MSCI Emerging Markets Index Ditutup Naik Tipis Ke Level 868,44

1007

MSCI Emerging Markets Index ditutup naik tipis ke level 868,44 pada 04:06 di Hong Kong, 360 saham naik dan 255 turun didukung sentimen  positif dari stimulus moneter di Eropa dan keputusan pemerintah Tiongkok untuk menurunkan suku bunga dan persyaratan cadangan perbankan.

Indeks MSCI telah menurun 9,3 persen untuk tahun ini demikian juga dengan MSCI World Index, telah turun sebesar 0,1 persen.

Sebagian besar saham-saham yang berada di bursa saham emerging market ditutup naik didorong pemotongan suku bunga pinjaman Tiongkok yang mengirim Shanghai Composite Index ke level tertinggi dua bulan, melawan penurunan saham-saham perusahaan energi.

Indeks Shanghai naik ke penutupan tertinggi sejak 21 Agustus setelah sebelumnya kehilangan sebanyak 0,3 persen. Hang Seng China Enterprises Index Hong Kong naik 0,1 persen. Bank Rakyat China pada hari Jumat mengumumkan pemotongan sebesar 25 basis poin untuk suku bunga pinjaman acuan, sedangkan rasio cadangan bagi perbankan dikurangi sebesar 50 basis poin.

Para pemimpin Tiongkok telah berusaha keras yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk membendung anjloknya bursa saham termasuk pembatasan transaksi short selling dan perdagangan berjangka, sambil meningkatkan langkah-langkah yang ditargetkan dapat mendukung pertumbuhan sektor real estate dan industri otomotif. Produk domestik bruto naik 6,9 persen dalam tiga bulan hingga September dari tahun sebelumnya, ekspansi kuartalan paling lambat sejak 2009.

Indeks Bursa Efek Filipina naik 1,2 persen ke penutupan tertinggi sejak 19 Agustus, sementara Bursa Saham di Taiwan, Thailand dan Indonesia naik setidaknya 0,7 persen.

Enam dari 10 kelompok industri dalam indeks Emerging Market ditutup naik, sementara energi dan utilitas perusahaan turun. PetroChina turun 2,1 persen di Hong Kong. Indeks DFM General Dubai menurun 0,7 persen. Micex Index Rusia ditutup turun, menghentikan kenaikan dua hari terakhir dan rubel kehilangan 0,2 persen. Ringgit tenggelam untuk keenam kalinya dalam tujuh hari.

Won melemah paling buruk  di tengah kekuatiran akan dampak penurunan suku bunga Tiongkok akan menekan nilai mata uang yuan dan nilai tukar regional lainnya. Devaluasi yuan pada 11 Agustus memicu penurunan nilai tukar Asia dan menimbulkan kekhawatiran perang mata uang. Lira Turki naik 0,5 persen, setelah membukukan penurunan terbesar sejak 4 September pada hari Jumat kemarin.

Selasti Panjaitan/VMN/VBN/Vibiz Securities Academy

Editor : Jul Allens

 
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here