Kabut Asap dan Risiko Perbankan

347
Kabut asap pekat menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, pada Senin malam (28/9). Pelaksana Tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman memperpanjang status Tanggap Darurat Pencemaran Udara akibat Kebakaran Lahan dan Hutan, yang seharusnya habis pada 28 September, hingga dua pekan ke depan untuk fokus pada penanganan kesehatan warga dari dampak asap dan antisipasi dampak El Nino yang mengakibatkan cuaca kering selama bulan Oktober. ANTARA FOTO/FB Anggoro/pd/5.

Bencana kabut asap di Pulau Sumatera dan Kalimantan yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan ini nampaknya masih belum reda. Bagaimana perbankan perlu menyikapinya?

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru-baru ini merilis data yang menyebutkan bahwa titik panas makin meluas di Sumatera. “Pantauan Satelit Terra Aqua dari NASA pada Minggu (4/10) tercatat 1.820 titik, yaitu di Sumatera 1.563 titik dan di Kalimantan 257 titik,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya kepada media (4/10).

Secara rinci disebutkan bahwa jumlah titik asap di Sumatera, terbanyak ada di Sumsel 1.340 titik, Jambi 131 titik, Lampung 57 titik, Babel 22 titik, Riau 9 titik, dan Kepri 1 titik. Lalu di Kalimantan, yaitu Kalteng 108 titik, Kalsel 71 titik, Kalbar 51 titik, dan Kaltim 27 titik.

Berikutnya Sutopo mengatakan, selama lebih dari satu bulan ini hot spot di Sumsel belum dapat dipadamkan. Konsentrasi hot spot di Sumsel ini terdapat di perkebunan dan hutan tanaman industri di Kab. Ogan Komering Ilir. Ia mencatat 1.340 titik panas mengepung Sumatera Selatan. Ini menyebabkan jarak pandang terbatas dan kualitas udara menurun ke level tidak sehat hingga berbahaya.

 

Empat Pemicu Risiko Kredit

Bagi industri perbankan, sejauh ini nampaknya belum ada laporan serius mengenai dampak kabut asap bagi operasional bank. Secara resminya tidak ada laporan mengenai penutupan sejumlah cabang pada lokasi-lokasi yang terdampak parah dalam kabut asap di Sumatera dan Kalimantan ini. Aspek risiko operasional bank mungkin naik tetapi masih dalam batas toleransi. Sepertinya demikian. Paling tidak, kondisi kesehatan karyawan di lokasi-lokasi tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih khusus bagi bank.

Yang perlu lebih diwaspadai agaknya adalah kinerja para debitur bank yang usahanya terkait dengan perkebunan rakyat atau perdagangan yang berhubungan dengan sektor perkebunan dan hasil kebun lainnya. Bank perlu untuk meningkatkan pemantauan dan pengawasan yang lebih ketat bagi bidang-bidang usaha terkait perkebunan tersebut. Bisa jadi ada yang dilanda kebakaran pada lokasi lahan yang menjadi jaminan pula bagi bank.

Pada sejumlah kategori nasabah ini, risiko kredit bisa meningkat karena kemungkinan empat pemicu risiko. Pertama, usaha nasabah menjadi tidak lancar karena kebakaran yang melanda. Itu bisa berlaku, baik bagi debitur di usaha perkebunan maupun pedagang hasil perkebunan. Kedua, kondisi jaminan yang bisa menurun nilainya karena terbakar. Risiko jaminan seperti ini penting untuk diukur oleh bank dari waktu ke waktu. Ketiga, menyangkut masalah hukum, perlu dipastikan apakah ada debitur bank yang terkena kasus hukum dengan masalah pembakaran lahan hutan ini. Bisa jadi ada nasabah yang ditangkap aparat hukum karena terlibat kasus pembakaran.

Selanjutnya, risiko kredit yang keempat adalah faktor harga komoditas –termasuk perkebunan– yang belakangan ini dalam tekanan di pasar global. Secara umum harga komoditas dunia sedang berada di posisi sekitar lima tahun terendahnya. Ini secara keseluruhan akan memengaruhi kinerja arus kas (cash flow) debitur-debitur terkait agribisnis.

Pada rantai bisnis selanjutnya, bank perlu juga mewaspadai sejumlah usaha yang kemungkinan menjadi lesu dengan tidak sehatnya udara sekitar, misalnya perhotelan, rumah makan, dan perdagangan retail. Aktivitas bisnis yang belakangan ini tertekan oleh pelambatan pertumbuhan ekonomi akan bertambah lagi tekanannya dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat ini.

Jelasnya bank perlu meningkatkan pemantuan dan pengawasannya. Gejala dini kredit bermasalah perlu diwaspadai dan disikapi dengan bijak oleh para pimpinan cabang bank di lokasi-lokasi kabut asap.

Kita harapkan bersama segala upaya pemadaman api oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta oleh partisipasi aktif masyarakat, segera memberikan hasil yang baik dan nyata. Semoga demikian.

 

alfredBy Alfred Pakasi ,

CEO Vibiz Counsulting
Vibiz Consulting Group

 

 

 

 

image : antarafoto

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here