Market Outlook, 7-11 May 2018

1204

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia kembali merosot cukup tajam oleh lemahnya rupiah dan banyaknya modal asing yang ke luar dari bursa, sehingga secara mingguan bursa ditutup anjlok lagi ke level 5,792.350. Untuk minggu berikutnya (7-11 Mei) IHSG kemungkinan ada peluang rebound teknikal dari posisi oversold-nya walaupun periode bearish nampaknya belum lewat sambil tetap melihat bursa Asia sebagai acuan. Secara mingguan, IHSG berada antara support level di posisi 5723 dan kemudian 5577, sedangkan resistance level di 6360 dan kemudian 6501.

Mata uang rupiah seminggu lalu semakin lemah dan mendekati level Rp14.000, dengan dolar yang menyentuh level tertingginya tahun ini, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level Rp13,945. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,983 dan 14,025, sementara support di level 13,863 dan 13,736.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data pidato Fed Chair Powell di Zurich pada Selasa subuh; disambung dengan rilis PPI m/m dan Crude Oil Inventories pada Rabu malam; berikutnya data Core CPI m/m pada Kamis malam; diakhiri dengan rilis Prelim UoM Consumer Sentiment pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Manufacturing Production m/m Inggris dan pengumuman Official Bank Rate BOE pada Kamis sore yang diperkirakan bertahan pada level rendah 0.50%; selanjutnya rilis pidato ECB President Draghi pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa pengumuman RBNZ Rate Statement pada Kamis subuh yang diperkirakan bertahan di level 1.75%.

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar bergerak menguat di level tertingginya tahun ini sekalipun data tenaga kerja AS terakhir menunjukkan pertumbuhan yang di bawah ekspektasi, di mana secara mingguan index dollar AS menguat ke level 92.56. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau melemah tajam ke 1.1959. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level support pada 1.1826 dan 1.1717, sementara resistance pada 1.2209 dan kemudian 1.2413.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah tajam ke level 1.3530 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3937 dan kemudian 1.4376, sedangkan support pada 1.3457 dan 1.3332. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat tipis ke level 109.11. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 110.03 dan 110.47, serta support pada 106.87 serta level 105.65. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah terbatas ke level 0.7537. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7682 dan 0.7812, sementara support level di 0.7472 dan 0.7372.

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum agak mixed cenderung turun dengan pasar memperhatikan hasil pertemuan perdagangan antara AS dan China. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau menguat tipis ke level 22425. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 22500 dan 23490, sementara support pada level 21515 dan lalu 20775. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 29956. Minggu ini akan berada antara level resistance di 31040 dan 33006, sementara support di 29548 dan 29110.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau agak mixed sebagian terbantu oleh naiknya saham teknologi setelah Apple menyentuh level harga rekor sepanjang masanya. Dow Jones Industrial secara mingguan melemah ke level 24262, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 24858 dan 24962, sementara support di level 23822 dan 23738. Index S&P 500 minggu lalu menguat tipis ke level 2670.0, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2717 dan 2801, sementara support pada level 2612 dan 2586.

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau agak fluktuatif dengan sempat tertekan oleh penguatan dolar dan kemudian berupaya rebound secara terbatas, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang melemah tipis ke level $1314.63 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1355 dan berikut $1365, serta support pada $1301 dan $1280. Di Indonesia, harga spot emas terpantau melemah ke level Rp589,053 per gram.

 

Dinamika pasar terus bergerak secara aktif, naik turun di pasar investasi. Dari ekonomi yang lambat di kawasan Eropa yang berkelanjutan, ekonomi Amerika yang pulih namun dalam ancaman risiko, China yang bersiap menghadapi perang dagang global, dan seterusnya. Itu yang ramai terjadi dalam pasar financial global. Kalau Anda tidak punya banyak waktu dan kesempatan untuk mengikuti dan mengartikan pergerakan pasar demikian, Vibiznews.com dapat membantu Anda sepenuhnya serta memanfaatkannya untuk keputusan investasi yang lebih akurat. Terima kasih telah bersama kami karena mengingat kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here