Outlook CPI AS: Dolar AS Jatuh Jelang Rilis Data Inflasi AS

416

(Vibiznews-Forex) Dolar AS yang diukur oleh US Dollar Index (DXY) sedang mengalami percepatan penurunan mingguan, menciut ke tingkat kerendahan baru di sekitar 89.40. Indeks ini mengalami penurunan untuk empat sesi berturut-turut ditengah meningkatnya keprihatinan terhadap pertengkaran dagang AS – China, terus berlanjutnya permintaan terhadap Yen Jepang dan adanya permintaan baru terhadap EUR setelah keluarnya pandangan yang “hawkish” dari ECB baru-baru ini.  Selain itu, ketegangan geopolitik yang melibatkan Suriah, AS dan Rusia terus mendorong permintaan terhadap asset “safe haven”, seperti Yen Jepang yang menyeret USD/JPY ke level yang lebih rendah. Saat ini, semua mata sedang memandang kepada angka inflasi yang akan segera di rilis pada malam hari ini dan segera diikuti dengan publikasi dari risalah pertemuan FOMC.

Apa yang akan dirilis pada malam hari ini adalah Consumer Price Index (CPI) yang mengukur tingkat inflasi yang ada di AS. Inflasi masih menjadi unsur yang hilang di dalam kisah pertumbuhan ekonomi AS. Walaupun sudah mengalami peningkatan dalam lapangan pekerjaan dan pertumbuhan GDP yang mantap, inflasi masih tetap rendah. CPI inti masih mentok di 1.8% per tahun di bulan Februari dengan kenaikan per bulan sebesar 0.2%. Kali ini, di bulan Maret, outlook diantara para analis relatif moderat, CPI inti diperkirakan akan meningkat 0.2%,   sementara CPI umum secara keseluruhan diperkirakan masih tetap tidak berubah. Meskipun perkiraan bahwa CPI inti akan muncul di angka yang relatif rendah 0.2% per bulan, peningkatan angka per tahun diperkirakan cukup tajam menjadi 2.1% dari 1.8% di bulan Februari. Ini akan menjadi angka yang pertama diatas target the Fed inflasi sebesar 2.0% sejak Februari 2017.

Sejarah survei dan perhitungan dari MNI terhadap CPI AS menunjukkan bahwa para analis cenderung “overestimate” terhadap CPI yang diperkirakan. Dalam laporan 10 tahun terakhir di bulan Maret, para analis telah “overestimate” sebanyak enam kali dan hanya “underestimate” satu kali saja. Kecenderungan ini semakin jelas pada tahun-tahun belakangan ini, dengan para analis “overestimate” data umum di bulan Maret selama tiga tahun berturut-turut. Hal ini menunjukkan suatu resiko penurunan yang jelas terhadap perkiraan CPI inti dan CPI umum.

Selain kecenderungan “overestimate” dalam perkiraan CPI yang membuat adanya resiko penurunan pada angka yang dirilis pada nanti malam, adalagi faktor harga gasoline yang dapat membuat angka CPI yang keluar menjadi lebih rendah daripada yang diperkirakan. Sementara CPI inti per bulan diperkirakan hanya akan meningkat relatif  moderat di 0.2%, CPI umum diperkirakan akan muncul datar di bulan Maret. Beberapa analis bahkan memperkirakan penurunan 0.1% dengan harga gasoline yang di sesuaikan secara musiman menyeret turun indeks inflasi ini.

Ricky Ferlianto/VBN/Head of III, Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here