Arah Harga Emas Minggu Ini

849

(Vibiznews-Column) Minggu lalu emas telah mengalami minggu yang solid dengan satu usaha yang serius untuk menembus level psikologis yang kritikal $1,300. Secara keseluruhan, harga emas naik 0.2%, dengan emas berjangka bulan Februari terakhir diperdagangkan pada $1,289.80.

Data ekonomi AS pada hari Jumat akhir minggu lalu adalah Consumer Price Index (CPI) AS untuk bulan Desember, yang muncul sesuai dengan yang diperkirakan, turun 0.1% dari bulan November dan naik 1.9% dari tahun lalu. Data inflasi belakangan ini dari seluruh dunia mengarah ke outlook yang melemah mengenai kenaikan harga pada bulan-bulan yang akan datang. Hal ini akan membuat bank sentral-bank sentral di seluruh dunia bersikap kurang “hawkish” atas kebijakan moneter mereka, yang akan menjadi elemen “bullish” bagi pasar metal berharga.

Katherine Judge, ekonomi dari CIBC World Markets, mengatakan bahwa inflasi yang lemah adalah suatu tanda bahwa Federal Reserve tidak harus tergesa-gesa untuk menaikkan tingkat bunga lebih jauh pada tahun ini. Dengan sedikit indikasi bahwa tekanan percepatan di dalam upah atau tarif menyebabkan kenaikan inflasi, the Fed bisa menghentikan kenaikan tingkat bunga pada kuartal pertama untuk mengasses indikator-indikator kesehatan pertumbuhan. Dengan begitu, diperkirakan hanya akan terjadi satu kenaikan tingkat bunga pada tahun 2019, kemungkinan di kuartal kedua.

Wall Street & Main Street

Menurut survey emas dari Kitco News, Wall Street dan Main Street tetap ‘bullish” akan outlook harga emas jangka pendek. Para analis mengutip komentar dari para pembuat kebijakan Federal Reserve yang ditafsirkan “dovish” baru-baru ini, dan juga keprihatinan politik seperti penutupan sebagian dari operasi pemerintah AS.

Dari limabelas professional pasar yang mengambil bagian di dalam survey Wall Street, ada sebelas pemberi suara atau 73% yang memandang harga emas akan naik pada minggu ini. Sementara ada dua suara masing-masihg atau 13% yang melihat harga emas akan turun atau “sideways” pada minggu ini.

Sementara, dari 404 responden yang mengambil bagian di dalam polling online Main Street, sebanyak 230 suara atau 57% memandang emas akan naik minggu ini. 99 suara atau 25% memprediksi emas akan turun. Sisanya 75 suara atau 19% meihata pasar emas “sideways”.

Federal Reserve AS

Phyl Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group, juga tetap “bullish”. “ Kesabaran emas untuk naik terbayar dengan Gubernur Fed Jerome Powell, dan juga anggota Fed lainnya, mengatakan bahwa mereka bisa bersabar untuk menaikkan tingkat bunga. Kesabaran ini telah membuat dolar AS terhenti dan membuat emas kelihatan lebih menarik. Emas juga mendapatkan keuntungan dari pertanyaan geopolitik Brexit dan juga pembicaraan perdagangan AS-Cina dan ancaman dari Fitch bahwa Amerika Serikat bisa ada dalam bahaya kehilangan peringkat kredit AAA jika penutupan operasi pemerintah terus menyeret dan batas hutang dijadikan isu politik.

Sean Lusk, direktur hedging komersial, juga melihat emas akan naik, walaupun dia berhati-hati akan kemungkinan harga emas jatuh, jika penutupan operasi pemerintah AS berakhir dan saham mengalami rally. Namun, sekalipun emas mengalami kemunduran, hal ini dilihat sebagai kesempatan untuk dibeli.

Kepala strategi global TD Securities, Bart Melek memberitahukan kepada Kitco News pada hari Jumat minggu lalu, bahwa Fed yang lebih “dovish” adalah tanda yang baik buat emas. Melek mencatat bahwa data makro adalah apa yang investor harus perhatikan di dalam jangka pendek.

Menurut Managing Director RBC Wealth Management George Gero, hanya soal waktu bagi emas untuk menembus level $1,300 dan naik lebih tinggi lagi. Kenyataannya angka emas berjangka bulan Juni dan Agustus sudah lebih dari $1,300 per ons.

Volatilitas Pasar

Sementara itu analis emas Anna Golubova menulis untuk Kitco News, bahwa harga emas diperkirakan kembali mendapatkan pijakannya minggu ini, dengan volatilitas di pasar membuat metal kuning menjadi lebih disukai.

Setiap tambahan volatilitas di pasar adalah suatu yang memicu emas, kata Christopher Louney ahli strategi komoditi di RBC Capital Markets, menunjuk kepada pembicaraan perdagangan AS-Cina dan penutupan operasi pemerintah AS yang mungkin bisa menjadi penggerak.

Dalam jangka panjang, tidak jelas bagaimana situasi AS-Cina akan bisa diselesaikan, kata Strachan. “Kita telah melihat kemajuan-kemajuan belakangan ini, tetapi itu masih jauh dari kejelasan bagaimana tepatnya hal itu bisa selesai dan hal ini bisa menguntungkan emas,” katanya.

Penutupan sebagian operasi pemerintah AS akan menjadi rekor yang terpanjang, berlangsung lebih dari 21 hari dan hal itu juga bisa menjadi pemicu yang potensial untuk lebih banyak volatilitas kati Louney.

Ross Strachan ekonom komoditi senior dari Capital Economics mengatakan bahwa volatilitas di pasar saham dan imbal hasil obligasi juga terus memberikan dukungan terhadap emas. Capital Economics baru-baru ini menaikkan target akhir tahunnya menjadi $1,350 per ons.

Rohit Savant, direktur riset dari CPM Group, mengatakan,”harga emas diperkirakan naik minggu ini. Volatilitas pasar saham, penutupan operasi pemerintah AS yang berkelanjutan, dan kekuatan musiman akan membuat harga emas tetap naik.”

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here