Korsel Berhasil Lajukan Ekonominya, PDB Q3 Tertinggi 5 Tahun

156

Pasca virus MERS mewabah di Korea Selatan (Korsel) yang kerap dijuluki “Negeri Ginseng” pada kuartal kedua lalu akhirnya pada kuartal ketiga tahun 2015 ini, laju pertumbuhan ekonomi Korsel berhasil mencatat rebound setelah wabah akibat MERS perlahan memudar.

Konsumen sudah mulai berani beraktivitas di luar seperti biasa sehingga laju belanja ritel pun perlahan pulih, mengimbangi lemahnya ekspor ke luar negeri. Rebound pada PDB Q3 2015 Korsel ini menjadi sinyal positif bagi Gubernur Bank of Korea (BOK), Lee Ju Yeol, untuk tidak terburu-buru mengambil kebijakan moneter longgar sekaligus meningkatkan optimisme BOK bahwa perekonomian Korsel akan mengakhir tahun 2015 dengan bukukan pertumbuhan meski risiko eksternal akan tetap ada.

Di sepanjang Q3 lalu pasalnya laju konsumsi dan investasi konstruksi di negara ini berhasil bukukan kenaikan yang melebihi perkiraan yang semula hanya memprediksi pertumbuhan sebesar 1 persen (qoq). Pagi ini (23/10), BOK kembali merilis laju Produk Domestik Bruto (PDB) Korsel pada Q3-2015 berhasil bukukan pertumbuhan sebesar 1,2 persen (qoq), dimana laju pertumbuhan tersebut lebih baik dari yang tercatat di kuartal sebelumnya yang kala itu hanya bukukan pertumbuhan sebesar 0,3 persen (qoq). Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

South Korea GDP Growth Rate

Sementara ini, Pemerintah Korsel memang sedang memangkas sementara pajak konsumsi negaranya dan memberikan anggaran tambahan paska menyebernya virus MERS di negara ini pada bulan Mei lalu yang mengakibatkan pendapatan di sektor pariwisata anjlok karena mengakibatkan wisatawan takut melakukan kunjungan ke negara ini. Laju konsumsi swasta di sepanjang Q3 lalu berhasil bukukan pertumbuhan sebesar 1,1 persen sedangkan di periode sebelumnya justru mencatat kontraksi, sementara itu belanja pemerintah juga meningkat 1,9 persen dan fasilitas investasi juga meningkat 2 persen. Investasi konstruksi juga catat pertumbuhan sebesar 4,5 persen.

Sebagai informasi, volume ekspor Koresl pada Q3 lalu tercatat turun 0,2 persen (qoq), pasalnya setiap bulan di sepanjang tahun 2015 ini laju ekspor Korsel selalu bukukan penurunan akibat sedang lesunya perekonomian di negara-negara tujuan ekspor Korsel. Sejauh ini untuk menangkal perlambatan ekonomi negara yang lebih parah, BOK masih mempertahankan suku bunga acuannya pada rekor rendah sebesar 1,5 persen hingga bulan ini karena menyesuaikan dengan laju pertumbuhan di tahun 2015 yang diperkirakan turun menjadi 2,7 persen dari yang semula tercatat sebesar 2,8 persen. 

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/BNV/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here