Kinerja Manufaktur Skala Kecil dan Menengah Tiongkok Menurun

542

Demi menopang roda perekonomian Tiongkok, pemerintah maupun bank sentral (PBOC) negara ini sudah memberikan bermacam-macam stimulus baik dari sisi moneter maupun fiskal selama setahun terakhir. PBoC misalnya, sejak November 2014 lalu sudah lima kali memangkas suku bunga acuannya untuk mendorong pertumbuhan di negara ini. Demikian juga dengan pemerintah Tiongkok yang telah melonggarkan beberapa aturan mengenai pembelian properti dan kendaraan agar memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi. Sayangnya, stimulus-stimulus tersebut terlihat tidak memberikan dampak positif pada akitivitas pabrik di Tiongkok yang sudah tujuh bulan berturut-turut mencatat kontraksi.

Senada dengan rilis kinerja manufaktur Tiongkok yang dipublikasikan resmi oleh pemerintah yang lebih fokus pada BUMN. Survey yang dilakukan oleh pihak swasta terhadap kinerja manufaktur di perusahaan berskala kecil dan menengah Tiongkok pada bulan September lalu juga menunjukkan bahwa kinerja manufaktur Tiongkok masih terjebak pada fase kontraksi. Berdasarkan indeks PMI Caixin manufacturing yang juga dirilis hari ini (1/10) tercatat bahwa skor PMI tersebut turun ke level terendahnya dalam kurun lebih dari 6 tahun terakhir, yaitu berakhir pada level 47,2. Dapat dilihat tren nya pada gambar dibawah ini:

China Caixin Manufacturing PMI

Sementara itu untuk rilis kinerja di sektor jasa, juga terlihat se-“iya” dengan rilis pemerintah, terpantau bahwa pertumbuhan di sektor jasa Tiongkok pada bulan September lalu berhasil bertahan pada fase ekspansi meskipun berbagai sentimen mengakibatkan kinerja di sektor ini tarik menarik. Sejauh ini pemerintah Tiongkok memang hanya mengandalkan sektor jasa untuk menopang roda perekonomiannya yang kian melambat. (Lihat juga: Kinerja Manufaktur Tiongkok Versi Pemerintah Meradang)

Meski masih bertahan pada fase ekspansi, ternyata skor PMI jasa Tiongkok berdasarkan hasil survey swasta yang dirilis hari ini justru menunjukkan penurunan skor PMI. Adapun PMI jasa Tiongkok pada bulan lalu turun ke level 50,5 dari yang semula tercatat pada level 51,5 di bulan Agustus. Perlu diketahui, skor PMI jasa Tiongkok pada September lalu adalah yang terendah sejak Juli 2014. Rilis ini disinyalir dapat memperburuk iklim bisnis di Tiongkok karena dapat memicu kekhawatiran atas makin melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara ini.

Seperti diketahui, bahwa saat ini pemerintah Tiongkok memang sedang berusaha mengubah driver ekonominya dari yang semula berbasis industri dengan orientasi ekspor beralih ke basis konsumsi. Tentu saja masa transisi saat ini adalah masa-masa sulit karena tentunya harus didukung dengan iklim ekonomi dan bisnis yang kondusif agar daya beli masyarakat tidak tergoncang. Pasalnya hingga September lalu sudah puluhan juta rakyat Tiongkok yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Sementara itu pada 19 Oktober mendatang, pemerintah Tiongkok akan merilis data PDB kuartal ketiga yang disinyalir akan bukukan pertumbuhan di bawah target yang dipatok yaitu 7 persen, dan jika hal tersebut terjadi maka laju PDB pada Q3-2015 adalah yang terlemah sejak krisis keuangan global. Beberapa ekonom memperkirakan laju PDB pada Q3 lalu akan berada di kisaran 6,4 persen sehingga berbagai langkah stimulus dan belanja pemerintah yang lebih tinggi sangat diperlukan agar pertumbuhan ekonomi Tiongkok ke depannya tidak makin merosot.

 

 

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/BNV/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here