Sebagian Besar Harga Barang Turun Akibatkan Malaysia Catat Deflasi

402

Baru-baru ini, tingkat produktivitas di sektor industri Malaysia periode Agustus 2015 telah dirilis. Dalam rilis tersebut terlihat bahwa tingkat output industri Malaysia merosot cukup tajam di bulan tersebut dari bulan sebelumnya. Seperti diketahui, selama beberapa bulan terakhir mata uang Malaysia masih terus terpuruk terhadap dollar AS karena ketidakpastian The Fed terhadap kapan kenaikan suku bunganya akan dilakukan. Kabar ini tentu cukup mengecewakan, karena dikhawatirkan dapat mengganggu laju pertumbuhan ekonomi di athun 2015 yang sudah dipatok sebesar 3 persen oleh pemerintahnya. 

Lihat juga: Sektor Tambang Masih Terpuruk, Output Industri Malaysia Tergerus Tajam

Departemen Statistik Malaysia siang ini (23/10) kembali merilis data laju inflasi harga konsumen bulanan untuk periode yang berakhir pada September 2015. Diluar dugaan, laju inflasi Malaysia pada bulan lalu berhasil mereda pada laju yang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Tercatat bahwa laju indeks harga konsumen Malaysia pada bulan lalu tercatat tumbuh sebesar 2,6 persen (yoy) lebih lambat dari yang tercatat di bulan sebelumnya yaitu sebesar 3,1 persen (yoy). Dapat dilihat tren inflasi Malaysia pada gambar dibawah ini:

Malaysia Inflation Rate

Pertumbuhan inflasi Malaysia pada bulan lalu sebagian besar dipimpin oleh pertumbuhan indeks harga minuman beralkohol dan tembakau sebesar 9,8 persen. Harga makanan dan minuman non-alkohol tumbuh 4,3 persen pada September lalu dan harga non-makanan produk tumbuh sebesar 1,8 persen. Pada saat yang sama, biaya transportasi menurun 3,8 persen, sementara itu jika dilihat pada basis bulanan, harga konsumen di negara ini tercatat turun 0,3 persen pada September lalu, setelah tercatat flat di bulan Agustus.

Menyadari perekonomiannya sedang lesu, Pemerintah Malaysia pasalnya menawarkan kerjasama ekonomi regional dalam konteks ASEAN dengan Indonesia supaya bisa keluar dari “jebakan” ekonomi lesu yang sedang melanda negara-negara di kawasan Asia Tenggara belakangan ini akibat perlambatan ekonomi Tiongkok. Adapun kerjasama tersebut nantinya akan dilakukan dalam bidang investasi. Sebagai informasi, saat ini Malaysia masih menduduki ranking pertama investor asing di Indonesia.

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/BNV/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here