Taiwan Miliki Presiden Baru Wanita Pertama, Tantangan Berat Ekonomi Menanti

902

Pemimpin oposisi Taiwan, Tsai Ing-wen itu menuju kemenangan telak dalam upaya dia untuk menjadi presiden wanita pertama di Taiwan, bersama dengan partainya Democratic Progressive Party. Tsai meraih 56 persen suara, dengan hasil dihitung dari 95 persen TPS, menurut Komisi Pemilihan Umum Pusat Taiwan. Kandidat partai yang berkuasa, Eric Chu membuntuti dengan 31 persen. 

Chu mengakui kekalahan, mengatakan dalam sebuah pidato di Taipei Sabtu (16/01) bahwa ia “gagal” dalam kampanye untuk menggantikan Presiden Ma Ying-jeou dan partainya Kuomintang juga akan kehilangan mayoritas di Legislatif Yuan. Dia membungkuk saat ia mengundurkan diri jabatannya sebagai ketua partai, dengan Kuomintang yang ia pimpin menghadapi prospek keluar dari kekuasaan untuk pertama kalinya sejak Chiang Kai-shek memimpin mereka melintasi Selat Taiwan selama perang sipil Tiongkok.

Kemenangan Tsai didorong oleh kecemasan publik atas upah stagnan, harga rumah yang tinggi dan persaingan dengan Cina daratan. Hasilnya menimbulkan tantangan baru kepada para pemimpin Partai Komunis di Beijing, yang menikmati hubungan hangat di bawah Ma bahkan setelah kebijakan perdagangan lintas-selat nya memicu gerakan protes yang dipimpin mahasiswa. Sementara Tsai telah berjanji untuk mempertahankan hubungan dengan Beijing, sedangkan piagam DPP mendukung kemerdekaan dari Tiongkok.

“Ini adalah kegagalan yang sangat, sangat besar untuk KMT,” kata Chao Yung-mau, seorang profesor politik di Universitas Nasional Taiwan di Taipei. “KMT telah berakar dukungan dari beberapa faksi lokal. Tapi jika KMT tidak mencoba untuk menarik dukungan dari pemilih muda dan pemilih tengah, itu bisa menjadi partai kecil dalam lanskap politik Taiwan.”

Sebuah survei oleh jaringan kabel TVBS dilakukan sebelum pemilu hari Sabtu menyarankan bahwa DPP akan memenangkan 59 kursi legislatif dibandingkan dengan 42 untuk KMT. Partai baru New Power Party diperkirakan untuk memenangkan tujuh kursi.

Investor memantau hasil untuk mengukur prospek hubungan ekonomi Taiwan dengan Tiongkok, yang membeli 40 persen dari ekspor. Kemungkinan ketidakpastian politik telah mendorong dana saham lokal performa terbaik, Franklin Templeton SinoAm Conventional Industry Fund, untuk mengurangi kepemilikannya, demikian manajer keuangan Vincent Yang mengatakan Rabu.

Kepemimpinan baru Taiwan akan harus berjalan di atas tali antara melestarikan demokrasi Taiwan dan perdamaian dengan Tiongkok. Mereka juga akan menanggung tugas perbaikan ekonomi yang diperkirakan tumbuh tahun lalu dengan kecepatan yang paling lambat sejak setidaknya 2009. Kegelisahan atas upah stagnan dan kenaikan harga rumah adalah alasan utama mengapa para pemilih telah menjauhi partai Ma dan mendukung Tsai.

 

Freddy/VMN/VBN/Analyst Vibiz Research Center
Editor : Asido Situmorang
image : wikipedia

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here