Sinyalkan Permintaan Domestik Lemah dan Perlambatan Berlanjut. Impor Tiongkok Anjlok

672

Siang ini (13/10), Biro Statistik Nasional Tiongkok kembali melaporkan kinerja bulanan impor Tiongkok untuk periode yang berakhir September 2015. Dalam rilis tersebut tercatat bahwa aktivitas impor Tiongkok masih tercatat kontraksi dimana penurunan kegiatan impor tersebut resmi melanjutkan tren penurunan terpanjang yang dialami Tiongkok dalam kurun enam tahun terakhir. Masih lesunya aktivitas impor di Tiongkok sampai bulan lalu menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi global kemungkinan besar masih akan tidak stabil dikarenakan harga komoditas dunia yang masih cenderung tertekan akibat masih rendahnya aktivitas impor Tiongkok yang selama ini menjadi negara importir komoditas terbesar di dunia.

Seperti dipublikasikan, kegiatan impor Tiongkok pada September lalu anjlok sebesar -17,7 persen, dimana penurunan tersebut lebih dalam dari yang tercatat di bulan sebelumnya yang hanya bukukan penurunan sebesar 14,3 persen. Sementara itu laju ekspor juga turun -1,1 persen pada bulan September lalu, sedikit membaik dari yang tercatat di bulan sebelumnya yang justru bukukan penurunan lebih tajam yaitu sebesar -5,5 persen. Dapat dilihat tren kinerja ekspor impor Tiongkok pada gambar dibawah ini:

China Imports

Semakin memburuknya kinerja impor Tiongkok sekaligus menunjukkan bahwa masih banyak tekanan terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok yang kemungkinan akan menghambat laju pemulihan ekonomi global. Pertumbuhan impor yang lamban ini menunjukkan bahwa tingkat permintaan domestik di Tiongkok masih lemah khususnya permintaan investasi. Kondisi tersebut diperkirakan ekonom akan memengaruhi proyeksi laju pertumbuhan PDB Q3 Tiongkok yang diprediksi turun menjadi 6,7 persen dari yang semula tercatat sebesar 7 persen.

Terkait perlambatan ekonomi yang masih menghantui Tiongkok tersebut, para pelaku pasar di negara tersebut sangat mengharapkan adanya stimulus fiskal dan kebijakan moneter lanjutan yang tetap akomodatif. Perlu dipahami, perlambatan ekonomi Tiongkok saat ini sudah memengaruhi kinerja ekonomi di pasar negara berkembang didorong oleh harga komoditas yang lemah, dimana hal tersebut akhirnya membuat Dana Moneter Internasional (IMF) pada bulan Oktober ini memangkas proyeksinya terhadap pertumbuhan global menjadi hanya sebesar 3,1 persen dari yang semula sebesar 3,3 persen. (Lihat juga: Prospek Ekonomi Suram, IMF Pangkas Proyeksi Global)

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/BNV/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here