Market Outlook, 30 April – 4 May 2018

1226

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia amblas cukup tajam sampai mengalami penurunan -6,8% secara ytd oleh banyaknya modal asing yang ke luar dari bursa meskipun bursa Asia cenderung menguat dengan redanya tensi geopolitik Korea, sehingga secara mingguan bursa ditutup anjlok ke level 5,919.240. Untuk minggu berikutnya (30 April –  4 Mei) IHSG kemungkinan ada peluang rebound teknikal walaupun peride tekanan nampaknya belum lewat sambal tetap melihat bursa Asia sebagai acuan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 6360 dan 6501, sedangkan support di level 5885 dan kemudian 5840.

Mata uang rupiah seminggu lalu semakin lemah dan sempat menembus level Rp13.900’an, sekalipun sudah ada intervensi BI di pasar, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level Rp13,883. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,983 dan 14,025, sementara support di level 13,736 dan 13,693.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ISM Manufacturing PMI pada Selasa malam; disambung dengan rilis ADP Non-Farm Employment Change dan Crude Oil Inventories pada Rabu malam; berikutnya pengumuman Federal Funds Rate pada Kamis dini hari yang diperkirakan bertahan di level 1.75% serta data ISM Non-Manufacturing PMI pada Kamis malam; diakhiri dengan rilis Non-Farm Employment Change dan Unemployment Rate pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Manufacturing PMI Inggris pada Selasa sore; selanjutnya rilis Construction PMI Inggris pada Rabu sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Manufacturing PMI China pada Senin pagi; diteruskan dengan pengumuman RBA Rate Statement pada Selasa pagi yang diperkirakan bertahan di level 1.50%.

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar bergerak menguat oleh naiknya yields US Treasury jangka panjang sehingga dollar berada di level 3.5 bulan tertingginya dan membukukan gain mingguan terbaiknya sejak November 2016, di mana secara mingguan index dollar AS menguat ke level 91.50. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau melemah ke 1.2129. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.2413 dan kemudian 1.2476, sementara support pada 1.1928 dan 1.1915.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah tajam ke level 1.3780 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.4245 dan kemudian 1.4376, sedangkan support pada 1.3711 dan 1.3533. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 109.03. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 109.97 dan 110.47, serta support pada 106.87 serta level 105.65. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah ke level 0.7579. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7682 dan 0.7812, sementara support level di 0.7501 dan 0.7422.

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum agak mixed sebagian ditopang oleh pertemuan puncak Korsel – Korut yang meredakan geopolitik Semananjung Korea. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau menguat ke level 22420. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 22500 dan 23490, sementara support pada level 21515 dan lalu 20775. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 30218. Minggu ini akan berada antara level resistance di 31040 dan 33006, sementara support di 29548 dan 29110.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau agak mixed sebagian terbantu oleh rilis laporan keuangan kuartalan sejumlah emiten teknologi yang cukup kuat. Dow Jones Industrial secara mingguan melemah ke level 24308, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 24858 dan 24962, sementara support di level 23822 dan 23738. Index S&P 500 minggu lalu menguat tipis ke level 2670.0, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2717 dan 2801, sementara support pada level 2612 dan 2586.

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau terkoreksi antara lain oleh meredanya geopolitik Korea yang berprospek menurunkan permintaan safe haven asset, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang melemah ke level $1323.08 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1355 dan berikut $1365, serta support pada $1306 dan $1302. Di Indonesia, harga spot emas terpantau menguat ke level Rp595,599 per gram.

 

Berbagai isyu, apakah tentang prospek resesi global kembali, perkembangan geopolitik di beberapa kawasan panas, dinamika perkembangan ekonomi domestik Indonesia, terpantau dapat menggerakan pasar. Kita melihat bahwa fundamental ekonomi begitu bisa memengaruhi pasar, sementara di sana ada juga isyu politik. Bagi investor lokal yang, katakanlah, bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi kadang tidak mudah untuk memahami dinamika berbagai indikator tersebut. Kendala itu bukan merupakan masalah kalau Anda terus menyimak berita dan analisis pasar di vibiznews.com. Banyak orang telah mengakuinya. Terima kasih tetap bersama kami karena kami hadir demi mendukung sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here