Apakah Ekonomi Sudah Benar Pulih, Sehingga The Fed Siap Menaikkan Bunga?

316

Notulensi anggota dewan kebijakan Federal Reserve AS terakhir menunjukkan the Fed memperkirakan bahwa ekonomi Amerika Serikat akan cukup kuat pada Desember ini untuk mendukung kenaikan suku bunga. Signal ini mengundang pertanyaan berikut: apakah perekonomian Amerika saat ini sudah kembali kuat, dan sudah pulihkah perekonomian dunia?

The Fed, dalam sejarahnya, telah melonggarkan terus kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga dari posisi 5,25% ke 1% dalam periode Juni 2006 sampai dengan Oktober 2008. Kondisi ekonomi Amerika yang waktu itu dalam resesi terhantam kasus subprime mortgage telah memaksa the Fed memutuskan suku bunga sangat rendah 0,25% mulai Desember 2008.

Dengan demikian, bila Desember 2015 ini the Fed mulai menaikkan suku bunganya, itu adalah yang pertama setelah genap tujuh tahun dalam kebijakan suku bunga sangat rendah (ultra low zone policy). Tercermin dari periode ini bahwa resesi yang dialami pereknomian Amerika kali ini sangat parah dan panjang. Indonesia saja untuk relatif “cukup pulih” dari kondisi krisis ekonomi waktu “krismon” 1998 lalu, hanya memerlukan waktu sekitar dua tahun. Dari pertumbuhan ekonomi negatif kembali ke positif yang stabil. Lalu, bila dinilai the Fed akan menaikkan bunganya apakah itu menandakan bahwa ekonomi Amerika –dan juga dunia- sudah layak disebut pulih?

 

Ekonomi Global Masih Rapuh

Menarik menyimak pendapat dari Global Chairman dan CEO EY (Ernst & Young), Mark Weinberger, saat ditanya oleh CNBC pendapatnya terkait rencana kenaikan suku bunga oleh the Fed ini. Mark berpendapat bahwa kondisinya mungkin sudah cukup matang untuk kenaikan bunga di Desember bagi Amerika, tetapi ekonomi global saat ini masih tetap tidak pasti, rapuh, dan ter-fragmentasi atau terpecah-pecah (CNBC, 19/11/2015).

“Ekonomi AS saat ini stabil, tetapi masih mengandung badai. Anda sedang melihat suatu ketidakpastian yang luar biasa,” jelas Mark.

Ditambahkannya ,”Lihat kepada perekonomian keseluhan: suku bunga yang rendah, inflasi rendah, harga energi yang rendah,pertumbuhan lapangan kerja yang stabil saja, tingkat gaji yang mulai naik.” Dijelaskannya lagi bahwa memang sedang ada penormalan, namun yang terjadi bukan suatu pertumbuhan yang kuat, kata pimpinan tertinggi EY ini kepada CNBC.

Weinberger juga menerangkan tentang perekonomian yang saling berbeda arah di berbagai belahan dunia. “Sangat menarik untuk melihat kebijakan moneter di seluruh dunia yang saling berbeda arah. ECB di Eropa sedang menuju kepada pelonggaran atau quantitative easing; AS berpikir tentang kenaikan suku bunga, sementara Inggris dan Jepang fokus kepada tersedianya likuiditas. Dampaknya kepada pasar komoditas dan mata uang adalah suatu ketidakpastian yang luar biasa,” terang CEO EY ini.

Mengenai perbedaan kebijakan moneter di antara beberapa bank sentral dunia secara sejalan telah dibahas dalam tulisan terdahulu (The Fed Bakal Menaikkan Suku Bunga; Bagaimana Menyikapinya?, vibiznews 5/11/2015). Memang tidak ada keseragaman kebijakan. Ada yang mau mengetatkan, dan ada yang mau melonggarkan kebijakan moneternya. Mungkin itu juga yang menjadi pertimbangan BI yang terakhir sehingga tetap bertahan saja pada suku bunganya dengan sedikit pelonggaran pada ketentuan GWM rupiah, di tengah cukup gencarnya permintaan dari pihak pemerintah maupun dunia usaha untuk penurunan suku bunga BI Rate.

Kekuatan ekonomi Amerika sendiri saat ini cukup relatif, belum dapat dikatakan sebagai sudah cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi AS rata-rata tahun ini sekitar 2,1%, tidak beda jauh dari rata-rata tiga tahun terakhir yang di sekitar 2%. Dari sisi pasar tenaga kerja memang ada perbaikan yang cukup berarti. Namun, nampaknya masih kurang kuat untuk mendongkrak inflasi dari sisi belanja konsumsi personal AS (core personal consumption expenditures), salah satu yang disebut sebagai indikator favoritnya the Fed, yang termonitor masih tetap melemah dalam 3,5 tahun terakhir.

Dalam kondisi demikian, pengetatan kebijakan moneter Amerika ke depannya masih akan cenderung terbatas, berhati-hati, dan secara bertahap. Hasil notulensi kebijakan the Fed terakhir (November 2015) menunjukkan bahwa para anggotanya siap mendukung kenaikan pada Desember ini sepanjang keputusan berikutnya akan dilandasi dengan kondisi perekonomian Amerika yang terus berkinerja baik.

Tahap-tahap kenaikan bunga selanjutnya dapat disimpulkan akan sangat bergantung kondisi perekonomian AS, yang faktanya masih belum solid juga. Kita juga belum tahu risiko apa yang harus dihadapi dari sisi faktor non ekonomi, seperti situasi geopolitik di Timur Tengah, penyerangan dan perang lawan terorisme yang nampaknya akan memanas ke depan ini, dan lainnya. Faktor-faktor demikian kerap mengganjal pertumbuhan atau pemulihan ekonomi yang masih berjalan terbatas.

 

Antara Risiko atau Peluang

Kondisi fragmentasi atau terpecah-pecah ini memberikan risiko dan sekaligus peluang bagi perekonomian Indonesia. Mengapa? Ini menjadi risiko bila ketidakseragaman kebijakan moneter dunia akan memukul pasar -baik di pasar modal, uang, komoditas, mata uang- menjadi bergejolak atau volatile. Ketidakstabilan kerap menimbulkan ketidakpastian kebijakan ekonomi.

Namun, peluang juga bisa dihasilkan dari kondisi ekonomi saat ini. Kebijakan moneter, misalnya, tidak harus selalu sejalan dengan apa yang terjadi di Amerika. Penulis berpendapat tidak harus kita memperlakukan kebijakan uang ketat karena itu tren berikutnya dari negeri Paman Sam. Mungkin kita dapat bahkan menjalankan pelonggaran moneter seperti yang sedang dijalankan di kawasan Eropa dan China dewasa ini. Lagi pula, uang longgar akan sangat membantu dan mendukung aneka paket kebijakan deregulasi ekonomi yang telah dan akan diluncurkan oleh pemerintah Jokowi.

Seperti India, di tengah pelambatan ekonomi global, negeri ini masih tetap dapat melaju dengan pertumbuhan ekonomi 7% bahkan lebih, dan tetap berkeyakinan akan dapat menambah laju pertumbuhannya itu di tahun-tahun berikutnya. Suatu perekonomian yang melaju kuat melawan arus pelambatan.

 

Mungkinkah di periode berikut ini, India dan Indonesia bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi kawasan Asia, bahkan juga global, sekalipun ekonomi dunia masih saja rapuh? Mengapa tidak? Diperlukan dukungan bersama menembus segala sumber kemandekan pertumbuhan ekonomi selama ini. Kebijakan pemerintah dewasa ini sudah tepat: bangun infrastruktur sebanyaknya di seluruh negeri. Mari kita dukung!

 

alfredBy Alfred Pakasi ,

CEO Vibiz Counsulting
Vibiz Consulting Group

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here