Harga Minyak Mentah Naik Terdukung Pelaksanaan Kesepakatan Pemotongan Produksi

479

Harga minyak mentah naik lebih tinggi pada akhir perdagangan Rabu dinihari (25/01) terdukung pengetatan produksi global oleh OPEC dan eksportir lainnya yang menurunkan persediaan.

Harga minyak mentah berjangka AS ditutup naik 43 sen, atau 0,8 persen, ke $ 53,18.

Harga minyak mentah berjangka patokan global Brent naik 17 sen menjadi $ 55,40 per barel pada 14:33 ET (1933 GMT).

Menteri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen besar di luar kelompok itu mengatakan pada hari Minggu bahwa dari hampir 1,8 juta barel per hari (bph) yang telah disepakati untuk dikurangi dari pasar mulai pada 1 Januari, maka 1,5 juta barel per hari sudah terpotong.

Menteri Perminyakan Irak mengatakan pada hari Senin bahwa sebagian besar perusahaan minyak besar yang bekerja di wilayahnya sudah berpartisipasi dalam pengurangan hasil yang disepakati sebagai bagian dari kesepakatan OPEC.

Namun pengurangan pasokan OPEC sedang diimbangi dengan peningkatan produksi AS karena harga naik.

Pengebor AS menambahkan kilang paling tinggi dalam hampir empat tahun, data dari perusahaan jasa energi Baker Hughes menunjukkan pada Jumat, memperpanjang pemulihan pengeboran delapan bulan.

Produksi minyak mentah AS telah meningkat lebih dari 6 persen sejak pertengahan 2016, meskipun masih 7 persen di bawah puncaknya 2015. Hal ini kembali ke level yang dicapai pada akhir 2014, ketika produksi minyak mentah AS yang kuat berkontribusi pada penekanan di harga minyak.

Dorongan oleh Partai Republik di parlemen AS untuk pergeseran pajak perusahaan perbatasan-disesuaikan (BTA) bisa mendorong harga WTI lebih tinggi dari Brent, memicu produksi dalam negeri dalam skala besar, menurut analis di Goldman Sachs.

Goldman perkirakan WTI bisa pindah ke $ 10 per barel premium untuk Brent dari diskon $ 3 – $ 13 (25 persen).

Bernstein Energi mengatakan persediaan minyak dunia turun 24 juta barel menjadi 5,7 miliar barel pada kuartal keempat tahun lalu dari kuartal sebelumnya. Jumlah ini sekitar 60 hari konsumsi minyak dunia.

Dinihari tadi setelah pasar minyak AS ditutup, American Petroleum Institute (API) merilis persediaan terbaru yang mencatat kenaikan dari 2.9 juta barel, menyusul hasil penarikan dari 5.0 juta barel minggu sebelumnya. Perkiraan konsensus adalah untuk kenaikan sekitar 1.9 juta barel.

Persediaan bensin mencatat kenaikan dari 4.85 juta barel setelah kenaikan dari 9.75 juta barel pekan lalu, sementara distilat mencatat kenaikan dari 1.95 juta barel dari 1.17 juta pekan lalu. Secara keseluruhan persediaan bahan bakar mencatat kenaikan minggu keempat berturut-turut yang cukup besar yang akan cenderung merusak kepercayaan di pasar, terutama karena menimbulkan keraguan lebih lanjut atas kondisi permintaan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah berpotensi melemah setelah data API mencatatkan kenaikan persediaan minyak mentah mingguan AS.Harga minyak berpotensi lemah dalam kisaran Support $ 52,70 – $ 52,20, dan jika harga naik akan menembus kisaran Resistance $ 53,70 – $ 54,20.

Freddy/VMN/VBN/Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here