Ekonomi Indonesia : Ranking 4 Dunia di Tahun 2030

2519

(Vibizmedia – Economy) – Penghargaan dan apresiasi internasional terhadap kinerja ekonomi dan pemerintahan Indonesia saat ini terus mengalir. Kabar baik terbaru muncul lagi untuk prediksi ekonomi Indonesia di tahun 2030. Adalah Standard Chartered Plc, lembaga jasa keuangan global yang berbasis di Inggris, yang merilis prediksi jangka panjang baru, yang memproyeksikan Indonesia akan masuk dalam jajaran empat besar ekonomi teratas di dunia pada tahun 2030.

Setiap tahun, Standard Chartered merilis peringkat 10 negara ekonomi terbesar di dunia dan mendapati bahwa China kemungkinan akan menduduki posisi teratas dalam waktu satu dekade. Sementara Amerika akan tergeser di posisi yang ketiga, demikian dilansir dari FoxBusiness hari ini (10/01).

Dalam riset ini dinyatakan bahwa tujuh dari sepuluh ekonomi top dunia satu dasawarsa mendatang merupakan kelompok negara berkembang hari ini. Disebutkan bahwa negara India siap menjadi lebih besar dari AS pada saat itu, sementara Indonesia akan berada di belakang AS sebagai ekonomi terbesar keempat di dunia.

Lembaga keuangan ini memproyeksikan pertumbuhan PDB India akan meningkat menjadi 7,8 persen di tahun 2020, sementara China akan melambat di sekitar 5 persen pada tahun 2030, sebagai suatu perlambatan alami mengingat ukurannya yang besar.

Berikut adalah estimasi Standard Chartered mengenai 10 ekonomi teratas di dunia tahun 2030, berdasarkan nominal PDB yang menggunakan nilai tukar purchasing power parities (dalam triliunan dolar):

  1. China $ 64.
  2. India $ 46,3
  3. S. $ 31,0
  4. Indonesia $ 10.1
  5. Turki $ 9.1
  6. Brasil $ 8,6
  7. Mesir $ 8,2
  8. Rusia $ 7,9
  9. Jepang $ 7.2
  10. Jerman $ 6,9

Mengapa Indonesia digadang-gadang sehebat itu ?

Dukungan Fundamental Ekonomi

Fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat dan dikelola secara hati-hati (prudent), dimana kita bisa melihat bahwa pertumbuhan ekonomi kwartal 3 tahun 2018 meningkat 5,17%, sementara inflasi masih dalam tahap rendah sebesar 3,1% pada bulan Oktober 2018.

Demikian juga tingkat pengangguran turun 5,34% pada Agustus 2018 dan disertai juga menurunnya tingkat kemiskinan sebesar 9,82% pada Maret 2018.

Selain itu di sektor perbankan mengalami pertumbuhan kredit perbankan sebesar 13,35% year on year (yoy), dan dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan bertumbuh 7,60% (yoy). Pertumbuhan kredit ini tetap menjaga rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross perbankan sebesar 2,65%.

Sementara permodalan juga relative sehat dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 23,09%.

Kita lihat bahwa pemerintah berusaha mengelola ekonomi secara  prudent, sekalipun masih ada sisi kelemahan ekonomi Indonesia yaitu defisit fiskal, defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.

Di samping itu masih ada tantangan global yang dihadapi ekonomi Indonesia yaitu suku bunga yang cenderung meningkat akibat meningkatnya suku bunga The Fed, ancaman Capital Outflow, ketidakpastian pasar uang juga efek perang dagang AS – China.

Dukungan Infrastruktur

Pemerintah Indonesia dalam 4 tahun terakhir ini gencar meletakkan landasan pembangunan infrastruktur.

  1. Infrastruktur Transportasi untuk meningkatkan konektivitas dan merangsang daya saing antar daerah di seluruh Indonesia. Dimana dengan pembangunan ini diharapkan sekitar 5 tahun berikutnya akan terlihat hasil pembangunan infrastruktur dalam hal mobilitas masyarakat, distribusi barang dan jasa juga pemerataan pembangunan. Pembangunan infrastruktur yang dikerjakan diantaranya :
    • Jalan dan Jembatan : Jalan 3.432 km, Jalan tol 947 km, Jembatan 39,8 km, Jembatan gantung 134 unit.
    • Kereta Api : Jalur kereta api, termasuk jalur ganda dan reaktivasi 754.59 km, Peningkatan dan rehabilitasi jalur kereta api 413,6 km, Light Rail Transit di Sumatera Selatan, Light Rail Transit di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, yang selesai pada 2019, Mass Rapid Transit juga selesai tahun 2019.
    • Bandar Udara : 10 bandar udara baru (Miangas, Letung, Tebeliang, Maratua, Morowali, Namniwel, Weru dan Koroway Batu), Revitalisasi dan pengembangan 408 bandara.
    • Pelabuhan : 19 pelabuhan baru, 8 pelabuhan dalam proses pembangunan, dengan target peningkatan kapasitas pengangkutan barang dari 16,7 juta TEUs per tahun pada 2014 menjadi 19,7 juta TEUs per tahun pada 2017.
  2. Infrastruktur Pendukung Ketahanan Pangan untuk meningkatkan ketersediaan pangan yang bersumber dari peningkatan produksi dalam negeri.
    • Bendungan : 65 bendungan di seluruh Indonesia dengan kapasitas tampung sebesar 2,11 miliar meter kubik
    • Embung : Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 846 embung, Kementerian Pertanian berhasil membangun 2.348 embung, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi juga membangun 1.927 embung.
  3. Infrastruktur Telekomunikasi peningkatan jaringan antar daerah untuk meningkatkan akses komunikasi dan tehnologi.
    • Indonesia bagian barat, dari total 2.275 kilometer jaringan, telah dibangun  74%.
    • Indonesia bagian tengah, dari total 2.995 kilometer jaringan, telah dibangun 35%.
    • Indonesia bagian timur, dari total 6.878 kilometer jaringan, telah dibangun 18%.
    • Juga pemerintah meningkatkan jaringan komunikasi ke daerah-daerah terpencil dan perbatasan.

Dukungan Budaya Pluralitas

Stabilitas sosial di negara Indonesia yang terjadi dengan dasar-dasar budaya yang menjunjung tinggi kekuatan pluralitas berupa toleransi dan kohesi sosial yang dipayungi dengan falsafah Pancasila membuat keberlanjutan berbangsa terus berlangsung.

Masalah konflik yang terjadi di negara-negara krisis sosial mampu terhindar dari Indonesia karena budaya pluralitas tersebut mampu menghasilkan stabilitas dan produktifitas yang diharapkan menjadi kekuatan sampai dengan 2030.

Makin berkembangnya dukungan infrastruktur yang mendukung peningkatan konektivitas juga akan berpengaruh positif pada pembangunan budaya pluralitas di negeri ini.

Dukungan Bonus Demografi

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengeluarkan data bahwa pada 2030-2040 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Dimana jumlah penduduk usia produktif (15 – 64 tahun) akan melebihi jumlah penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Sumber: Jaringan Pemberitaan Pemerintah

Diperkirakan Jumlah penduduk usia produktif akan mencapai 70% dari total populasi pada periode tersebut dengan jumlah mencapai 297 juta jiwa.  Pada tahun 2030 diestimasi angka ketergantungan (dependency ratio) akan mencapai titik terendah yaitu 46,9%, rasio ini menunjukkan berapa banyak beban penduduk usia non produktif (bukan tenaga kerja) yang harus ditanggung oleh seorang penduduk produktif (tenaga kerja).

Untuk menghadapi bonus demografi ini maka pemerintah Indonesia berusaha menaikkan rasio pembukaan lapangan kerja yang sekarang sebesar 13% untuk lebih meningkat lagi. Demikian juga pemerintah mendorong usia produktif untuk berwirausaha dan memasuki bidang-bidang industri kreatif.

Roda Menggelinding di Tanjakan

Agar ekonomi terus bertumbuh dan bahkan melejit di tengah tantangan domestik dan global bagaikan roda yang terus menggelinding di tanjakan, diperlukan beberapa faktor keberhasilan seperti perlunya :

  1. Dorongan ekonomi yang cukup kuat
  2. Berkelanjutan
  3. Stabil
  4. Mampu melewati tantangan

Dorongan akan kuat apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa bertahan di atas 5% per tahun, selama ekonomi bertumbuh maka daya beli masyarakat akan bertambah.

Pertumbuhan tersebut berkelanjutan apabila daya beli masyarakat terus mampu menyerap output dari hasil-hasil produksi yang dihasilkan, sehingga proses produksi akan terus berlangsung.

Proses ini akan terus stabil berlangsung dengan asumsi tidak ada goncangan sosial yang menghentikan proses tersebut. Pembangunan akan tergoncang kalau terjadi konflik sosial, namun pembangunan budaya pluralis yang dipayungi dengan Pancasila diharapkan mampu memberikan iklim yang memberi kesejukan sosial dan meredam potensi konflik yang terjadi di Indonesia.

Dengan hadirnya bonus demografi, hal ini menjadi potensi lompatan atau sebaliknya benturan bila tidak diantisipasi dengan benar. Apabila dari sekarang pengembangan sumber daya manusia diarahkan untuk mampu berwirausaha dan menekuni bidang-bidang industri kreatif, maka tantangan keterbatasan lapangan kerja yang menjadi potensi benturan diharapkan bisa diatasi oleh kreatifitas yang timbul dari masyarakat.

Apabila faktor-faktor keberhasilan tersebut berjalan, tidak heran bila Indonesia digadang-gadang akan menduduki urutan ke-4 negara dengan nomimal PDB terbesar pada tahun 2030.

Sukses bagi Indonesia !

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here