Ekspor Lesu, Surplus Dagang Kawasan Euro Toreh Angka Terendah

869

Akhir pekan lalu, Eurostat kembali merilis data surplus perdagangan bulanan kawasan euro untuk periode yang berakhir pada Agustus 2015. Dalam rilis tersebut terlihat bahwa surplus dagang kawasan euro di bulan tersebut turun drastis melampaui perkiraan ke level terendahnya dalam kurun 5 tahun terakhir. Anjloknya surplus dagang wilayah ini disebabkan kegiatan ekspor yang menurun sementara kegiatan impornya naik.

Dalam laporan terpisah lainnya, Eurostat juga melaporkan bahwa kawasan euro kembali mencatat deflasi pada bulan September lalu setelah lima bulan berturut-turut bukukan pertumbuhan. Adapun surplus dagang kawasan euro pada Agustus lalu jatuh menjadi hanya sebesar EUR 11,2 miliar, turun drastis jika dibanding dengan bulan sebelumnya yang berhasil bukukan surplus sebesar EUR 31,4 miliar. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Euro Area Balance of Trade

Sedangkan untuk surplus dagang Uni Eropa (EU28) periode Agstus 2045 tercatat sebesar EUR 5,5 miliar pada bulan Agustus, lebih kecil dari yang berhasil tercatat di bulan sebelumnya (bulan Juli) yaitu sebesar EUR 6,6 miliar. Angka ssurplus tersebut menunjukkan kegiatan ekspor EU28 turun 1,6 persen (mom) dan impornya turun 0,9 persen (mom).

Sementara itu di sepanjang periode Januari-Agustus 2015, kegiatan ekspor kawasan euro bukukan kenaikan sebesar 6 persen dan impornya naik 3 persen. Surplus perdagangan mencapai EUR 156,9 miliar, lebih besar dibanding dengan periode Januari-Agustus 2014 yang hanya bukukan surplus dagang sebesar EUR 104,5 miliar.

 Pemulihan ekonomi kawasan euro memang terlihat sedang tersendat. Kondisi ini tidak lepas dari juga sedang lesunya kegiatan ekonomi di Jerman terutam dari sisi ekspornya. Melambatnya ekonomi di kawasan ini maupun di Jerman salah satunya disebabkan oleh masih lemahnya tren ekonomi global saat ini akibat dampak perlambatan ekonomi Tiongkok dan negara berkembang. Namun demikian, sejauh ini ECB selalu siap memberikan stimulus agresif untuk mengangkat perekonomian di kawasan euro terutama untuk mendongkrak laju inflasinya agar dapat mendekati target yang dipatok yaitu 2 persen.

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/BNV/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here