Euro Tergelincir Setelah Merkel Menang di Jerman

630

(Vibiznews – Forex) – Mata uang euro memangkas kenaikan dua harinya dan terpantau melemah di pasar uang hari Senin ini (25/9) setelah pengumuman pemilu di Jerman yang mendorong para investor untuk cepat ambil untung di mata uang yang paling memberikan profit di tahun ini.

Para manager dana dilaporkan telah banyak menaruh investasi di euro ini sejalan dengan kawasan Eropa yang mulai memetik momentum pertumbuhan ekonominya dan kebijakan moneternya yang berbeda arah dengan AS dan Jepang. Hal mana telah menorong euro menguat sampai 13 persen tahun ini, demikian dilansir dari Reuters hari ini (25/9).

Strategist forex dari ING Bank mengomentari: “Dampak dari pemilu di Jerman ini terbatas mengingat ini lebih merupakan gejolak politik domestik bukan sekawasan Eropa, dan euro akan lebih sensitif pergerakannya terhadap kebijakan dari ECB (European Central Bank),” demikian dikutip Reuters.

Pada Senin sore WIB atau awal pasar Eropa ini euro terlihat tergelincir sekitar 0.4 persen di level $1.1900 terhadap dollar dan agak menguat terhadap Swiss franc dan cenderung datar terhadap yen Jepang.

Merkel dilaporkan menang untuk keempat kalinya sebagai Kanselir Jerman, namun diperkirakan akan menemui kesulitan untuk membangun koalisi pembentukan pemerintahnya sehubungan hasil exit poll yang menunjukkan partai nasionalis radikal anti imigran, AfD, meraih lonjakan suara yang bersejarah dan akan berhasil mendapatkan kursi untuk pertama kalinya.

Di tempat lain, indeks dollar, yang merupakan keranjang dollar terhadap sejumlah mata uang global, terlihat menguat sekitar 0.15 persen ke level 92.40 dengan para investor mengurangi tekanan jual atas mata uang negeri Paman Sam ini.

Analis Vibiznews melihat bahwa tekanan jual atas euro dapat terus berlangsung bila investor global memilih untuk ambil momen untuk taking profit, menuju level support di 1.1860. Kemungkinan rebound bisa terjadi mengingat sentimen positif masih ada, apalagi ada rencana ECB untuk mulai menaikkan suku bunganya.

 

Sumber: Reuters

Analis: J. John

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here