson Hole, Wyoming, yang diselenggarakan oleh Federal Reserve Bank of Kansas City.

Pertemuan dan symposium ini diselenggarakan akhir minggu lalu dan dihadiri oleh 110 orang pelaku bank sentral dan ekonom. Termasuk pula para petinggi Fed.

Pada tahun 2008, symposium ini diselenggarakan beberapa minggu sebelum kebangkrutan Lehman Brothers yang nyaris meluluhlantakkan dan menghancurkan keseluruhan pasar keuangan global. Pada symposium tahun 2009 lalu pada petinggi saling menyelamati dengan keyakinan bahwa mereka telah berhasil melewati yang terburuk dari kondisi krisis ekonomi.

Akan tetapi beberapa data ekonomi terbaru telah memperlihatkan kondisi yang mekhawatirkan. Salah satu pesert, Allen Sinai yang merupakan co-founder perusahaan konsultan Decision Economics, menyatakan bahwa saat ini ia sedang berada dalam kekhawatiran mendalam mengenai kondisi ekonomi AS. Tantangan yang dihadapi masyarakat AS saat ini sangat unik, yaitu kemiskinan dan melambatnya pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran tinggi yang sulit diturunkan, defisit yang luar biasa besar, dan utang luar negeri yang melilit. Menurut Sinai kondisi-kondisi ini telah membuat Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang paling tidak disiplin dalam kebijakan fiskal.

Dalam papernya Reinhart memeriksa 15 krisis keuangan yang telah melanda seluruh dunia sejak akhir perdang dunia II, termasuk juga kontraksi ekonomi global yang terjadi setelah hancurnya bursa saham pada tahun 1929, oil shock di tahun 1973, dan krisis subprime yang terjadi pada akhir tahun 2007 lalu.

Selama satu dekade setelah krisis tersebut tingkat pemulihan ekonomi menjadi sangat lambat dan tingkat pengangguran tinggi sangat sulit diatasi. Sektor perumahan memerlukan bertahun-tahun untuk kembali pulih, dan dibutuhkan waktu setidaknya tujuh tahun bagi rumah tangga dan perusahaan untuk menurunkan utang mereka dan mengembalikan keseimbangan neraca. Secara umum krisis akan disusul oleh ekspansi krdit dan pinjaman selama satu dekade dan periode kontraksi yang akan bertahan nyaris sepanjang itu juga.

Meskipun mengundang perdebatan, akan tetapi Reinhart bukanlah satu-satunya ekonom yang memberikan outlook yang pesimis terhadap kondisi ekonomi AS. dua orang ekonm, James H. Stock, dan Mark W. Watson, memberikan pandangan dalam paper mengenai inflasi. Mereka berargumen bahwa inflasi yang mengalami penurunan saat ini justru memberikan ancaman yang lebih serius mengenai deflasi. Deflasi merupakan siklus ekonomi di mana harga dan upah mengalami penurunan. Menurut Stock dan Watson resesi yang terjadi di AS lazim disusul oleh kondisi deflasi yang parah, dengan pengecualian tahun 2004. Kondisi ini menimbulkan ancaman serius kepada pemulihan ekonomi.

Ekonomi Indonesia Justru Bergerak Solid
Tampaknya kondisi melambatnya pemulihan ekonomi tidak memberikan dampak yang terlalu serius terhadap ekonomi Indonesia untuk jangka pendek.

Krisis ekonomi yang terjadi saat ini, skalanya lebih kecil dibanding krisis yang terjadi pada 1997 dan 1998 silam, sehingga dampaknya tidak terlalu luar biasa terhadap perekonomian Indonesia. Namun, krisis ekonomi global hebat seperti yang pernah terjadi pada akhir 1990-an, kemungkinan masih bisa terjadi.

Indonesia mampu menghadapi krisis dalam setahun terakhir, karena ditopang dengan kondisi makro perekonomian yang cukup bagus dan kuat. Kondisi ekonomi Indonesia ketika krisis saat ini sudah jauh lebih baik dibanding 1997-1998 lalu. Perbankan banyak yang sehat, permintaan domestik menguat bersama indikator lain.

Kenyataan bahwa IHSG masih perkasa ini merupakan kenyataan bahwa ekonomi Indonesia relative tahan banting. Pengamat pasar saham bahkan memperkirakan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dapat mencapai angka 3.200 poin pada akhir tahun ini, karena arus modal asing ke pasar domestik makin meningkat.

Apalagi pasar Indonesia merupakan pasar yang aman dan nyaman untuk melakukan investasi yang didukung dengan tinggi tingkat suku bunga. Selain itu juga pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh makin baik merupakan faktor utama mendorong investasi asing makin meningkat. Pemerintah juga terus mempercepat mencairkan anggaran belanja negara dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional makin cepat.

(Ika Akbarwati/IA/vbn)





Bookmark and Share






CORPORATE INFO
Sosialisasi Jamsostek Sebagai Operator BPJS
03 Februari 2012



Direktur Utama PT Jamsostek (Persero) Hotbonar Sinaga (tengah) didampingi Direktur Umum dan SDM HD Suyono (kiri), Direktur Pelayanan Djoko Sungkono (kedua kiri), Direktur Keuangan Karsanto(ketiga kiri), Direktur Rencana dan Pengembangan Myra SR Asnar (ketiga kanan), Direktur Investasi Elvin GM (kedua kanan), dan Direktur Kepesertaan Ahmad Ansori (kanan) berbincang sebelum menyampaikan sosialisasi Jamsostek sebagai operator BPJS di Yogyakarta, Jumat (3/2). Jamsostek akan bertransformasi sebagai salah satu Operator Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan sesuai UU BPJS akan menjadi badan hukum publik pada 1 Juli 2015. (ns/NS/vbn-ant)



ADVERTISING
Vibiznews menyajikan berita terkini tentang investasi dan ekonomi 24 jam sehari untuk Forex, Commodity, Index, Options, saham-saham Bursa Efek Indonesia dan investasi lainnya properti, asuransi, perbankan, reksadana, produk keuangan lainnya); dilengkapi dengan "Breaking News", rekomendasi investasi harian (pagi dan siang), serta folder Wealth Plan.
ADVERTISING | OUR LINK | GLOSSARY | DISCLAIMER | PRIVACY POLICY | ABOUT US
Copyright © 2006-2012 Vibiz Media, Powered by: Jafam-ICT.com
Partners: lepmida.com - vibizlearning.com - vibizconsulting.com - vibizmedia.com - beritadaerah.com - management.co.id - visijobs.com - infobelanja.co.id - infotekno.co.id
 
1