Dollar di 7 Minggu Tertingginya, Rupiah Kembali Terpukul, Bursa Asia Menguat

594

(Vibiznews – Forex) – Mata uang dolar terpantau menguat mencapai level tujuh minggu tertingginya pada hari Jumat ini, sementara bursa saham kawasan Asia menguat, terangkat optimisme pasar akan kondisi ekonomi AS menjelang laporan data tenaga kerja Amerika pada malam ini WIB (6/10).

Indeks MSCI, yang merupakan terbesar di Asia Pasifik untuk di luar Jepang, terlihat naik 0,3 persen, bersiap untuk kenaikan 1,6 persen dalam sepekan. Sedangkan Nikkei Jepang juga naik 0,3 persen setelah sempat menyentuh level tertinggi baru dua tahunnya. Demikian juga bursa saham Australia naik 0,9 persen dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,9 persen.

Mata uang rupiah pada hari ini kembali melemah, dengan dollar AS diperdagangkan di Rp13.502 pada sore WIB ini. Rupiah pagi tadi sempat di posisi Rp13.453, lalu berlanjut terpukul dengan penguatan dollar secara global ini.

Di tempat lain, S&P 500 membukukan rekor tertingginya yang keenam kalinya pada penutupan pasar hari Kamis, yang terpanjang sejak 1997, karena investor positif terhadap meningkatnya prospek untuk reformasi pajak dengan Kongres yang semakin mendekati kesepakatan untuk resolusi anggaran, demikian dirilis dari Reuters (6/10).

Data pasar pada hari Kamis menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran telah turun lebih dari yang diperkirakan, defisit perdagangan semakin mengecil, dan kuatnya permintaan barang modal inti.

Dorongan terhadap optimisme ekonomi AS telah mengangkat imbal hasil Treasury dan menguatkan indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama ke level tertinggi tujuh minggunya.

Data ekonomi AS minggu ini solid secara keseluruhan. Fokus investor sekarang beralih ke laporan nonfarm payrolls yang dijadwalkan pada malam ini WIB.

Perhatian utama pasar keuangan adalah bagaimana badai Harvey dan Irma mempengaruhi pasar tenaga kerja pada bulan September ini.

“Badai telah membuat kondisi pekerjaan sulit untuk dijabarkan dan reaksi pasar dapat terbatasi terlepas dari seberapa kuat atau lemahnya hasil laporan tenaga kerja ini,” kata strategist senior di Barclays di Tokyo kepada Reuters.

“Jika hasilnya kuat, itu akan meningkatkan ekspektasi Fed untuk menaikkan suku bunga di bulan Desember. Tapi apakah kenaikan suku bunga setelah Desember bisa dinaikkan adalah masalah lain, dengan the Fed mempertahankan sikap hati-hati terhadap pergerakan harga dan dengan masa jabatan Janet Yellen yang berakhir pada bulan Februari,” strategist di Barclays mengatakan.

Indeks dolar telah naik terus ke level 94,090, dan siap mencapai level 94.112, yang tertinggi sejak 16 Agustus lalu.

Di pihak lain, mata uang Euro memperpanjang kerugian hari sebelumnya, jatuh ke level terendah dua bulannya di $1,1686.

Adapun pound menjadi sangat rentan terhadap bullish-nya dolar setelah pidato dari Perdana Menteri Inggris Theresa May yang mendapat sambutan buruk, telah memperdalam keraguan pasar tentang kemampuannya untuk memerintah secara efektif.

Sterling telah melorot ke level terendah satu bulannya di $1,3073 setelah meluncur 1 persen semalam.

Analis Vibiznews melihat bahwa Index Dollar memungkinkan untuk segera menyentuh level 94.130. Pada saat mana aksi profit taking bisa agak mengubah arah. Bagaimanapun, hasil kesepakatan reformasi pajak Trump akan dapat memengaruhi pergerakan selanjutnya. Sementara itu, jangan dilupakan Korea Utara yang sewaktu-waktu bisa berkembang menjadi tensi geopolitik yang  menguatirkan.

 

Source: Reuters dan lainnya

Analist: J. John

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here