PBoC Rate Dipangkas Ke-6 Kalinya, IMF Review Sinyalkan Kuat Yuan Akan Masuk Dalam SDR

725

Seperti sudah diberitakan sebelumnya, akhir pekan lalu, Bank Sentral Tiongkok (PBoC) kembali memangkas suku bunga acuannya untuk ke-6 kalinya dan juga tidak lupa turut memangkas cadangan rasio perbankan nya untuk meningkatkan jumlah kredit yang disalurkan perbankan ke sektor riil. Pasalnya PBoC rate kali ini dipangkas sebesar 0,25 persen sehingga berakhir menjadi sebesar 4,35 persen dan juga suku bunga depositonya menjadi sebesar 1,50 persen. Sebagai informasi, PBoC  memangkas suku bunganya terakhir kali pada bulan Agustus lalu dengan nilai yang sama yaitu 25 basis poin, kala itu PBOC juga memangkas rasio Giro Wajib Minimum (GWM)-nya sebesar 50 basis poin untuk meningkatkan dukungan bagi usaha pedesaan dan kecil. (Lihat juga: Alasan PBOC Pangkas Kembali Suku Bunga Acuan Keenam Kalinya)

Pasalnya, pemangkasan suku bunga ini dilakukan oleh PBoC paska rilis data pertumbuhan ekonomi Tiongkok untuk Q3-2015 yang dilaporkan melambat dan menyentuh level terendahnya dalam kurun enam tahun terakhir di kuartal tersebut yaitu 6,9 persen padahal di kuartal sebelumnya tercatat sebesar 7 persen, menyusul devaluasi yuan di bulan Agustus. Paska suku bunga PBoC dipangkas, yuan merespons dengan mencatat pelemahan ke level tertajamnya dalam kurun dua bulan terakhir namaun sebaliknya bursa Tiongkok berhasil mencatat reli. (Lihat juga: Data PDB Q3 Tiongkok Melebihi Ekspektasi)

Pelonggaran kebijakan moneter dalam negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini berada pada titik paling agresif sejak krisis keuangan 2008/2009. Hal tersebut dilakukan untuk mengerem tergelincirnya pertumbuhan ekonomi negara tersebut yang sudah di bawah tujuh persen selama tahun 2015 ini. Rasio GWM di Tiongkok dipotong sebesar 50 basis poin untuk semua bank, dengan rasio 17,5 persen bagi pemberi pinjaman terbesar. Sementara itu, bank-bank yang memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan pertanian dan perusahaan kecil dipangkas kembali 50 basis poin. 

Goldman Sachs Group Inc memperkirakan pelonggaran moneter yang dilakukan oleh PBoC ini akan menggelontorkan dana sekitar 600 miliar yuan – 700 miliar yuan ($ 94.000.000.000 – $ 110.000.000.000) ke dalam sistem keuangan Tiongkok untuk membantu menjaga tetap murahnya biaya pinjaman di negara tersebut pada saat terjadi capital outflow dari negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia paska semakin rendahnya suku bunga acuan di negara tersebut. 

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) juga sudah memberikan sinyal kuat kepada para pejabat Tiongkok bahwa kemungkinan besar yuan akan masuk dalam keranjang mata uang cadangan SDR (special drawing rights). SDR adalah mata uang internasional yang diciptakan IMF untuk mengatasi kesulitan likuiditas internasional dan menjaga stabilitas kurs mata uang. Sejauh ini, SDR terdiri atas beberapa mata uang anggota IMF yang jumlah ekspornya tinggi, yaitu AS, Jerman, Inggris, Prancis, dan Jepang. Pemerintah Tiongkok berusaha untuk memperluas penggunaan yuan, juga dikenal sebagai renminbi (RMB), oleh karena itu yuan harus masuk dalam SDR, aset cadangan internasional yang saat ini terdiri empat mata uang, yaitu dolar, euro, pound dan yen.

 

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/BNV/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here