Goldman Sachs: Rupiah Siap Mengungguli Rupee Tahun Ini; Terkuat se-Asia Awal Tahun

351

(Vibiznews – Economy) – Mata uang rupiah Indonesia disebut-sebut akan mengungguli rupee India, berkat dampak yang berbeda dari harga minyak, aliran portofolio dana dan sensitivitas kebijakan moneter terhadap Federal Reserve, demikian menurut Goldman Sachs Group Inc, sebagaimana dilansir Bloomberg hari ini (9/01).

Team ekonom Goldman Sachs menulis dalam catatannya, “Meskipun India dan Indonesia biasanya termasuk satu kelompok bersama sebagai mata uang Asia yang ‘high yielding’, ada beberapa perbedaan utama dalam struktur kedua ekonomi yang dapat membedakan kinerja pasar mereka dan peluang investasi.”

Disebutkan bahwa Indonesia sebagai eksportir netto komoditas yang dimotori ekspor batubara, dimana harga komoditas yang lebih tinggi akan membantu keseimbangan fiskal dan merugikan India.

Arus portofolio Indonesia lebih didominasi oleh obligasi daripada ekuitas, dan surat berharganya akan unggul di pasar karena berkurangnya secara signifikan ekspektasi kenaikan suku bunga AS, penetapan suku bunga Bank Indonesia yang relatif lebih hawkish, dan dinamika penawaran/permintaan yang lebih baik karena lebih rendahnya defisit fiskal.

Goldman menambahkan, BI lebih sensitif terhadap Fed dibandingkan Reserve Bank of India (RBI). Sebagaimana diketahui, BI telah menaikkan suku bunga acuannya 175 basis poin pada tahun 2018 setelah empat kali kenaikan suku bunga A.S. Sementara RBI hanya meningkatkan suku bunganya dengan 50 basis poin.

Rupiah telah mengawali tahun baru 2019 mengalahkan semua mata uang negara-negara Asia dengan menguat hampir 2 persen terhadap dolar, mencapai level terkuatnya dalam 6 bulan. Sedangkan, mata uang India adalah salah satu yang berkinerja terburuk di kawasan ini. Rupee turun hampir setengah persen, berbalik tajam dari kuartal keempat ketika mata uang ini mengambil posisi teratasnya.

“Performa terkini dari INR dan pasar obligasi India telah didorong oleh penurunan tajam harga minyak pada kuartal 4 tahun 2018,” tulis para ekonom. “Dengan harga minyak yang cenderung naik atau stabil dalam waktu dekat, kami pikir keunggulan INR atas IDR sebelum ini sudah berakhir, dan IDR sekarang siap untuk mengungguli INR,” tambah Goldman Sachs.

Lebih jauh lagi, India tahun ini menghadapi pemilihan umum yang kurang dapat diprediksi, dibandingkan dengan Indonesia di mana Presiden Joko Widodo diperkirakan akan memenangkan pilpres periode kedua. Hal ini akan berdampak pada aliran arus modal dan kinerja mata uang, demikian menurut Goldman yang dikutip Bloomberg (9/01).

 

Analis Vibiznews melihat dinamika rupiah yang terus perkasa secara umum belakangan ini. Saat ini, 9/01 siang, rupiah terhadap dollar AS bercokol di level Rp 14.140, yang merupakan posisi terkuatnya sekitar 6 bulan. Penguatan rupiah terutama terjadi dalam 3 bulan terakhir, dengan mencetak gain sampai 7,1 persen. Sedangkan dalam 6 bulan belakangan rupiah telah menguat 1,8 persen.

Sementara itu, sepanjang awal tahun 2019, rupiah telah tampil perkasa dengan gain sampai 2,35 persen, yang membuat Goldman Sachs menobatkan rupiah sebagai mata uang terkuat se-Asia saat ini.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here