Kinerja Bursa Saham Merespon Setiap Pidato Kenegaraan Obama

637

Setiap tahunnya dalam bulan pertama, Presiden Amerika Serikat yang menjabat memiliki tradisi berbicara didepan Kongres menyampaikan rencana kerja dan sasaran pemerintahannya sepanjang tahun yang akan dijalani atau biasa disebut State of the Union Address. Demikian juga yang terjadi pada tahun ini, Presiden Barack Obama melakukan pidato kenegaraannya yang terakhir di hadapan Kongres AS semalam (12/01).

Pidato semalam merupakan pidatonya terakhir kali dikarenakan tahun 2016 merupakan tahun terakhir pemerintahannya menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Dalam pidatonya Presiden Obama  mengatakan masih banyak masalah atau peer yang belum selesai dan harus diselesaikan, namun Obama optimis prospek kemitraan dagang  di Trans-Pasifik dan tahun ini masih akan menyelesaikan reformasi pada peradilan kriminal.

Merespon pidato Presiden yang menjabat sejak tahun 2015 dan sudah berpidato dihadapan Kongres AS sebanyak 8 kali dengan pidato yang semalam, bursa saham Amerika alami kinerja yang menguntungkan dan ditutup dengan indeks yang menguat khususnya indeks Dow Jones. Indeks bursa ini berhasil naik 0,72% atau 117 poin dari perdagangan sebelumnya.

Mengamati respon bursa saham selama Presiden Obama  berpidato di hadapan Kongres AS sejak tahun 2009, respon bursa saham setiap tahunnya cukup imbang. Dimana dalam 8 kali berpidato terdapat 4 kali pidato bursa saham merespon kenaikan indeks selebeihnya menurun.

Dari jumlah pidato yang memicu terjadi kenaikan indeks, pidato yang paling banyak direspon kenaikan indeks Dow Jones yaitu pada pidato kenegaraan tahun 2016, berikutnya pidato tahun 2012 yang membuat indeks Dow Jones naik 0,64%.

Sedangkan dari jumlah pidato yang membuat bursa merugi, pidato yang paling banyak merugikan bursa terjadi pada pidato tahun 2014 ketika setelah itu indeks anjlok hingga 1,19%, berikutnya pidato pada tahun 2010 ketika indeks anjlok hingga 1,3%.

Sebagai informasi dari semua Presiden yang pernah pidato dihadapan Kongres AS setiap tahunnya dan menyebabkan kerugian terbesar pada perdagangan saham merespon pidato tersebut terjadi ketika pidato State of the Union Presiden Bill Clinton pada tahun 2010. Bursa saham langsung anjlok hingga 2,6% setelah pidato tersebut. Dan memang pada tahun tersebut merupakan tahun yang penting dimana the Fed mengetatkan kebijakan moneternya.

 

 

 

Joel/ VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here