Review Forex 21/01: Data China dan IMF Tekan Keuntungan Forex

483

(Vibiznews – Forex) – Mengakhiri perdagangan forex awal pekan hari Senin (21/01) yang berakhir semalam menunjukkan buruknya data ekonomi China memberikan kemenangan tipis rival-rival dolar. Bersamaan tutupnya pasar keuangan Amerika oleh libur publik mereka, dolar ditutup lebih rendah dari perdagangan akhir pekan lalu.

Pada sesi Asia awal pekan, pemerintah China mengeluarkan laporan beberapa indikator kondisi ekonomi makro negeri tersebut yang mengecewakan pasar sehingga membuat sentimen perdagangan beralih kepada safe haven dan menekan dolar AS.

Data yang dikeluarkan oleh Biro Statistik Nasional China menunjukkan ekonomi negara besar tersebut berkembang pada laju terlemah dalam hampir tiga dekade pada tahun 2018 ketika perang perdagangan dengan AS merusak aktivitas bisnis dan sentimen. Pertumbuhan ekonomi setahun penuh melambat menjadi 6,6% pada tahun 2018, yang merupakan laju ekspansi terlemah sejak 1990.

Kemudian tingkat pertumbuhan melebihi target pemerintah sekitar 6,5% dan sesuai dengan harapan para ekonom. Namun badan tersebut telah merevisi turun angka pertumbuhan 2017 menjadi 6,8% dari 6,9% akhir pekan lalu.

Produk domestik bruto China tumbuh 6,4% y/y pada kuartal keempat 2018, yang lebih lambat dari ekspansi 6,5% dalam tiga bulan sebelumnya. Tingkat pertumbuhan ini merupakan yang terlemah sejak krisis keuangan global pada 2009. Ekonomi tumbuh 6,8% pada kuartal pertama dan 6,7% dalam tiga bulan hingga Juni.

Selain itu Statistik China umumkan data produksi industri yang tumbuh 5,7% y/y di bulan Desember, mengalahkan ekspektasi untuk kenaikan 5,3%. Disusul data penjualan ritel naik 8,2% dari tahun lalu, melebihi perkiraan untuk kenaikan 8,1%. Kemudian ada data yang miring yaitu data investasi aset tetap tumbuh 5,9 persen y/y, yang sedikit lebih lambat dari yang diprediksi sebelumnya di 6 persen.

Sentimen buruknya data ekonomi China tersebut dikonfirmasi kemudian oleh laporan IMF atau Dana Moneter Internasional yang  memperingatkan bahwa ekonomi dunia sedang melambat dan mengatakan bahwa akan semakin buruk jika negara-negara terus bertengkar karena perdagangan. Selain itu badan ini telah menurunkan estimasi pertumbuhan pada 2019 sebesar 0,2 poin persentase menjadi 3,5%, revisi ke bawah kedua, kali ini karena kelemahan di Jerman dan Turki.

Tetapi laporan baru itu menjelaskan bahwa risiko terbesar yang diketahui terhadap pertumbuhan adalah perang dagang yang belum terselesaikan antara Amerika Serikat dan Cina, dan kemungkinan Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

 

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here