Market Outlook 23-27 May 2016

427

Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau melemah kembali dalam empat minggu berturut-turut oleh melorotnya mata uang rupiah yang memberikan sentimen negatif di pasar, sehingga secara mingguan bursa ditutup melemah -1.05% ke level 4,711.88. Untuk minggu berikutnya ini (23-27 Mei) IHSG kemungkinan masih berpotensi dalam tekanan dengan investor memperhatikan kemungkinan kenaikan suku bunga dari the Fed pada Juni. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 4825 dan 4920, sedangkan support di level 4650 dan kemudian 4545.

Mata uang rupiah seminggu lalu terlihat melorot tertekan oleh mata uang dollar yang menanjak secara global karena sinyal dari the Fed yang kemungkinan akan menaikkan suku bunganya pada bulan Juni, di mana secara mingguan rupiah melemah signifikan ke level 13,605. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,692 dan 13,800, sementara support di level 13,135 dan 13,075.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data New Home Sales pada Selasa malam; dilanjutkan dengan rilis Crude Oil Inventories pada Rabu malam; kemudian data tenaga kerja Unemployment Claims dan Core Durable Goods Orders m/m pada Kamis malam; diakhiri dengan rilis Prelim GDP q/q dan testimony dari Fed Chair Yellen pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data German ZEW Economic Sentiment pada Selasa sore; diteruskan dengan rilis German Ifo Business Climate pada Rabu sore; diikuti dengan data Second Estimate GDP q/q Inggris pada Kamis sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Private Capital Expenditure q/q Australia pada Kamis pagi.

Pasar Forex
Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terlihat menguat setelah notulensi the Fed mengindikasikan akan bisa menaikkan suku bunganya pada bulan Juni karena ekspektasi perbaikan data inflasi dan tenaga kerja AS, di mana secara mingguan index dollar AS terpantau menguat ke level 95.260.

Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau melemah ke level 1.1217. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level support pada 1.1220 dan 1.1135 sementara resistance pada 1.1620 dan kemudian 1.1710.

Poundsterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.4491 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level support pada 1.4330 dan kemudian 1.4010, sedangkan resistance pada 1.4770 dan 1.4805.

Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 110.17. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 113.80 dan 114.90, serta support pada 105.20 serta level 101.10.

Sementara itu, Aussie dollar terpantau turun tipis ke level 0.7224. Range minggu ini akan berada di antara support level di 0.7110 dan 0.7015, sementara resistance level di 0.7520 dan 0.7720.

Pasar Saham
Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat agak mengabaikan komentar pejabat the Fed mengenai kemungkinan the Fed menaikkan bunganya pada bulan Juni; pasar perkirakan kemungkinan itu masih kecil. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau mengalami penguatan ke level 16736. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 17635 dan 18570, sementara support pada level 15990 dan lalu 15470. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 19852. Minggu ini akan berada antara level resistance di 21640 dan 22200, sementara support di 18875 dan 18285.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau membukukan pelemahannya khususnya pada Dow yang turun dalam empat minggu berturut-turut, sebagian karena isyu kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed yang bakal lebih cepat dari perkiraan pasar. Dow Jones Industrial secara mingguan melemah -0.2% ke level 17,495.33, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 17925 dan 18185, sementara support di level 17328 dan 16815. Index S&P 500 minggu lalu menguat tipis 0.23% ke level 2,045.76 dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2111 dan 2135, sementara support pada level 2025 dan 2001.

Pasar Emas
Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau kembali dalam koreksi terpicu karena dollar yang sedang menanjak, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang melemah ke level $1252.50 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1307 dan berikut $1322, serta support pada $1208 dan $1180. Di Indonesia, harga emas terpantau naik ke level Rp548,047.

Banyak pelaku pasar saat ini bersikap serba hati-hati terhadap gejolak pasar yang kadang sepertinya kurang logis atau over-reactive. Apapun itu, tidak mudah bereaksi, bahkan secara logis pun, pada saat pasar sedang heboh dan bergonjang-ganjing. Ini, antara lain, menunjukkan kuatnya fenomena psikologis dalam pasar, baik dalam individu per investor maupun di level pasar secara universal yang bisa disebut sebagai psikologi pasar. Bagaimana pun, tidak mudah untuk mengikuti, memahami, apalagi memanfaatkan gejolak pasar yang naik turun. Jangan kuatir, Vibiznews.com adalah ahlinya untuk membantu menganalisis pasar bagi Anda dan memetik keuntungan dari dinamikanya. Mungkin Anda telah membuktikannya juga sebelum ini. Terima kasih telah bersama kami, ketahuilah kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here