Dolar AS Melonjak Tertinggi 11 Bulan

495

(Vibiznews – Forex) Dolar AS naik ke level tertinggi 11 bulan dan euro merosot menuju posisi terendah 2018 pada hari Kamis sore (21/06) terpicu kebijakan moneter The Fed AS untuk menaikkan terus suku bunga.

Kekhawatiran tentang eskalasi dalam konflik perdagangan AS-China, yang digarisbawahi oleh komentar dari para gubernur bank sentral atas pada hari Rabu, juga telah mendorong dolar karena para pedagang menganggap perselisihan yang lebih serius akan menjadi inflasi bagi ekonomi AS, memaksa Federal Reserve untuk memperketat suku bunga lebih lanjut.

Indeks dolar naik terhadap sekelompok enam mata uang utama 0,3 persen menjadi 95,406, tertinggi sejak pertengahan Juli 2017.

Imbal hasil Treasury jangka panjang juga bangkit kembali dari posisi terendah tiga minggu. Hasil itu ditopang oleh komentar dari Ketua Fed Jerome Powell, yang mengatakan pada hari Rabu bahwa bank sentral AS harus melanjutkan dengan laju bertahap kenaikan suku bunga.

Euro turun 0,2 persen menjadi $ 1,1548, mendekati titik lemah 11 bulan dari $ 1,1531 yang dicapai pekan lalu.

Dolar naik 0,2 persen menjadi 110,6 yen, bergerak lebih jauh dari level terendah satu minggu di level 109,55 yang dicapai pada hari Selasa.

Di tempat lain poundsterling mencapai 7 bulan terendah baru menjelang pertemuan kebijakan Bank of England, di mana bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga.

Swiss National Bank mempertahankan suku bunga negatifnya pada hari Kamis, seperti yang diperkirakan, dan franc Swiss tidak bergeming. Bank sentral Norwegia juga akan memberikan keputusan kebijakannya pada Kamis.

Dolar Selandia Baru mundur ke level terendah enam bulan $ 0,6838 setelah data domestik yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama mendorong ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga rendah.

Peso Meksiko naik lebih dari 0,8 persen semalam, dibantu oleh ekspektasi bahwa bank sentral negara itu akan menaikkan suku bunga pada Kamis. Ini kemudian memberi beberapa keuntungan.

Sebaliknya, Real Brazil adalah datar meskipun bank sentral negara itu menahan diri dari pengetatan kebijakan moneter lagi pada hari Rabu. Real Brazil telah kehilangan 5 persen bulan ini dan menyentuh level terendah sejak Maret 2016.

Perseteruan tarif antara China dan Amerika Serikat telah menambah kesengsaraan untuk pasar negara berkembang, sudah di bawah tekanan karena terus menaikkan tingkat bunga AS.

Malam nanti akan dirilis jobless claim minggu lalu yang diindikasikan meningkat.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan mata uang dolar AS berpotensi naik dengan pernayataan ketua The Fed AS untuk terus menaikkan suku bunga. Namun jika malam nanti data jobless claim terealisir naik, akan berpotensi menekan dolar AS.

Asido Situmorang, Senior Analyst, Vibiz Research Center, Vibiz Consulting Group

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here