Indeks Dollar Mendekati Level 100, Rupiah Tertekan Menembus 13.800

252

Mata uang rupiah pada perdagangan hari Rabu ini (18/11) menutup pasar dengan terseok sekitar 0,5% ke level Rp13.820 per 1 dollar AS-nya, dari penutupan pasar kemarin di Rp13.746. Keputusan Bank Indonesia kemarin sore untuk mempertahankan BI Rate pada level terakhir di 7,50%, dan GWM Rupiah yang diturunkan sebesar 0,50% ke posisi 7,50% agaknya tidak cukup untuk mendongkrak apresiasi rupiah di pasar. Tekanan terbesar nampaknya berasal dari penguatan dollar AS itu sendiri di pasar uang global.

Analisis Vibiz Research memantau U.S. Dollar Index –indeks yang membandingkan dollar AS terhadap enam mata uang global- saat ini terus menanjak ke sekitar level 99,420, dan sempat bertengger di level 99,800 hari ini. Dollar AS terlihat sedang dalam rally bullish-nya berpeluang menembus level 100 dengan resistant di 100,380. Kalau itu terjadi, kemungkinan rupiah akan tergerus ke sekitar posisi 14.500.

Vibiz Research melihat bahwa dollar AS terangkat karena menjadi pilihan investor yang memburu mata uang yang relatif aman –atau safe-haven– di tengah situasi kisruh di Perancis yang terus memburu otak pelaku teror akhir minggu lalu. Untuk mata uang dollar preferensi pasar ditambah dengan kans menguatnya sehubungan dengan semakin dekatnya waktu the Fed menaikkan suku bunganya di bulan Desember ini.

Sementara itu di tempat lain, di pasar bursa, IHSG ditutup turun tipis 3,04 poin (0,07 persen) pada 4.497,91. Tercatat ada 98 saham hijau, 152 saham merah, dan 88 saham stagnan. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 4,23 triliun dengan volume 3,35 miliar lot saham. Asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp 8,7 miliar.

 

 

Joel/VMN/VBN/ Senior Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here