Market Outlook 6 – 10 June 2016

365

Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau menguat kembali -sesuai prediksi- walau agak terbatas karena masih kurangnya sentimen positif baru, sehingga secara mingguan bursa ditutup menguat ke level 4,853.92.

Untuk minggu berikutnya ini (6-10 Juni) IHSG kemungkinan akan sempat terhadang oleh pengaruh negatif bursa global di awal pekan namun masih berpotensi bergerak lagi menuju level 4900’an. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 4875 dan 4920, sedangkan support di level 4690 dan kemudian 4650.

Mata uang rupiah seminggu lalu terlihat masih melemah dengan mata uang dollar yang sempat rally di pasar global sampai pengumuman data tenaga kerja di akhir pekan, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level 13,645. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,695 dan 13,805, sementara support di level 13,285 dan 13,075.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting, termasuk pengumuman suku bunga bank sentral Australia dan Selandia Baru. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data pidato dari pimpinan the Fed, Yellen, mengenai kebijakan moneter pada Senin malam; dilanjutkan dengan rilis Crude Oil Inventories pada Rabu malam; kemudian data tenaga kerja Unemployment Claims pada Kamis malam; diakhiri dengan rilis Prelim UoM Consumer Sentiment pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Manufacturing Production m/m Inggris pada Rabu sore; diteruskan dengan rilis pidato ECB President Draghi pada Kamis.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis pengumuman suku bunga bank sentral Australia (RBA) pada Selasa pagi yang diperkirakan bertahan di level 1.75% dan dari New Zealand (RBNZ) pada Rabu subuh yang diperkirakan turun ke level 2.0%.

Pasar Forex
Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terlihat anjlok tajam di hari Jumat setelah rilis data tenaga kerja di Amerika yang jauh di bawah ekspektasi –merupakan loss harian terbesar dalam empat bulan terakhir– mengindikasikan the Fed belum akan menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat ini, di mana secara mingguan index dollar AS terpantau merosot ke level 93.880.

Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau melejit ke level 1.1356. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level support pada 1.1055 dan 1.0820 sementara resistance pada 1.1445 dan kemudian 1.1620.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.4518 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level support pada 1.4330 dan kemudian 1.4010, sedangkan resistance pada 1.4770 dan 1.4805.

Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 106.63. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 113.80 dan 114.90, serta support pada 105.20 serta level 101.10.

Sementara itu, Aussie dollar terpantau naik ke level 0.7367. Range minggu ini akan berada di antara support level di 0.7110 dan 0.6975, sementara resistance level di 0.7405 dan 0.7720.

Pasar Saham
Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum mixed sementara penguatan yen telah menekan terutama bursa Nikkei; pasar masih menantikan indikasi kenaikan suku bunga pada bulan Juni atau berikutnya.

Indeks Nikkei secara mingguan terpantau mengalami pelemahan ke level 16642. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 17620 dan 18570, sementara support pada level 15940 dan lalu 15475.

Untuk indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 20947. Minggu ini akan berada antara level resistance di 21645 dan 22200, sementara support di 19600 dan 18875.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau dalam area konsolidasi, namun terkoreksi di akhir minggu setelah rilis data tenaga kerja yang mengecewakan. Dow Jones Industrial secara mingguan melemah terbatas ke level 17,803.98, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 17935 dan 18185, sementara support di level 17328 dan 16815. Index S&P 500 minggu lalu menguat tipis ke level 2,093.47 dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2111 dan 2135, sementara support pada level 2025 dan 2001.

Pasar Emas
Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau melejit pada hari Jumat, merupakan lompatan harian terbesar dalam tujuh minggu terakhir, oleh rilis non farm payroll yang di bawah ekspektasi di mana mengindikasikan kenaikan suku bunga the Fed masih akan molor, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang menguat ke level $1243.85 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1260 dan berikut $1307, serta support pada $1180 dan $1125. Di Indonesia, harga emas terpantau turun ke level Rp528,715.

Pasar investasi kerap kali diwarnai dengan berbagai isyu yang ujungnya kadang membingungkan investor. Berita dari the Fed, atau ECB, atau China, misalnya. Apakah memberi dampak positif atau negatif pada investasi, belumlah jelas. Dalam ketidakjelasan pasar, sejumlah investor memilih menyingkir sejenak dan ambil sikap menunggu atau “wait and see”.  Sikap ini pun adalah bagian dari keputusan investasi. Suatu keputusan untuk tidak berinvestasi dulu sambil menunggu timing yang tepat untuk masuk pasar kembali. Menunggu bisa tidak jelas akhirnya tanpa suatu analisis pasar yang mendalam. Di sini Vibiznews.com siap menjadi rekan dan penasehat pasar bagi Anda dengan terus menyimak berita dan analisis kami. Sekali lagi disampaikan terima kasih telah senantiasa bersama kami karena benar kami ada hanya untuk sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

alfredBy Alfred Pakasi ,

CEO Vibiz Consulting
Vibiz Consulting Group

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here