Pesan dari WEF Davos: Waspadai Resesi yang Ditimbulkan Sendiri

416

(Vibiznews – Economy) – Acara tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos baru saja berakhir pekan lalu. Para pembuat keputusan dan pemimpin bisnis global yang menghadiri forum Davos mengingatkan adanya risiko yang dapat memicu resesi yang ditimbulkan sendiri (self-inflicted recession) jika pesimisme dari permasalahan ekonomi atau politik terus berkembang.

Melalui serangkaian wawancara, dalam konferensi lima hari tersebut, didapati bahwa pesan utama dari World Economic Forum minggu lalu adalah ekonomi dunia melambat dan risiko politik sedang bertumbuh. Tetapi mengingat pertumbuhan masih ada, para pengambil keputusan harus tetap berkepala dingin agar tidak tersandung dan jatuh ke dalam lubang, demikian dilansir dari EURACTIV.com (29/01).

Sejumlah tantangan yang lebih dikhawatirkan dalam jangka panjang adalah: perubahan iklim, revolusi digital, dan penuaan populasi. Itu sejumlah isyu yang berada di urutan teratas.

Masing-masing tantangan ini, dengan berjalannya waktu, disebutkan akan semakin meningkatkan ketidakseimbangan antar regional, negara, dan bahkan generasi, yang akan semakin mempersulit pengaturan arah ekonomi yang lebih inklusif dan ‘hijau’.

Sementara itu, survei terbaru yang dirilis oleh PwC di WEF Davos, menunjukkan pesimisme para CEO dunia terhadap pertumbuhan ekonomi naik secara signifikan pada tahun 2018, dengan hampir 30 persen CEO mengatakan mereka prediksikan penurunan pertumbuhan ekonomi global di tahun 2019.

Global Chairman PwC, Bob Moritz, di antaranya merekomendasikan perusahaan dan pemerintah untuk fokus pada eksekusi agar benar-benar mengubah risiko menjadi peluang. Selanjutnya, Moritz mengatakan kepada EURACTIV, “Apa yang kita lihat adalah ekonomi yang melambat, bukan ekonomi yang membawa bencana catastrophic, atau ekonomi yang mengalami resesi per se.”

Para peserta konferensi meyakini bila tingkat kepercayaan jatuh, permintaan domestik juga akan mengalami kemunduran serius, karena inilah pendorong utama pertumbuhan dewasa ini di tengah konteks perang dagang yang sedang berlangsung.

Untuk alasan itu, para peserta Davos menolak pandangan datangnya bencana (catastrophic) sebelum itu menyebar sebagai virus berbahaya.

Seorang pejabat senior bank sentral Eropa mewaspadai tentang risiko resesi ‘yang ditimbulkan sendiri’ (self-inflicted recession). Dia mengatakan bahwa pesimisme pasar tidak mencerminkan realitas ekonomi. Karena itu, ECB menekankan bahwa perekonomian masih sehat bahkan jika risikonya meningkat.

Chief economist Citibank, Catherine Mann, melihat risiko yang sama. Dia mengatakan kepada wartawan bahwa pasar harus melihat pada level data historis ketimbang indikator jangka pendek.

Catherine Mann, kemudian, merekomendasikan pasar untuk melihat data yang mengkonfirmasi adanya pertumbuhan (ekonomi) yang berkelanjutan, dan mengatakan kepada para pembuat keputusan untuk menghindari kesalahan, seperti perang dagang, demikian dikutip dari EURACTIV.com (29/01).

Analis Vibiznews melihat bahwa prediksi dan kalkulasi yang ilmiah pun telah menunjukkan arah pelambatan ekonomi global di tahun ini. Namun demikian, sikap para pemimpin bisnis global di Davos yang sepakat untuk tetap optimis patut diapresiasi. Pandangan bahwa pesimisme akan mendatangkan bencana ekonomi, dalam bentuk resesi, itu ada benarnya. Oleh sebab itu, sebagai pemimpin bisnis dan industri harus tetap optimis apapun tantangannya.

Di Indonesia, kita tahu, seorang pemimpin yang punya sikap optimis demikian, di tengah berbagai tantangan, keraguan, dan bahkan fitnah, adalah Presiden Jokowi. Selalu optimis. Dan optimisme itu yang terus disebarluaskan di banyak kesempatan.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here