Obligasi Tabungan Syariah, Sumber Pendanaan Baru Pemerintah Indonesia

328

Indonesia berencana menjual obligasi tabungan syariah untuk pertama kalinya bulan ini, karena pemerintah berinovasi untuk menutup kehilangan pendapatan sebesar $ 16.7 miliar yang disebabkan oleh kemerosotan harga komoditas global.

Kementerian Keuangan akan menerbitkan dua tahun utang syariah untuk periode 22 Agustus-2 September. Target pembelinya adalah para investor individu yang sekarang menempatkan kelebihan kas di deposito bank. Tersedia di investasi minimal 2 juta rupiah ($ 153), total target penjualan sekitar 3,9 trilyun rupiah.

Anjloknya harga komoditas dunia telah meninggalkan Indonesia dengan penurunan pendapatan sebesar Rp. 219 triliun per tahun, memaksa pemerintahan Presiden Joko Widodo mencari upaya untuk menemukan cara-cara baru untuk menutupi kekurangan anggaran selama lima tahun terakhir.

“Memperkenalkan tabungan sukuk adalah benar-benar sesuatu yang sangat inovatif,” kata Sergey Dergachev, manajer senior dari Union Investment Privatfonds GmbH di Frankfrut yang membantu mengawasi $ 13 miliar utang pasar berkembang. “Ini merupakan sinyal positif bagi saya sebagai investor bahwa Indonesia sebagai negara sedang mencari cara alternatif untuk bagaimana menarik investor baru, menemukan produk baru yang inovatif untuk membiayai anggaran dan menambah keragaman sumber pendanaan pemerintah. “

Sukuk, yang tidak dapat diperdagangkan, akan terstruktur sesuai dengan prinsip Wakalah atau lembaga yang mengeluarkannya. Imbal hasil tetap jatuh tempo pada setiap tanggal 19 Agustus dan investor akan diizinkan untuk menebus hingga setengah dari jumlah yang diinvestasikan setelah satu tahun.

Sementara Indonesia sudah sering menerbitkan utang Syariah, yang sebagian besar diambil oleh investor institusi dan dana global. Penerbitan terakhirnya adalah sukuk lima dan sepuluh tahun bernilai $ 2,5 miliar yang pada bulan Maret lalu telah menerima pesanan untuk 3,1 kali jumlah yang ditawarkan.

Nilai penjualan sukuk di seluruh dunia naik 17,4 persen menjadi $ 27 miliar pada 2016, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, menambahkan ke $ 35,6 miliar,saldo akhir tahun lalu.

Deposito perbankan syariah di Indonesia mencatat pertumbuhan tahunan rata-rata 26 persen sejak 2012 mencapai Rp 174.9 triliun pada Mei. Sementara nilai aset perbankan yang sesuai dengan ajaran Al-Quran naik rata-rata 22 persen dalam lima tahun terakhir menjadi Rp. 211.4 triliun.

Sebuah perjuangan yang berkepanjangan akibat melemahnya ekspor utama Indonesia dari minyak kelapa sawit dan karet, telah membebani pendapatan fiskal. Pekan lalu, pemerintah menaikkan target 2016 defisit menjadi 2,5 persen dari produk domestik bruto dari 2,35 persen dan mengatakan akan perlu menaikkan tambahan 17 triliun rupiah untuk menutupi kekurangan.

“Tantangannya pemerintah selalu akan mencari upaya bagaimana untuk mencapai investor baru sehingga tidak membanjiri investor yang sudah ada dengan terlalu banyak penerbitan,” kata Ikhwani Fauzana, kepala perdagangan tarif di PT Bank Negara Indonesia.

Selasti/ VMN/VBN/ Senior Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here