Inflasi Jepang Datar 10 Bulan, Upaya BOJ Belum Membuahkan Hasil

468

Inflasi Jepang datar secara tahunan pada bulan Februari karena biaya energi yang rendah dan konsumsi yang lemah, membuat bank sentral di bawah tekanan untuk menambahkan stimulus bahkan setelah pelonggaran kebijakan kurang dari dua bulan yang lalu.

Harga konsumen inti di Tokyo, dianggap sebagai indikator utama dari harga nasional, menandai penurunan tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun pada bulan Maret, menunjukkan bahwa inflasi akan tetap terkendali pada melemahnya permintaan karena ekonomi terbesar ketiga di dunia itu terkena resesi.

japan-core-inflation-rate

Data ini memperkuat pandangan pasar yang dominan bahwa Bank of Japan akan dipaksa untuk memangkas proyeksi inflasi dan mendorong kembali waktu untuk mencapai target harga 2 persen pada tinjauan kuartalan dari proyeksi bulan depan.

Waktu terus berlalu, Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda, yang meramalkan inflasi akan mempercepat mencapai 2 persen dalam waktu sekitar satu tahun. Bahkan dengan adopsi bank sentral pada bulan Januari dari tingkat suku bunga negatif disamping pembelian aset BOJ yang belum pernah terjadi sebelumnya, harga tidak naik.

Lihat : Aktifitas Manufaktur Jepang Kontraksi Pertama Kali Dalam Setahun

Indeks inti harga konsumen (CPI), yang mencakup produk minyak tapi tidak termasuk harga makanan segar yang mudah menguap, tidak berubah pada Februari dari tahun sebelumnya, data pemerintah menunjukkan pada hari Jumat (25/03). Hasil tersebut dibandingkan dengan perkiraan pasar rata-rata dengan kenaikan 0,1 persen dan diikuti pertumbuhan datar yang ditandai pada bulan Januari.

CPI inti Tokyo turun 0,3 persen pada tahunan hingga Maret, pertama kali turun sejak April 2013 dan lebih besar dari perkiraan pasar rata-rata untuk penurunan 0,2 persen.

BOJ mengejutkan pasar pada bulan Januari dengan mengadopsi suku bunga negatif untuk mencegah perlambatan pertumbuhan di luar negeri dan gejolak pasar keuangan untuk pemulihan ekonomi yang rapuh.

Tapi langkah itu telah gagal untuk meningkatkan harga saham dan sentimen perusahaan telah memburuk sejak saat itu karena ekspor terpukul dengan permintaan pasar yang turun.

Perusahaan tetap mewaspadai kenaikan upah, menambah keraguan pasar yang berkembang bahwa inflasi akan mempercepat menuju 2 persen secepat proyek BOJ.

BOJ sebagian besar menyalahkan penurunan biaya minyak untuk menjaga inflasi terkendali dan berpendapat bahwa itu yang mendasari tren inflasi terus meningkat.

Tapi indeks inflasi bank sentral sendiri, yang tidak termasuk efek dari biaya energi dan makanan segar tapi termasuk harga makanan olahan, mungkin menunjukkan bahwa permintaan domestik lamban mungkin lebih berkaitan dengan inflasi melambat.

 

Freddy/ VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here