Harga Batubara Rotterdam Naik Terdorong Permintaan Kapasitas Listrik Asia

357

Pada akhir perdagangan akhir pekan Sabtu dini hari (20/02), harga batubara Rotterdam naik, mengabaikan pelemahan minyak mentah. Yang menjadi pendorong kenaikan batubara adalah menguatnya permintaan batubara untuk teknologi bersih diAsia.

Harga minyak mentah jatuh pada penutupan perdagangan akhir pekan, Sabtu dinihari (20/02) setelah sentimen kekenyangan global dengan adanya laporan meningkatnya ekspor minyak mentah AS Januari, mengalahkan sentimen rencana oleh beberapa produsen minyak untuk mempertahankan tingkat produksinya. Total pengiriman minyak mentah untuk Januari, ukuran permintaan di AS, naik 0,8 persen, menjadi 19,4 juta barel per hari, tingkat Januari tertinggi sejak 2008, demikuan laporan API, Jumat.
 
Harga minyak mentah berjangka WTI ditutup turun pada $ 29,64 per barel, turun sebesar 3,67 persen, atau $ 1.13. WTI, bagaimanapun, berhasil bangkit 0,67 persen untuk seminggu. Sedangkan harga minyak mentah berjangka Brent turun $ 1,32, atau 3,85 persen, ke $ 32,96 per barel.

Namun pelemahan harga minyak mentah alhir pekan tersebut tidak berhasil melemahkan harga batubara Rotterdam ICE.

Yang mendukung kenaikan batubara adalah meingkatnya permintaan batubara untuk teknologi bersih di Asia.

BMI Research menyatakan pengembangan dan penyebaran teknologi ‘batubara bersih’ di Asia telah meningkat, karena kawasan ini terus meningkatkan kapasitas listrik tenaga batu bara, di tengah kecemasan internasional tentang meningkatnya emisi karbon. Meskipun optimisme tumbuh, BMI yakin bahwa implementasi teknologi ‘batubara bersih’ hanya akan alami kemajuan yang terbatas selama dekade berikutnya, karena biaya tinggi dan kelangsungan hidup komersial yang terbatas.

BMI menyatakan negara-negara di kawasan Asiaterus melihat batubara sebagai bahan bakar fundamental untuk sektor listrik, mengingat ketersediaan secara luas dan keterjangkauan. BMI memperkirakan batubara untuk mempertahankan dominasinya dalam campuran kekuatan Asia selama dekade mendatang, untuk 51% dari total pada tahun 2025.

Sejalan dengan proyeksi ini, negara-negara di kawasan itu terus meningkatkan kapasitas listrik tenaga batu bara domestik mereka. Selain dua pasar tenaga batubara terbesar di Asia (Tiongkok dan India), Vietnam, Pakistan, Indonesia, Filipina, dan Korea Selatan merupakan contoh penting dari negara-negara yang sedang membangun kapasitas batubara yang luas, dengan semua memiliki pipa proyek listrik tenaga batu bara lebih dari 9 gigawatt (GW) menurut Key Projects Database (KPD).

Di akhir perdagangan harga batubara Rotterdam berjangka untuk kontrak paling aktif yaitu kontrak bulan Maret 2016 berada di posisi 44,30 dollar per ton. Harga komoditas tersebut mengalami penguatan sebesar 0,75 dollar atau setara dengan 1,72 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.  

Sementara itu harga batubara kontrak SGX IHS McCloskey Indonesian Sub-Bit FOB Index Futures bulan Februari 2016 hari ini ditransaksikan pada posisi 36,50 dollar per ton.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa pergerakan harga batubara berjangka Rotterdam pada perdagangan selanjutnya masih akan dipengaruhi oleh kinerja harga minyak mentah. Melemahnya harga komoditas ini diperkirakan akan berlangsung terus akibat permintaan global yang masih sangat lemah dan sentimen pelemahan harga minyak mentah akibat kekenyangan pasokan global.

Harga batubara berjangka berpotensi mengetes level support pada posisi 43,80 dollar dan support kedua di level 43,30 dollar. Sedangkan level resistance yang akan dites jika terjadi peningkatan harga ada pada posisi 44,80 dollar dan 45,30 dollar.

 

Freddy/VMN/VBN/Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here