Sesuai Perkiraan Sebelumnya, Laju Inflasi Final Australia Periode Q3-2015 Tetap 1,5%

880

Sebelumnya, masih di pekan ini sudah dilaporkan bahwa sebuah indeks ekonomi terkemuka di “Negeri Kanguru” untuk periode yang berakhir pada Agustus 2015 yang dikenal dengan sebutan CB Leading Indicator (LEI) bukukan penurunan skor indeks dengan berakhir sebesar -0,4 persen, padahal di bulan sebelumnya bukukan pertumbuhan sebesar 0,3 persen. Penurunan skor tersebut, pasalnya terjadi karena empat dari tujuh komponen pembentuk CB Leading index bukukan penurunan sedangkan tiga komponen lainnya bukukan peningkatan. (Lihat juga: Indikator Ekonomi Turun, Australia Waspadai Perlambatan Ekonomi)

Menyusul rilis tersebut, siang ini sesuai dengan rilis awal yang juga sudah dipublikasikan lebih dulu pada pekan lalu, Biro Statistik Australia (28/10) akhirnya merilis laju inflasi harga konsumen final Australia untuk periode yang berakhir pada Q3-2015. Dalam publikasi tersebut terlihat bahwa laju inflasi Australia di kuartal tersebut tercatat tumbuh sebesar 1,5 persen (yoy), atau tidak berubah dari yang tercatat di kuartal sebelumnya. Sementara jika dilihat secara kuartalan, maka laju inflasi Australia pada Q3 kemarin tumbuh sebesar 0,5 persen (qoq), sedikit melambat dari yang tercatat di kuartal sebelumnya yaitu sebesar 0,7 persen (qoq). Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Australia Inflation Rate

Dalam rilis siang ini secara rinci tertulis bahwa komponen-komponen pembentuk inflasi, seperti biaya pendidikan pada Q3 lalu melonjak 5,5 persen (yoy), biaya alkohol tumbuh 5,0 persen (yoy), biaya kesehatan tumbuh 4,8 persen (yoy), biaya perumahan tumbuh 2,7 persen (yoy), biaya jasa keuangan tumbuh 2,0 persen (yoy), biaya furniture tumbuh 1,8 persen (yoy) dan biaya rekreasi tumbuh 1,1 persen (yoy). Sementara itu harga untuk peralatan komunikasi jatuh sebesar -4,1 persen (yoy), demikian juga dengan biaya transportasi turun -2,2 persen (yoy) dan harga pakaian juga ikut turun -1,0 persen (yoy) di Q3 lalu.

Kenaikan harga yang paling signifikan pada kuartal ketiga lalu adalah biaya perjalanan liburan internasional liburan dan akomodasi dengan bukukan pertumbuhan sebesar 4,6 persen (yoy), harga buah 8,2 persen (yoy) dan harga properti juga tumbuh sebesar 4,6 persen (yoy). Sementara penurunan harga yang paling signifikan tercatat pada harga sayuran turun sebesar -5,9 persen (yoy), harga peralatan telekomunikasi dan jasa turun sebesar -2,0 persen (yoy) dan harga bahan bakar kendaraan bermotor turun sebesar -1,7 persen (yoy).

Meski laju inflasinya sejauh ini masih di bawah 2 persen, hingga hari ini Bank Sentral Australia (RBA) masih bertahan pada target inflasinya di tahun ini yang berada di kisaran 2 – 3 persen. Harus dipahami bahwa Australia termasuk salah satu Negara maju yang tidak memiliki tingkat suku bunga normal namun tidak seperti Negara maju lainnyaseperti Amerika Serikat, kawasan euro, Jepang dan Inggris dimana suku bunga acuan bank sentralnya sudah mendekati nol. Optimisme RBA tidak berhenti disitu, pasalnya meski berbagai pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju maupun berkembang sudah dilakukan oleh para bank sentral maupun pemerintahnya, RBA tetap kokoh pada pendirian bahwa Australia masih jauh dari pemangkasan proyeksi pertumbuhan dikarenakan tingkat suku bunga acuannya yang masih lebih normal dibandingkan Negara maju lainnya.

 

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here