Harga Gula ICE Merosot 2,5 Persen

327

Harga gula berjangka di bursa komoditas ICE Futures New York Kamis dini hari (25/08) berakhir merosot terganjal penguatan dollar AS dan pelemahan minyak mentah.

Dolar AS naik 0,21 persen terhadap sekeranjang mata uang pada perdagangan tipis semalam, dibantu oleh data hari sebelumnya yang menunjukkan lonjakan penjualan rumah baru AS mencapai tertinggi hampir 9 tahun, walaupun kenaikan tertutupi oleh ketidakpastian menjelang pertemuan bank sentral pada hari Jumat. Penguatan dollar AS menekan pergerakan harga gula.

Harga minyak mentah memperpanjang penurunan pada akhir perdagangan hari Kamis dinihari, akibat kenaikan tak terduga persediaan minyak mentah AS yang menghidupkan kembali kekhawatiran tentang tingginya pasokan yang telah menekan harga selama dua tahun terakhir.

Persediaan minyak mentah AS naik 2,5 juta barel menjadi total 523.600.000 barel dalam pekan sampai 19 Agustus karena input kilang menurun dan produksi bensin turun, menurut Administrasi Informasi Energi (EIA). Analis memperkirakan 455.000 barel jatuh.

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) turun $ 1,33, atau 2,77 persen, pada $ 46,77 per barel.

Harga minyak mentah berjangka patokan global Brent turun 93 sen, atau 1,86 persen, pada $ 49,03 per barel, setelah menyentuh intraday rendah $ 49,07.

Lihat : Harga Minyak Mentah Merosot 2,8 Persen Setelah Laporan EIA

Para pedagang mengantisipasi bahwa harga minyak yang lebih rendah akan mendorong produsen tebu lebih memilih mengkonversi tebu menjadi gula dibandingkan etanol.

Pada penutupan perdagangan dini hari tadi harga gula berjangka untuk kontrak paling aktif yaitu kontrak Oktober 2016 terpantau mengalami penurunan. Harga gula berjangka paling aktif tersebut ditutup melemah sebesar -0,51 sen atau setara dengan -2,46 persen pada posisi 20,22 sen per pon.

Lihat : Harga Gula ICE Turun Tipis Terpengaruh Pelemahan Minyak Mentah

Harga gula mentah berjangka awalnya memperpanjang kenaikan dari dua sesi sebelumnya yang didorong sebagian oleh prospek penaksiran tebu lebih rendah di Pusat-Selatan Brasil untuk paruh kedua bulan Agustus setelah hujan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa pergerakan harga gula kasar berjangka di New York  pada perdagangan selanjutnya berpotensi naik dengan sentimen kekuatiran penurunan produksi tebu. Namun jika malam nanti data Durable Goods Orders menguat akan mengangkat dollar AS dan menekan harga gula.

Harga gula kasar berjangka di ICE Futures New York berpotensi mengetes level Resistance pada posisi 20,70 sen dan 21,20 sen. Sedangkan level Support yang akan diuji jika terjadi penurunan harga ada pada posisi 19,70 sen dan 19,20 sen per pon.


Freddy/VMN/VBN/Analyst-Vibiz Research Center

Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here