Market Outlook 30 November – 4 Desember 2015

693

Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau fluktuatif, beranjak menguat lalu tergerus profit taking di akhir minggunya, sementara signal pergerakan bursa kawasan cenderung mixed, sehingga secara mingguan bursa ditutup konsolidatif di seputar level 4,560.56.

Untuk minggu berikutnya ini (30 November – 4 Desember) bursa tetap berpotensi melanjutkan penguatannya secara bertahap menghampiri level 4700, sembari mencari arah dari bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 4696 dan 4930, sedangkan support di level 4396 dan kemudian 4207.

Mata uang rupiah seminggu lalu terpantau kembali tertekan dengan US dollar yang sedang melanjutkan keperkasaannya di pasar global karena dipandang sebagai mata uang safe haven, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level 13,805. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,905 dan 14,235, sementara support di level 13,420 dan 13,240.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting, termasuk di antaranya pengumuman suku bunga bank sentral Australia dan Eropa, serta data tenaga kerja Non-Farm Employment Change yang selalu diperhatikan pasar. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:
• Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ISM Manufacturing PMI pada Selasa malam; disambung dengan rilis ADP Non-Farm Employment Change pada Rabu malam; dilanjutkan dengan pidato Chairman the Fed Yellen pada Kamis dini hari serta data tenaga kerja Unemployment Claims dan ISM Non-Manufacturing PMI pada Kamis malam; ditutup dengan rilis perkembangan lapangan pekerjaan Non-Farm Employment Change dan Unemployment Rate pada Jumat malam.
• Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa pengumuman Bank Stress Test Results dari Inggris dan rilis data Manufacturing PMI Inggris pada Selasa sore; diikuti dengan rilis Minimum Bid Rate dari ECB pada Kamis sore yang diperkirakan bertahan di level 0.05%.
• Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis Caixin Manufacturing PMI untuk China dan pengumuman Cash Rate dari RBA Australia pada Selasa pagi yang diperkirakan bertahan di lvel 2.00%.

Pasar Forex
Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terlihat mengalami penguatan di level delapan bulan tertingginya oleh lemahnya euro dan swiss franc oleh rencana pelonggaran moneter untuk mendukung ekonomi kawasan Eropa ini, di mana secara mingguan index dollar AS terpantau menguat ke level 100.050. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau melemah pada 1.0594. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level support pada 1.0525 dan 1.0465 sementara resistance pada 1.0765 dan kemudian 1.0900.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.5041 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.5515 dan 1.5660 sedangkan support pada 1.4960 dan kemudian 1.4855. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir turun tipis ke level 122.85. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 123.76 dan 125.26, serta support pada 122.22 serta level 120.00. Sementara itu, Aussie dollar terpantau turun ke level 0.7193. Range minggu ini akan berada di antara support level di 0.6900 dan 0.6775, sementara resistance level di 0.7385 dan 0.7455.

Pasar Saham
Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum mixed dengan bursa seputar China yang terjerembab di akhir minggu oleh temuan pelanggaran pada sejumlah broker di China. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau mengalami kenaikan tipis ke level 19883. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 20665 dan 20965, sementara support pada level 18640 dan lalu 17820. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 22068. Minggu ini akan berada antara level resistance di 24135 dan 25660, sementara support di 21955 dan 20500.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau melemah dalam perdagangan yang tipis karena liburan Thanksgiving, sementara turunnya harga minyak ikut menekan saham-saham komoditas. Dow Jones Industrial secara mingguan melemah ke level 17,796.06, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 17995 dan 18345, sementara support di level 17200 dan 16730. Index S&P 500 minggu lalu melemah ke level 2,074.41 dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2115 dan 2135, sementara support pada level 2015 dan 1970.

Pasar Emas
Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau lemah di level enam tahun terendahnya oleh kuatnya dollar AS menjelang the Fed menaikkan suku bunganya dan berakhir dalam harga emas dunia yang turun di minggunya yang keenam ke level $1057.15 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1088 dan berikut $1098, serta support pada $1045 dan $1000. Di Indonesia, harga emas terpantau turun ke level Rp463,670.

Pasar yang terus saja bergejolak belakangan ini membuat banyak forum diskusi di antara kalangan investor digiatkan. “Pasar mau ke mana?” begitu yang sering jadi topik hangat diskusi. Memang benar hanya si pasar sendiri yang tahu arah pergerakan pasar. Namun demikian, perilaku pasar dapat dipelajari juga, bukan? Bagi mereka yang telah lama berpengalaman merasakan denyut naik turunnya pasar, biasanya akan cukup bijak untuk melihat pasar dari sudut “bird-eye view”. Vibiznews.com pastinya punya kapabilitas itu sebagai media spesialisasi investasi yang berpengalaman. Mari bersama kami memanfaatkan gerak pasar dan jadilah investor yang ‘profitable’. Tetaplah bersama kami, Anda akan terbantu dalam pengambilan keputusan investasi Anda. Terima kasih pembaca karena telah setia bersama kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

alfredBy Alfred Pakasi ,

CEO Vibiz Counsulting
Vibiz Consulting Group

 

 

 

 

 

Editor: Jul Allens

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here