Market Outlook Emas, 12 – 16 November 2018

640

(Vibiznews – Column) Saham-saham AS tumbang di dalam perdagangan sore hari Jumat minggu lalu dengan tekanan jual sebagai akibat dari banyak faktor.

Setelah menghasilkan keuntungan yang besar selama seminggu lalu, saham-saham AS bereaksi terhadap dua event utama.

Pertama, partisipan pasar bereaksi terhadap pernyataan yang dirilis oleh Federal Reserve pada hari Kamis minggu lalu dari pertemuan FOMC bulan ini.

Kedua, data yang keluar menunjukkan angka yang “hotter-than-expected” atas harga produsen dan tekanan jual yang berkelanjutan atas minyak.

Kenaikan Tingkat Bunga AS

Partisipan pasar menerima konfirmasi bahwa Federal Reserve akan melanjutkan sikapnya yang lebih “hawkish”. Kebijakan moneter saat ini mengarah kepada normalisasi “quantitative” dan menaikkan tingkat bunga bergerak ke target tingkat bunga disekitar 3%.

Walaupun pernyataan pada hari Kamis minggu lalu mengindikasikan bahwa the Fed akan tetap berada pada arahnya bulan ini dan mempertahankan tingkat bunga diantara 2% dan 2.25%, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bank sentral “memperkirakan penambahan bertahap lebih lanjut di dalam rentang target untuk Federal Funds Rate.”

Jika di implementasikan bulan depan, hal ini akan menjadi kenaikan tingkat bunga yang ketiga yang dilakukan oleh Federal Reserve pada tahun ini. Hal ini akan menjadi tahun kenaikan tingkat bunga yang paling agresif yang dilakukan oleh the Fed sejak mereka mengakhiri program “quantitative easing” dan mulai bergerak kearah kebijakan moneter normalisasi “quantitative” dengan pelan-pelan.

Pergerakan Harga Emas Minggu Lalu

Metal berharga berada dibawah tekanan dinamis bersama dengan komoditi yang lainnya dengan emas berjangka mengalami penurunan $15 dalam perdagangan pada hari Jumat minggu lalu (-1.22%) ditutup pada $1,210.10. Perak turun lebih dari 2% di dalam perdagangan, hampir $0.30 dan ditutup pada $14.13.

Emas Spot mengalami penurunan $14.50 di dalam perdagangan pada hari Jumat minggu lalu dan ditutup pada $1,209 per ons. Jika diperhatikan dengan lebih seksama, kita bisa lihat bahwa mayoritas dari penurunan ini bisa secara langsung dihubungkan dengan partisipasi pasar yang menawark harga metal kuning lebih rendah, sekitar $11.60 dari penurunan pada hari Jumat minggu lalu, dengan penurunan sisanya sebesar $2.90 disebabkan oleh karena menguatnya dolar AS.

Penurunan yang tiba-tiba pada hari Jumat minggu lalu di komoditi dan saham-saham AS bisa mengindikasikan permulaan dari tekanan jual yang lebih terkonsentrasi.

Menurut beberapa analis komoditi, emas telah menyerahkan keuntungannya selama bulan Oktober dan para analis mengatakan bahwa akan sulit bagi metal kuning untuk mengalami rally dengan harga minyak jatuh ke teritori pasar yang “bearish”.

Kita baru saja memasuki minggu pertama, namun bulan November terbukti menjadi bulan yang mengecewakan bagi emas dengan metal kuning diperdagangkan dekat dengan kerendahan selama empat minggu.

Penurunan  Harga Minyak Mentah & Menguatnya Dolar AS

Minyak mentah West Texas Intermediate jatuh hampir 22% dalam lima minggu terakhir, turun dari ketinggian selama empat tahun pada awal dari bulan Oktober menjadi pasar yang “bearish”. Pasar minyak sedang melihat penurunan terpanjang sepanjang sejarah.

Bukan hanya emas terpukul oleh karena penyebaran sentimen negatif di dalam lingkungan komoditi, melainkan juga oleh karena ekspektasi bahwa Federal Reserve akan terus menaikkan tingkat bunga, yang mendukung dolar AS naik ke ketinggian selama satu tahun.

Pergerakan Harga Emas Ke Depannya

Christopher Vecchio, ahli strategi matauang senior di DailyFx.com, berkata bahwa dia juga melihat kelemahan di dalam pasar emas karena menguatnya dolar AS.

Dia mengatakan,”lingkungan emas akan menjadi keras karena tingkat bunga akan naik, tingkat bunga riil akan naik dan hal ini akan mendukung kenaikan dolar AS. Kita akan melihat harga emas turun lebih lanjut maka saya menjauh dari pasar sekarang. “

Colin Cieszynski, kepala strategis pasar, SIA Wealth Management, berkata bahwa tidak hanya harga minyak yang menciptakan sentimen negatif di pasar, tetapi harga yang lebih rendah adalah suatu deflasi, tidak cukup untuk membuat Federal Reserve keluar dari jalur menaikkan tingkat bunganya. Menaikkan tingkat bunga karena harga energi yang rendah akan menjadi faktor yang negatif secara signifikan terhadap emas ke depannya.

Ciesszynski mengatakan bahwa dia melihat harga emas bisa jatuh ke $1,180 dalam jangka pendek dengan ekspektasi kenaikan tingkat bunga membebani pasar.

Dia mengatakan,”Bintang sedang tidak menyertai emas sekarang dengan harga energi jatuh dan the Fed terus menaikkan tingkat bunga.”

Menurut beberapa analis, penurunan harga emas yang lebih dari 1% pada hari Jumat minggu lalu menyiapkan pasar untuk mengetes level psikologis yang penting pada $1,200, namun, kebanyakan analis sedang menunggu “support” kritikal di $1,190.

Ole Hansen, kepala strategi komoditi pada Saxo Bank mengatakan,”Jika $1,192 tidak bisa bertahan sebagai support, maka kita harus menerima bahwa kita akan melihat kerendahan yang baru di pasar.”

Cieszynski berkata bahwa dia bisa melihat harga emas jatuh ke $1,180 per ons sebelum para investor masuk kembali ke pasar.

Ricky Ferlianto/VBN/Head of III, Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here