Dampak Positif Pembangunan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

900

Peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan infrastruktur kereta api cepat Jakarta-Bandung, hasil kerja sama besar antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT), diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, Kamis (21/01) di Kebun Teh Mandalawangi Maswati, Bandung Barat, Jabar.

Pembangunan infrastruktur kereta api cepat ini sejalan dengan dilakukannya percepatan pembangunan infrastruktur dan juga percepatan pembangunan perhubungan, dalam rangka menggerakkan ekonomi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,3% tahun 2016 ini.

Presiden Jokowi menegaskan, pembangunan kereta api cepat ini dalam rangka memasuki era kompetisi, persaingan, efisiensi, kecepatan, competitiveness, dan daya saing. 

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia–Cina (KCIC) Hanggoro Budi Wiryawan mengatakan, kereta api cepat Jakarta–Bandung itu dibangun dengan investasi 5,573 miliar dolar AS, dan tidak menggunakan dana APBN, serta tanpa adanya jaminan pemerintah namun dibayai secara mandiri oleh konsorsium BUMN Indonesia dan Konsorsium RAILWAYS dengan skema business to business.

Konsorsium BUMN Indonesia tersebut, terdiri atas PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Keempat perusahaan ini beberapa waktu lalu telah membentuk PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), selanjutnya berkolaborasi dengan Konsorsium Cina mendirikan perusahaan patungan dengan nama PT Kereta Cepat Indonesia–Cina (KCIC) untuk membangun Kereta Cepat Jakarta–Bandung.

Target proyek ini adalah menyelesaikan target konstruksi tahun 2018, dan sudah dapat beroperasi tahun 2019 mendatang.

Kereta cepat Jakarta–Bandung ini akan menghubungkan empat stasiun, yaitu Halim, Kawarang, Walini, dan Tegalluar, tidak jauh dari kawasan Gedebage yang nantinya akan menjadi pusat pemerintahan kota Bandung. Total panjang jalur yang dilalui oleh kereta cepat Jakarta–Bandung adalah 140,9 km.

Di setiap stasiun, akan dibangun Transit Oriented Development (TOD) untuk mendorong lahirnya sentra ekonomi baru di koridor Jakarta–Bandung. Di Walini misalnya, akan dibangun Kota Baru Walini, dan di Tegalluar juga dibangun kawasan industri kreatif berbasis IT.

Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung, akan menyerap 39.000 tenaga kerja pada saat konstruksi, 20.000 tenaga kerja pada saat TOD, dan 28.000 tenaga kerja pada saat operasional TOD.

Kereta cepat Jakarta–Bandung itu nantinya mampu mengangkut 583 orang sekali jalan, dan dalam situasi puncak kereta dapat digabungkan sehingga total penumpang bisa melebihi 1000 orang. Dalam sehari direncanakan kereta cepat Jakarta–Bandung akan beroperasi selama 18 jam.

Pembangunan proyek kereta api cepat ini jika dilihat akan memberikan berbagai manfaat yang dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, dengan adanya pembukaan lapangan kerja, pembangunan kota-kota baru, yang tentunya juga akan memunculkan pergerakan ekonomi, baik di setiap stasiun maupun di kota-kota baru yang akan dibangun.

 

Freddy/VMN/VBN/Analyst Vibiz Research Center
Editor : Asido Situmorang
image : setkab RI

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here