Ekonomi Eurozone Makin Menantang, ECB Pertimbangkan Formula Stimulus Baru

597

Risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi di kawasan euro dan semakin tertekannya prospek inflasi belakangan menjadi isu penting yang diperbincangkan para pelaku pasar di Eropa. Seperti diketahui, dampak perlambatan ekonomi Tiongkok memang kian terasa buruk bagi perkembangan ekonomi global menjelang sisa tahun 2015 ini. Bagaimana tidak? Tiongkok merupakan negara importir komoditas terbesar di dunia, akibatnya saat ini hampir seluruh negara eksportir komoditas yang kebanyakan adalah negara berkembang mulai nelangsa karena permintaan ekspor nya anjlok tajam. (Lihat juga: Draghi: Perlambatan Ekonomi Euro Karena Tiongkok)

Secara tidak langsung perlambatan ekonomi Tiongkok memang sudah memberikan efek domino terhadap negara-negara di dunia, tidak terkecuali di Eropa. Bank Sentral Eropa (ECB) dalam notulensi rapatnya juga menuliskan bahwa mereka melihat saat ini situasi ekonomi secara keseluruhan di kawasan euro terlihat lebih “menantang”. Namun demikian, ECB tetap melihat bahwa saat ini kawasan euro tetap berjalan melanjutkan pemulihan ekonominya secara moderat dan bertahap.

Para petinggi ECB melihat saat ini memang diperlukan formula yang tepat untuk mengantisipasi risiko penurunan yang lebih lanjut dan tentu diperlukan waktu yang lebih lama untuk menganalisa hal tersebut demi menghindari terbentuknya kesimpulan yang prematur. Tantangan yang dihadapi negara-negara berkembang saat ini sudah mengaburkan prospek ekonomi global dan kemungkinan besar tidak akan emngalami recovery dalam waktu dekat dan singkat. Oleh karena itu saat ini ECB hanya berharap dari rendahnya harga minyak untuk mendukung permintaan domestik di kawasan euro, meskipun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi dampak melemahnya permintaan global terhadap kawasan ini.

Dana Moneter Internasional (IMF) pada pekan ini juga sudah menahan proyeksi pertumbuhan untuk kawasan euro tahun 2015 ini sebesar 1,5 persen, sedangkan prospek untuk tahun 2016 mendatang dipangkas menjadi 1,6 persen. Dewan Pemerintahan pun menegaskan bahwa program pembelian aset yang masih dilakukan ECB sampai hari ini masih akan terus dilaksanakan sampai akhir September 2016, dan bahkan sampai seterusnya, jika memang urgent diperlukan.

Capital Economics memprediksi untuk menopang potensi perlambatan ekonomi di negara-negara kawasan euro, ECB kemungkinan besar akan memperluas program pelonggaran kuantitatifnya, dengan nilai pembelian aset bulanan yang semula hanya sebesar 60 EUR miliar per bulan akan naik menjadi sebesar EUR 80 miliar per bulan yang akan dibicarakan lagi pada 22 Oktober mendatang atau pada tanggal 8 Desember mendatang. Ekonom melihat, ECB harus mempertahankan program pembelian aset ini setidaknya hingga Juni 2017 mendatang dengan nominal yang semakin naik yaitu EUR 100 miliar per bulan untuk mengimbangi dampak normalisasi The Fed yang mungkin akan dilakukan tahun depan.

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/BNV/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here