Tiongkok Berhasil Cetak Rekor Surplus Perdagangan Tertinggi

261

Setelah selama 2 bulan  berturut  perdagangan luar negeri Tiongkok berhasil mencetak pertambahan surplus pada kas negaranya, pada bulan Okober perdagangan negara tersebut berhasil mencetak rekor tertinggi dalam pencapaiaan surplus sepanjang sejarah. Rekor tersebut dipicu oleh anjloknya kinerja impor.

Surplus perdagangan Tiongkok yang dilaporkan kantor Bea Cukai akhir pekan lalu naik ke posisi USD616.64 miliar pada bulan Oktober 2015, naik signifikan  dari surplus USD45.40 miliar yang dilaporkan tahun sebelumnya tetapi di bawah konsensus pasar. Ini adalah surplus perdagangan terbesar dalam catatan, karena impor turun lebih dari ekspor.

China Balance of Trade

Ekspor yang mendorong terjadinya surplus perdagangan menurun pada bulan Oktober, ekspor menurun 6,9 persen yoy menjadi USD192.41 miliar, merosot dibandingkan dengan penurunan 3,7 persen di bulan sebelumnya. Namun impor lebih merosot lagi 18,8 persen  menjadi USD130.77 miliar setelah penurunan 20,4 persen pada bulan September. Impor bulan Oktober merupakan penurunan impor 12 bulan berturut- sebagai akibat dari penurunan harga komoditas dan melemahnya permintaan.

Jika dilihat kinerja selama 10 bulan pertama tahun 2015 ini, ekspor turun 2,5 persen  dipicu oleh turunnya ekspor batubara  hingga -27,7 persen dan minyak sulingan hingga -29,0 persen). Namun jika didata lagi, ekpor logam mulia juga turun hingga -68,5 persen. Tapi pada bulan tersebut terjadi kenaikan ekspor minyak mentah hingga 300 persen lebih.  

Jika melihat negara yang menjadi partner dagang utamanya, penurunan ekspor paling besar ke  Hong Kong (-12,5 persen), Jepang (-9,5 persen), negara-negara ASEAN (-9,8 persen) dan Afrika Selatan (-17,2 persen). Namun kenaikan ekspor terjadi  pada India (8,4 persen),  Amerika Serikat (5,2 persen), Rusia (+ 5,5 persen).

Untuk penurunan impor terbesar hampir merata dilakukan pada semua negara partner dagang utama terkecuali Vietnam dan Kanada. Meski data ini mengembirakan pasar Tiongkok bagi Australia data ini menekan perdagangan sahamnya oleh penurunan impor Tiongkok.

 

 

Joel/VBN/VMN/Analyst Vibiz Research Center
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here