Indeks Shanghai Bukukan Kenaikan Mingguan 0,5%; Pasar Masih Menantikan Stimulus Tiongkok

1860
indeks shanghai

Indeks Shanghai di Bursa Tiongkok pekan lalu mencatatkan hasil mingguan positif, terbantu pengaruh positif global di akhir pekan dengan adanya harapan stimulus dari Bank Sentral Eropa dan Bank of Japan. Penguatan indeks Shanghai juga terbantu rally di pasar saham global dengan kenaikan harga minyak mentah.

Pada perdagangan saham global awal pekan ini, pasar saham global terfokus pada rilis data pertumbuhan ekonomi Tiongkok, dimana berdasarkan hasil konsensus melalui survey para ekonom diindikasikan akan menurun dan perkiraan global akan terjadi lagi pelemahan global akibat buruknya data ekonomi Tiongkok.

Hasil buruk perkiraan perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tersebut ternyata terealisasikan pada Selasa lalu. Ekonomi Tiongkok tumbuh sebesar 6,8 persen pada kuartal keempat 2014, tergelincir 0,1 persen dari pertumbuhan 6,9 persen pada kuartal ketiga. Hal ini sejalan dengan perkiraan median dalam jajak pendapat Reuters. Sedangkan dalam pertumbuhan tahunan yang sama di 6,9 persen, turun dari 2014 sebsar 7,3 persen, dan laju paling lambat ekspansi ekonomi sejak tahun 1990.

Produksi industri untuk Desember naik 5,9 persen pada laju tahunan, turun dari perkiraan jajak pendapat Reuters untuk peningkatan 6,0 persen. Pada laju tahunan, produksi industri naik 6,1 persen.

Penjualan ritel juga turun sedikit jauh dari harapan untuk Desember, naik 11,1 persen pada laju tahunan, dibandingkan dengan perkiraan untuk 11,3 persen dan sedikit lebih lemah dari kenaikan 11,2 persen bulan November.

Namun respon bursa Tiongkok di luar perkiraan, justru menguat dengan harapan semakin mendorong pemerintah Beijing mengeluarkan stimulus segera untuk menguatkan ekonomi Tiongkok. Penguatan positif bursa Tiongkokpun menguatkan bursa Asia dan global.

Pada hari Selasa, bank sentral China juga menambahkan 150 miliar yuan likuiditas melalui standing lending facility (SLF), alat pinjaman jangka pendek. PBOC menyuntikkan dana biasanya untuk meringankan krisis uang tunai musiman sebelum liburan Tahun Baru Imlek selama seminggu China, yang dimulai 8 Februari tahun ini.

Stimulus tersebut dilanjutkan pada hari Kamis. Bank Rakyat China menyuntikkan 40 miliar yuan ke dalam sistem keuangan pada Kamis melalui reverse repurchase agreements (reverse repo), melanjutkan langkah sebelumnya untuk mengurangi tekanan likuiditas musiman menjelang liburan Tahun Baru Imlek.

PBOC menawarkan 11 miliar yuan senilai tujuh hari reverse repos, pada tingkat bunga 2,25 persen, dan 29 miliar yuan senilai 28-hari reverse repos, dengan tingkat bunga 2,6 persen, dalam operasi pasar terbuka, bank sentral mengatakan di situsnya. Pergerakan ini membawa PBOC melakukan injeksi bersih dana 315 miliar yuan minggu ini.

Tapi harapan stimulus tersebut ternyata belum sepenuhnya sesuai harapan investor. Apa yang dilakukan pemerintah Beijing tampaknya belum membangkitkan harapan para investor, sehingga membuat kepercayaan dan harapan investor kembali melemah. Maka pasar saham Tiongkok kembali melemah Rabu dan Kamis, dan kembali menekan pasar global.

Penguatan bursa Tiongkok pekan ini justru datang dari harapan stimulus eksternal dari Bank Sentral Eropa dan Bank of Japan.

Mario Draghi, Presiden Bank Sentral Eropa, mengatakan Kamis bank sentral akan “meninjau dan karena itu mungkin mempertimbangkan kembali” kebijakan pada pertemuan Maret, setelah menjaga suku bunga utama ditahan pada pertemuan Kamis-nya.

Harapan juga tumbuh bahwa Bank of Japan (BOJ) mungkin memperluas langkah-langkah pelonggaran moneter pada pertemuan 28 Januari nya, setelah Nikkei Asia Review melaporkan Jumat BOJ sedang mempertimbangkan “pelonggaran tambahan (kebijakan)” sebagai penurunan harga minyak yang menekan pada target inflasi 2 persen bank.

Hasil stimulus ECB dan BOJ tersebut membawa Indeks Shanghai berakhir di zona hijau, naik 1.25%. Sehingga penguatan akhir pekan tersebut mengakumulasikan hasil positif pekan lalu bagi indeks Shanghai dengan kenaikan mingguan sebesar 0.59%.

Bagaimana pergerakan indeks Shanghai untuk minggu mendatang?

Pada minggu mendatang terpantau belum ada data indikator ekonomi Tiongkok yang akan dirilis.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan indeks Shanghai masih berpotensi mengalami pelemahan, jika pada pekan depan ini pemerintah Beijing tidak memberikan stimulus penguatan ekonominya. Stimulus kebijakan ekonomi dan juga penetapan tingkat midpoint Yuan menjadi perhatian bagi para investor. Pergerakan harga minyak mentah juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi bursa Tiongkok. Indeks Shanghai diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Support 2687-2418 dan kisaran Resistance 3171-3460

 

Freddy/ VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here