Monitor Semua Aspek, KSSK: Sistem Keuangan Indonesia dalam Kondisi Normal

359

(Vibiznews – Economy) – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang terdiri dari sejumlah pejabat lintas instansi, kembali mengadakan rapat regular semalam. Hasil pertemuan menyimpulkan bahwa sistem keuangan di Indonesia dalam keadaan normal dan berjalan dengan baik.

Rapat berkala ini dihadiri oleh seluruh anggota KSSK yang terdiri atas para pejabat tinggi di lingkungan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

KSSK disebutkan telah memantau sejumlah aspek sistem keuangan di dalam negeri, mulai dari perkembangan ekonomi, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan hingga penjaminan simpanan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, dari keseluruhan aspek yang dilihat KSSK, menunjukkan sistem keuangan kita dalam kondisi normal dan berjalan baik, demikian dijelaskan kepada media hari ini (29/01).

KSSK diterangkan telah mempertimbangkan berbagai faktor risiko, termasuk dampak pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia, kebijakan ekonomi dari Amerika, perlambatan ekonomi China, perang dagang serta kesiapan sistem keuangan RI menghadapi sejumlah risiko yang ada.

Menteri Keuangan menambahkan tentang sistem keuangan yang normal dapat terlihat dari kinerja APBN dan sektor jasa keuangan di tahun 2018. Pendapatan pemerintah tembus 102,5% dari target dan belanja negara 99,17% dari pagu. Sedangkan, tigkat inflasi terjaga di level rendah yakni 2,5%, serta defisit APBN 1,76% terhadap PDB atau berada di bawah target.

Selanjutnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan mengenai kinerja intermediasi keuangan yang mencatat perkembangan positif. Hal itu terlihat di antaranya dari laju pertumbuhan kredit tahun 2018 sebesar 11,7% dan intermediasi perusahaan pembiayaan yang tumbuh 5,17%. Sementara itu, volatilitas di pasar modal pada kuartal IV disebut sudah mereda, dan terpantau investor nonresiden mencatatkan net buy di pasar saham dan SBN masing-masing sebesar Rp 400 miliar dan Rp 42,37 triliun.

Analis Vibiznews melihat kestabilan dan normalnya sistem keuangan dalam negeri memang sudah berjalan dengan demikian baik. Bahkan, di tengah gejolak perekonomian dan pasar keuangan global yang terjadi, sistem keuangan Indonesia menunjukkan kekuatan daya tahannya. Rupiah yang sempat terhantam di sekitar September Oktober lalu, dengan cepat kemudian mengalami rebound, dan di awal 2019 menjadi mata uang terkuat di Asia, bahkan terkuat kedua di dunia.

Prestasi kinerja ekonomi lainnya sudah kerap disampaikan juga, yaitu penurunan tingkat kemiskinan ke level terendah dalam sejarah, serta berkurangnya tingkat ketimpangan distribusi ekonomi secara konsisten sejak Presiden Jokowi memegang kendali pemerintahan. Patut dicatat, prestasi-prestasi ini terjadi di tengah sejumlah negara tetangga sampai negara maju sedang tidak stabil sistem keuangannya. Misalnya: Malaysia yang terancam bangkrut karena utang luar negerinya; Singapura yang lesu pertumbuhannya; China yang merosot terus kinerja industri dan perdagangannya, dan pertumbuhan ekonomi bercokol di level 28 tahun terendahnya; juga, Amerika yang cenderung suram prospek ekonominya.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here