Orang Kaya Asia Mengurangi Portfolio Properti; Bergeser ke Mana?

517

Suatu survey terbaru di antara orang-orang kaya di Asia memperlihatkan bahwa kelompok individu pendapatan tinggi (High Net Worth Individuals – HNWI) cenderung mengurangi komposisi portfolio jangka panjang yang berfokus kepada properti berganti dengan instrumen saham bursa asing.

Survey dilakukan baru-baru ini oleh East & Partners Asia yang merupakan perusahaan riset pasar pada pasar utang, treasury dan jasa perbankan. East & Partners Asia dalam surveynya telah menginterview para eksekutif puncak dari 100 perusahaan besar di China, Taiwan, Hong Kong, Singapore, Indonesia, Malaysia, Philippines, India, Thailand dan Korea Selatan. Para responden adalah mereka yang terlibat langsung dalam pembentukan kekayaan, demikian dilansir oleh CNBC, 19-07-2016.

Properti biasanya untuk investor kawasan Asia memegang porsi investasi terbesar. Kali ini survey menunjukkan bahwa porsi properti telah turun ke 32,2 persen pada portfolio HNWI, dari porsi 40 persen di survey tiga tahun sebelumnya.

Pergeseran ini sejalan juga dengan meningkatnya alokasi porsi portfolio aset alternatif dari para HNWI Asia tersebut. Disebutkan dalam survey The East yang dilakukan pada bulan Mei 2016 ini, bahwa porsi aset alternatif telah meningkat dari 8 persen pada tiga tahun lalu menjadi 15,8 persen terakhir ini.

Terkait meningkatnya preferensi investasi ke pasar modal, survey menunjukkan para orang kaya Asia ini juga cenderung mengurangi porsi penempatan di bursa domestik, dan beranjak kepada bursa global internasional.

Sementara itu, para HNWI ditemukan mengurangi pengelolaan kekayaan mereka secara mandiri atau pribadi, bergeser kepada manajemen kekayaan dengan mengandalkan advis dari private banker mereka atau penasehat keuangannya. Hampir 70 persen HNWI Asia mengelola kekayaan mereka sendiri pada tiga tahun lalu, tetapi itu telah bergeser kepada kurang dari separuh saja dalam temuan terakhir, demikian laporan dari The East & Partner.

Transformasi dan Tantangannya

Alfred Pakasi, dari Vibiz Consulting, menanggapi temuan survey ini sebagai bentuk transformasi preferensi investasi yang bertambah untuk aset yang berisiko tetapi memberikan peluang gain yang lebih tinggi. Kemungkinan ini juga karena angkatan muda investor kawasan Asia ini sekarang tentunya lebih berlatar belakang pendidikan global sehingga tidak terlalu alergi terhadap bentuk investasi alternatif, maupun yang lebih berisiko tinggi, termasuk pada bursa-bursa internasional. Itu juga tercermin dari rata-rata usia responden yang sekitar 46 tahun. Dapat diduga banyak dari antara mereka adalah ‘second generation investor’ yang telah menempuh pendidikan tinggi dari dunia Barat.

Gambaran ini merupakan tantangan ke depan bagi para penasehat keuangan atau wealth manager, serta juga para private banker. Clients di Asia sekarang semakin canggih dan menuntut gain yang lebih tinggi dan lebih cepat lewat produk investasi yang lebih canggih, lebih variatif, dan dapat mengakomodasi preferensi yang meningkat terhadap aset berisiko.

Perbankan di Indonesia, maupun para penasehat keuangannya harus lebih siap menghadapi tuntutan permintaan nasabah yang meningkat ini. Bila tidak, dengan mudah mereka akan berpaling ke private banker asing yang semakin bebas menawarkan jasanya di Indonesia pada era MEA ini, demikian ditegaskan Alfred kepada Vibiznews (19-07-2016).

J.John/VMN/VBN/ Senior Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here