Market Outlook 11-15 Januari 2016

282

 

Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau melemah oleh sentimen pelemahan bursa saham global sehingga IHSG menutup perdagangan pekan pertama tahun 2016 dengan anjlok -1% ke level 4,546.28. Untuk minggu berikutnya ini (11-15 Januari) bursa akan cenderung menguat terbatas, dimana secara mingguan IHSG berada antara resistance level di posisi 4670 dan 4730, sedangkan support di level 4480 dan kemudian 4410.

Mata uang rupiah seminggu lalu terpantau melemah di tengah penguatan kembali nilai dollar secara global; rupiah menutup pekan perdagangan pertama tahun 2016 dengan turun-0,65%, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level 13,923. Kurs USD/IDR pada minggu ini diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 14,145 dan 14,245, sementara support di level 13,800 dan 13,640.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting, cukup ramai termasuk data Non-Farm Employment Change yang kerap jadi pusat perhatian pasar. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:
• Dari kawasan Amerika: berupa rilis data JOLTS Job openings pada Selasa malam; dilanjutkan dengan data tenaga kerja Unemployment Claims pada Kamis malam; dan ditutup dengan rilis Retail Sales, PPI dan UoM Consumer Sentiment.
• Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Manufacturing Production Inggris pada Selasa sore dan UK rate pada Kamis sore.
• Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Trade Balance Tiongkok pada Selasa pagi, data Employment Change Australia pada Kamis pagi.

Pasar Forex
Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terlihat melemah dari penguatan sebelumnya yang membuat dollar index mencatatkan loss 0,25% pada pekan pertama tahun 2016, di mana secara mingguan index dollar AS terpantau jatuh ke level 98.36. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau menguat 0,48% pada 1.0920. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level support pada 1.0852 dan 1.0818 sementara resistance pada 1.1005 dan kemudian 1.1070.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah 1,4% ke level 1.4527 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.4600 dan 1.4780 sedangkan support pada 1.4465 dan kemudian 1.4367. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah tajam ke level 117.50. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 117.85 dan 118.92, serta support pada 116.26 serta level 115.75. Sementara itu, Aussie dollar terpantau anjlok ke level 0.6975. Range minggu ini akan berada di antara support level di 0.6908 dan 0.6815, sementara resistance level di 0.7000 dan 0.7120.

Pasar Saham
Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia terjadi pelemahan tertekan anjloknya bursa Tiongkok bahkan perdagangan harus dihentikan karena system pemutus sirkuit menghentikan otomatis perdagangan karena anjlok melebihi 7%, dan hal tersebut terjadi sua kali dalam minggu ini, sehingga menimbulkan kekuatiran perlambatan Tiongkok. Namun dengan dibatalkannya system pemutus sirkuti tersebut dan pemerintah Beijing mulai menguatkan Yuan, maka pasar mulai tenang, namun kekuatiran Tiongkok masih ada dan masih dicermati investor. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau mengalami penurunan 7% di level 17697. Minggu ini jika dilihat dari data indikator penting seperti Current Account, Consumer Confidence, Machinery Orders, diindikasikan menurun, sehingga dapat menekan indeks Nikkei. Rentang pasar saat ini antara level support di level 16193 dan 15204, sementara support pada level 18100 dan lalu 19018.

Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah 6,5% di level 20,453, diperkirakan minggu ini akan bergerak sideways cenderung turun mengikuti perkiraan data Tiongkok yang diindikasikan mixed cenderung melemah Kecuali ada data fundamental kuat yang dapat mengangkat bursa HongKong. Minggu ini akan berada antara level support di 19378 dan 18557, sementara support di 21346 dan 22142.

Bursa saham Wall Street awal tahun minggu lalu terpantau melemah tertekan kekuatiran Tiongkok dan pertumbuhan global serta pelemahan minyak mentah. Indeks Dow Jones turun 6,19 persen selama seminggu ke level 16,346.45, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 16798 dan 17282, sementara support di level 15874 dan 15401. Index S&P 500 jatuh 5,96 persen untuk minggu ini ke level 1,922.03 dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 1977 dan 2046, sementara support pada level 1854 dan 1797.

Pasar Emas
Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau menguat 2,2% dengan dimanfaatkannya emas sebagai komoditas safe haven ditengah ketidakpastian pasar dan kekuatiran Tiongkok dan perlambatan global serta geopolitik Timur Tengah. Namun diperkirakan dengan meredanya kekuatiran Tiongkok dan global, maka dolar akan menguat kembali dan menekan harga emas. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1128 dan berikut $1152, serta support pada $1083 dan $1062.

Mengawali tahun 2016 pasar global bergejolak oleh kekhawatiran ekonomi Tiongkok yang sangat kuat sehingga pasar mengalihkan aset beresikonya ke aset safe haven. Polemik pasar pekan ini juga disebabkan oleh anjloknya harga minyak mentah dunia hingga jatuh ke posisi terendah 12 tahun selain terjadi kenaikan tensi geopolitik wilayah Timur Tengah dan Semenanjung Korea. Harapan baru bagi kita bukanlah tenangnya pasar. Bukan, itu tidak akan pernah terjadi, di samping pasar jadi tidak menarik lagi dalam keserbatenangannya. Harapan itu ada pada penguasaan pengetahuan dinamika pasar yang semakin baik. Untuk hal ini, vibiznews.com siap menjadi teman setia investasi Anda.

 

alfredBy Alfred Pakasi ,

CEO Vibiz Counsulting
Vibiz Consulting Group

 

 

 

 

 

 

Editor: Jul Allens

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here