Capital Inflow Mulai Mengalir Ke Emerging Market

673

Sekitar dua pekan lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, nilai ekuitas emerging market mengalami kembali arus masuk modal (capital inflow) seiring dengan meredanya kecenderungan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS. Kepercayaan investor tumbuh kembali. Berdasarkan data Bank of America tercatat bahwa saham-saham emerging market (EM) menerima aliran dana senilai US$700 juta, dimana nilai tersebut adalah yang tertinggi dalam 14 pekan terakhir. Mulai masuk kembali modal-modal asing ke EM menandakan sinyal pertama rotasi permainan “pelemahan dolar AS”, termasuk komoditas dan EM, dimana obligasi ‘junk bond‘ juga mengalami kenaikan dari runtuhnya ekspektasi atas kenaikan suku bunga The Fed.

Tapi meskipun arus masuk modal pada EM sudah mulai terlihat, namun sejauh ini emerging market masih akan cukup menghadapi banyak tantangan. Pasalnya, arus keluar dana EM sudah melebihi arus masuk dananya, kejadian ini adalah kali pertama sejak 1998, belum lagi saat ini perekonomian EM digempur dengan masalah ekonomi Tiongkok, kejatuhan nilai tukar mata uang dan isu kenaikan suku bunga AS. Berdasarkan publikasi data 30 negara pada awal bulan Oktober ini, Institute of International Finance memperkirakan, investor akan menarik dana sebesar US$540 miliar dari negara-negara berkembang di sepanjang 2015 ini.

Arus masuk modal asing diperkirakan akan melorot hingga US$548 miliar, sekitar separuh dari level tahun lalu dan di bawah jumlah yang tercatat selama krisis keuangan 2008. Pada saat bersamaan, arus keluar dana lokal meningkat seiring menguatnya volatilitas pasar, mendorong arus dana neto ke zona negatif. Berdasarkan data yang rilis pekan lalu juga terlihat bahwa perekonomian Tiongkok pada kuartal ketiga 2015 lalu tumbuh dengan kecepatan paling buruknya sejak krisis keuangan global, yaitu hanya sebesar 6,9 persen. Kondisi tersebut memunculkan kembali ekspektasi akan stimulus lanjutan untuk menghidari terjadinya kemandekan mesin pertumbuhan dunia.

Hampir seluruh negara yang tergabung dalam emerging market merupakan negara-negara eksportir komoditas, oleh sebab itu besaran arus keluar dana EM di sepanjang 2015 sejauh ini memang akan terus mengikuti tern harga komoditas yang sejauh ini masih terus turun. Tentu saja hampir semua arus keluar modal dari EM berkaitan dengan kekhawatiran investor pada perekonomian Tiongkok. Perlu diketahui, perusahaan-perusahaan Tiongkok banyak berutang dalam nominal dolar AS selama beberapa tahun terakhir.

Kejatuhan harga komoditas, diperkirakan akan terus memberi beban pelebaran defisit fiskal EM, rata-rata sebesar 4,3 persen PDB pada tahun 2015 ini, lebih tinggi jika dibanding rata-rata tahun 2014 lalu yaitu sebesar 2,6 persen. Sejumlah negara, seperti Turki, Kazkahstan, Afrika Selatan dan Chila, diestimasikan akan menghadapi tekanan penurunan peringkat yang cukup signifikan. Jika sata ini, bukan hanya arus modal masuk yang dilihat, maka sejujurnya posisi fiskal, beban utang publik dan eksternal, jumlah investasi asing, perubahan cadangan devisa negara serta sektor perbankan dan indikator fundamental lainnya di EM masih cukup buruk.

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/BNV/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here