Defisit Dagang Australia Membengkak Besar Karena Tiongkok

968

Seperti diketahui, laju pertumbuhan ekonomi global telah kehilangan momentumnya pada September lalu. Data output pabrik Tiongkok merosot lagi, pertumbuhan sektor manufaktur zona euro melemah, sementara pertumbuhan di Amerika Serikat (AS) masih tetap landai. Survei bisnis terbaru di Asia, Eropa, dan AS juga menunjukkan situasi yang lebih suram dan tampaknya akan membuat bank sentral membuat kebijakan moneter longgar lebih lama lagi. Survey bisnis yang dilakukan AIG misalnya, menunjukkan bahwa fase ekspansi di sektor jasa Australia melambat pada bulan September.

Sementara itu, survei tentang pabrik dan sektor jasa Tiongkok memperlihatkan negara terbesar kedua di dunia itu sedang melambat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Pemangkasan tenaga kerja juga sudah terjadi di Tiongkok. Perlu dimengerti, Tiongkok merupakan pengimpor bahan baku dari banyak negara produsen komoditas, seperti Australia, Brasil, dan Kanada. Penurunan aktivitas manufaktur di Tiongkok memengaruhi juga perekonomian dan nilai tukar di negara pengekspor komoditas, seperti Australia yang makin hari defisit perdagangannya makin membengkak.

Biro Statistik Australia pagi ini (6/10) melaporkan bahwa defisit perdagangan Australia periode Agustus 2015 tercatat membengkak cukup tajam dari yang tercatat di bulan sebelumnya. Dalam rilis pagi ini terlihat bahwa defisit perdagangan barang Australia pada bulan Agustus lalu berakhir sebesar -A$ 3.095.000.000 atau membengkak 11 persen dari bulan Juli yang kala itu defisitnya tercatat sebesar -A$ 2.792.000.000. Dapat dilihat data defisit perdagangan Australia pada setahun terakhir pada gambar dibawah ini:

Australia Balance of Trade

Dalam rilis pagi ini tercatat bahwa membengkaknya defisit dagang Australia pada bulan Agustus lalu disebabkan oleh tergerusnya aktivitas ekspor dari yang semula tercatat sebesar A$ 130.000.000, turun drastis menjadi hanya sebesar A$ 26.509.000.000. Ekspor emas non-moneter tercatat turun A$ 316.000.000 atau turun -19 persen (mom), ekspor barang pedesaan naik A$ 96.000.000 atau naik 3 persen (mom) dan ekspor barang-barang non-pedesaan naik A$ 77.000.000. Ditengah merosotnya ekspor, aktivitas impor justru naik 1,0 persen (mom). 

Meski demikian, Gubernur Bank Sentral Australia (RBA), Glenn Stevens, hingga bulan lalu masih menyampaikan optimismenya terhadap laju perekonomian negaranya. Optimisme Stevens ini tampak menutup kemungkinan bahwa Bank Sentral (RBA) akan menurunkan tingkat suku bunganya dalam waktu dekat, dari yang saat ini tercatat pada level 2 persen. Bahkan Glenn Stevens memberi pertanda bahwa bilapun pertumbuhan ekonomi di Tiongkok merosot tajam di bawah 7 persen, tidak akan menjadi alasan bagi Australia untuk menurunkan tingkat suku bunganya. Karena jika hal tersebut terjadi, nilai tukar dolar Australia (AUD) akan turun dan itu akan menjadi salah satu mekanisme kunci agar perekonomian Australia bisa bertahan. 

 

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/BNV/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here