Harga Minyak Mentah Turun Tertekan Berbagai Sentimen Bearish

443

Harga minyak mentah berakhir turun pada penutupan perdagangan hari Kamis, dan membukukan kerugian mingguan pertama mereka dalam lebih dari satu bulan, tertekan oleh berbagai sentimen bearish yaitu catatan persediaan minyak mentah AS yang tinggi, melemahnya pasar ekuitas, dan dolar yang kuat.

Data pemerintah AS pada hari Rabu menunjukkan persediaan minyak mentah melonjak 9,4 juta barel pekan lalu, tiga kali lebih dari perkiraan para analis dalam jajak pendapat Reuters.

Sementara itu, dilaporkan jumlah kilang minyak yang beroperasi di Amerika Serikat turun 15 pada minggu sebelumnya, perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes melaporkan Kamis. Jumlah kilang minyak naik minggu lalu setelah 12 minggu pemotongan. Namun sentimen ini belum berhasil mengangkat harga minyak mentah.

Dengan harga minyak mentah berjangka turun sebanyak 6 persen sejak Selasa, sebagai penurunan terbesar dalam dua hari sejak pertengahan Februari, analis mengatakan rally minyak dari lima minggu terakhir yang membawa harga naik dari pertengahan tingkat $ 20 dapat turun lagi.

Harga minyak mentah berjangka AS turun 33 sen, atau 0,8 persen, pada $ 39,46 per barel. Untuk minggu ini, turun sekitar 5 persen, penurunan mingguan pertama sejak pertengahan Februari.

Harga minyak mentah berjangka Brent turun 2 sen menjadi $ 40,45 per barel. Ini mencatat penurunan hampir 3 persen pada pekan ini, yang menggeser kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Januari.

Lihat : Sentimen Kekenyangan Global Masih Menekan Harga Minyak Mentah Sesi Asia

Penguatan harga minyak mentah datang dengan harga energi bergerak lebih tinggi, dengan bensin berjangka naik sekitar 0,75 persen.

Awal pekan ini, kedua harga minyak acuan global ini naik lebih dari 50 persen dari posisi terendah tahunan yang dicapai pada bulan Januari.

Pasar Saham di Wall Street, perdagangan yang seiring dengan minyak mentah sebagian besar tahun ini, menuju penurunan mingguan pertama mereka dalam enam minggu.

Kenaikan mingguan pertama dolar AS sejak akhir Februari juga membuat minyak dan komoditas lainnya dalam mata uang dollar AS kurang terjangkau untuk pemegang euro dan mata uang lainnya.

Rumah perdagangan memperkirakan bahwa kelebihan pasokan minyak mentah setidaknya terjadi dua tahun lagi, sementara Rusia tampak untuk mengekspor lebih banyak minyak mentah ke Eropa pada bulan April dari bulan apapun sejak 2013.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah masih berpotensi melemah dengan sentimen kekenyangan global. Harga diperkirakan menembus kisaran Support $ 39,00-$ 38,50, dan jika harga rebound akan menembus kisaran Resistance $ 40,00-$ 40,50.

 

 

Freddy/VMN/VBN/Analyst Vibiz Research Center
Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here