Kondisi Forex Awal Sesi Asia 28/01: Dolar AS Masih Terperosok

484

(Vibiznews – Index) – Memulai perdagangan forex sesi Asia awal pekan hari Senin (28/01) posisi dolar AS terhadap banyak rival utamanya masih lemah melanjutkan perdagangan akhir pekan lalu. Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap rival utamanya terpantau dibuka lebih rendah dari penutupan akhir pekan lalu.

Dolar AS melemah akhir pekan lalu oleh spekulasi pasar bahwa Federal Reserve kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan komite kebijakan (FOMC) pekan ini. Setelah menaikkan suku bunga sebanyak empat kali tahun lalu, bank sentral Amerika sudah mengumumkan sebelumnya ada dua kenaikan lagi pada 2019. Namun komentar selanjutnya dari beberapa pejabat Fed menyarankan kemungkinan jeda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Melihat kondisi fundamental rivalnya, euro akhir pekan lalu bangkit dan naik sekitar 1% dari posisi sebelumnya yang anjlok ke posisi terendah dalam 7 pekan  setelah Presiden ECB Mario Draghi mengatakan ekonomi zona euro mungkin melihat penurunan yang nyata dalam waktu dekat.

Untuk poundsterling juga alami penguatan 1,05% terhadap dolar AS dari perdagangan sebelumnya yang retreat di tengah laporan media bahwa UU kesepakatan Brexit Perdana Menteri Theresa May mungkin mendapat dukungan bersyarat dari Partai Serikat Buruh Demokratik Irlandia Utara.

Terhadap yen dalam pair USDJPY, yen menguat  tipis setelah perdagangan sebelumnya melemah oleh sentimen kuatnya perdagangan aset beresiko serta laporan tingkat maufaktur Tokyo yang mengecewakan.

Terhadap mata uang Australia – aussie, dolar AS anjlok setelah perdagangan sebelumnya aussie terjun ke posisi terendah dalam 3 pekan oleh berkembangnya ekspektasi pemangkasan RBA rate pasca kenaikan suku bunga hipotek oleh National Bank of Australia (NAB) kemarin. Karena pasar beranggapan  bahwa kenaikan hipotek suku bunga variabel kemungkinan akan menekankan perlambatan pasar perumahan yang memaksa RBA untuk menurunkan suku bunga.

Indeks dolar  yang mengukur kinerja mata uang terhadap enam mata uang utama, terlihat di posisi  95,76 atau anjlok sekitar 0,03 persen dari perdagangan akhir pekan lalu yang ditutup pada posisi 95.81.

Selain prospek jeda kenaikan suku bunga, berlarutnya kekhawatiran tentang masalah perdagangan AS-Cina dan penutupan sebagian pemerintah di AS yang memasuki hari ke-35, membebani dolar dan mendorong para pedagang untuk mencari tempat yang aman dari logam emas. Harga emas melonjak sekitar 1,5% akhir pekan lalu, yang  bergerak melewati posisi $1.300 per troy ons ke level terbaiknya sejak pertengahan Juni 2018.

 

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here