USD/JPY Jatuh Dari Ketinggiannya Karena Sentimen “Risk-Off”

243

(Vibiznews-Forex) USD/JPY diperdagangkan mendekati 111.00, turun pada hari Kamis kemarin. Matauang pasar “emerging” sedang berjuang, membebani pasar dan memicu arus “safe-haven”. Data ekonomi AS yang keluar kemarin, sesuai dengan yang diperkirakan.

PCE inti AS naik 0.2% per bulan dan 2.0% per tahun sebagaimana yang diperkirakan. Klaim pengangguran mengalahkan yang diperkirakan tetapi meningkat dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Imbal hasil AS terus bertambah longgar mendorong Yen naik lebih tinggi.

GDP AS juga di-upgrade menjadi 4.2% pada hari Rabu, diatas yang diperkirakan sementara Pending Home Sales mengecewakan.

Pembukaan pasar Eropa didominasi oleh “risk-aversion”, dengan saham turun dan matauang “safe-haven”, termasuk “greenback” terapresiasi. Ketakutan kelihatannya berhubungan dengan matauang pada “emerging market”, yang sekali lagi berada dalam tekanan dan mendekati atau berada pada rekor kerendahan. Lira Turki turun lebih dari 1.1% terhadap dolar AS, sementara Peso Argentina kehilangan 7.5% pada hari Kamis kemarin. Pelarian ke keamanan cukup jelas pada pasar matauang. Dalam hal USD/JPY, matauang Jepang menguat lumayan, mundur lebih jauh dari ketinggian mingguan yang terjadi pada hari Rabu pada 111.82 sekarang menekan area resistant terdahulu di area 111.40/50. Imbal hasil Treasury AS turun sedikit, menambah posisi “bearish” dari pasangan matauang ini dengan imbal hasil pada “benchmark” surat berharga Treasury 10 tahun turun sedikit ke 2.87%.

Data ekonomi makro terus kehilangan relevannya, namun angka Jepang yang dirilis bercampur, dengan perdagangan eceran naik pada bulan Juli lebih daripada yang diperkirakan, naik 0.1% per bulan dan 1.5% per tahun, sementara Large Retailer’s Sales turun melewati daripada yang diperkirakan sebelumnya, turun sampai 1.6%.

Amerika Serikat kemarin mengeluarkan data belanja dan penghasilan termasuk inflasi PCE, bersamaan dengan angka pengangguran mingguan.

Pada hari Kamis kemarin, departemen Perdagangan AS berkata bahwa Core Personal Consumption Expenditures Index bertambah 0.2% pada bulan Juli, sesuai dengan yang diperkirakan. Inflasi inti, yang adalah ukuran inflasi yang dipakai oleh the Fed secara tahunan meningkat ke 2%, naik dari angka bulan Juni sebesar 1.9%.

Ini adalah pertama kalinya inflasi menyentuh 2% sejak tahun 2012.

Inflasi umum, meningkat 0.1% pada bulan lalu, sesuai dengan yang diperkirakan. Untuk setahun, tekanan inflasi meningkat 2.3%.

Laporan dari departemen Perdagangan mengatakan bahwa bersamaan dengan kenaikan tekanan inflasi, belanja pribadi juga meningkat 0.4% pada bulan lalu, sesuai dengan yang diperkirakan. Pada saat yang sama, penghasilan pribadi juga meningkat 0.3% sesuai dengan yang diperkirakan.

Para ekonom menggambarkan data ekonomi yang terbaru sebagai solid dan mendukung outlook Federal Reserve untuk pertumbuhan selanjutnya pada setengah tahun kedua.

Katherine Judge, senior economist pada CIBC World Markets mengatakan bahwa kenaikan inflasi inti tahunan mendukung ekspektasi bahwa the Fed akan menaikkan tingkat bunga pada bulan depan.

Dia berkata,”Ini masih konsisten dengan outlook konsumsi yang solid tetapi menunjukkan bahwa kuartal ketiga akan mengalami perlambatan di dalam pertumbuhan belanja rumah tangga dibandingkan dengan kecepatan yang kuat yang terjadi pada kuartal yang kedua.

Secara tehnikal, penurunan pasangan matauang ini akan bertemu dengan support pertama pada 110.45 yang apabila tertembus akan berhadapan dengan support kedua pada 111.10 dan support ketiga pada 110.85. Sebaliknya kenaikan pasangan matauang ini  akan behadapan dengan resistant pertama pada 111.90 yang apabila tertembus akan berhadapan dengan resistant yang kedua pada 112.20/112.50 dan resistant ketiga pada 112.50

Ricky Ferlianto/VBN/Head of III, Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here